Air Hujan Jadi Kambing Hitam Penyebab Kerusakan Jalan, ARM Nilai Dirjen Bina Marga Arie Setiadi Moerwanto Terlalu Membela PT Seneca Indonesia
Senin, 02 April 2018 | 4 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 193 kali
Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur yang dikerjakan PT Seneca Indonesia, kini sudah rusak dengan terjadinya amblas pada bahu jalan dan retakan badan jalan serta amblas dinding penahan tanah. (foto: medikomonline.com)

BANDUNG, Medikomonline.com – Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Arie Setiadi Moerwanto mengatakan, kerusakan ruas Jalan Cidaun-Bts. Bandung/Cianjur di Km 206+300 yang terjadi penurunan bahu jalan sebelah kanan (dekat pekerjaan sheet pile) disebabkan adanya infiltarasi air yang masuk bahu jalan dan menyebabkan terjadinya penurunan tanah sedalam 10 cm. Akan tetapi, penurunan jalan tidak sampai terjadi longsor pada tanah tersebut karena telah ditahan dengan turap baja (pile sheet).

Penjelasan ini disampaikan Dirjen Bina Marga Arie Setiadi Moerwanto menanggapi buruknya kualitas konstruksi jalan Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur yang dikerjakan kontraktor PT Seneca Indonesia dengan anggaran Rp46,3 miliar pada  tahun 2017.  Proyek pekerjaan ini berada di bawah Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Jabar, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI Jakarta, Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR. Buruknya kualitas konstruksi pekerjaan PT Seneca Indonesia terus mendapat sorotan masyarakat, salah satunya Konsorsium Aliansi Rakyat Menggugat.

Dalam penjelasannya, Arie Setiadi Moerwanto menguraikan, pada bulan November 2017 curah hujan pada ruas Jalan Tegalbuleud-Cidaun-Bts Bandung/Cianjur cukup tinggi sehingga mengakibatkan kerusakan jalan pada beberapa titik, antara lain Km 197+600 ruas Jalan Tegalbuleud-Sindangbarang  (ruas penanganan pemeliharaan rutin jalan), Km 206+300 ruas Jalan Cidaun-Bts. Bandung/Cianjur (segemen 6 ruas penanganan efektif) dan Km 174+450 ruas Jalan Sindangbarang-Cidaun (segmen 4 ruas penanganan efektif).

Ditambahkan Dirjen Bina Marga, Ruas Jalan Cidaun-Bts. Bandung/Cianjur (Km 206+300) merupakan ruas penanganan pelebaran jalan segmen 6 (ruas penanganan efektif) pada paket pekerjaan Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur dengan lingkup pekerjaan pelebaran jalan menuju standar (7 meter) sebelah kiri dan pemasangan turap baja (sheet pile) sepanjang 75 meter sebelah kanan untuk menahan pergerakan tanah (longsor) di lokasi tersebut dan telah dilaksanakan sesuai gambar rencana.

“PPK telah menginstruksikan kontraktor (PT Seneca Indonesia) untuk segera melakukan perbaikan terhadap kerusakan jalan yang masih menjadi tanggung jawab kontraktor dengan penanganan sementara lonsoran  di lokasi penanganan rutin jalan, mengidentifikasi kerusakan dan segera memperbaiki kerusakan di ruas penanganan efektif dan mengidentifikasi lokasi yang rawan bencana/longsor di ruas Jalan Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur,” kata Arie Setiadi Moerwanto dalam keterangannya tertanggal 20 Maret 2018.

Atas instruski PPK ini lanjut Arie, kontraktor PT Seneca Indonesia telah melakukan perbaikan kerusakan, termasuk pada Km 206+300 dan berdasarkan laporan PPK di lapangan per Maret 2018 tidak terdapat kerusakan atau penurunan bahu jalan dan penurunan dinding penahan tanah  telah dipasang.      

Terkait penjelasan Dirjen Bina Marga Arie Setiadi Moerwanto ini, Ketua Umum Konsorsium Aliansi Rakyat Menggugat (ARM) Furqon Mujahid Bangun mengatakan kepada Medikom di Bandung, Jumat (30/3), jika memang Dirjen Bina Marga menemukan infiltrasi air hujan yang menyebabkan kerusakan jalan ruas Jalan Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur berupa retakan badan jalan dan penurunan bahu jalan serta longsoran dinding penahan tanah, ARM menilai Dirjen Bina Marga tidak objektif.

“Soalnya pada titik retakan badan jalan dan penurunan bahu jalan serta longsoran dinding penahan tanah jutsru telah dibangun turap baja agar bisa menjadi penahan tanah dan badan jalan. Artinya, kualitas konstruksi turap baja yang dibanguna PT Seneca Indonesia tidak kokoh menahan tanah dan badan jalan sehingga akibat infiltrasi air hujan pun terjadi retakan badan jalan dan penurunan bahu jalan serta longsoran dinding penahan tanah,” kata Mujahid.

Lanjut Mujahid menegaskan, ARM menilai Dirjen Bina Marga justru menjadikan air hujan sebagai kambing hitam penyebab kerusakan jalan ruas Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur. ARM  sangat menyayangkan air hujan yang dijadikan kambing hitam oleh Dirjen Bina Marga sebagai penyebab kerusakan jalan senilai Rp46,3 miliar ini,

“Berdasarkan pengamatan kami di lapangan (Km 206+300), dinding penahan tanah yang dibangun dengan turap baja harusnya dilengkapi sistem drainase. Namun faktanya di lapangan, dinding penahan tanah yang dibangun di bawah permukaan jalan dalam pekerjaan Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tidak ditemukan drainase pada dinding penahan tanah. Kemudian pada sisi kiri dan kanan badan jalan juga tidak ada dibangun drainase sebagai saluran pembuangan air,” ujar  Mujahid yang sejak tahun 2014 rajin memantau proyek Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Jabar, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI Jakarta, Direktorat Jenderal Bina Marga di Jabar selatan.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat kata Mujahid, ARM  melihat Dirjen Bina Marga Arie Setiadi Moerwanto terlalu membela kepentingan kontraktor PT Seneca Indonesia dalam mengungkap penyebab terjadinya kerusakan ruas jalan proyek Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tahun 2017. “Ada apa kepentingan Dirjen Bina Marga Arie Setiadi Moerwanto terlalu membela kepentingan kontraktor PT Seneca Indonesia,” tanya Mujahid terheran.

“Sesuai tanggapan yang kami terima, dalam isi surat tersebut kami menemukan adanya dugaan upaya untuk menutup-nutupi realitas yang ada di lapangan. Bahkan kami juga menerima foto upaya perbaikan jalan yang dilakukan oleh pihak PT Seneca Indonesia. Dalam foto kondisional yang kami terima dalam upaya perbaikan itu terkesan sangat asal-asalan sekali. Jalan yang rusak dan mengalami retakan panjang tersebut hanya dipoles dengan adukan semen. Itupun terkesan asal-asalan,” urai Mujahid lagi.

Merujuk pada keterangan Dirjen Bina Marga di atas, Mujahid dengan berapi-api mengatakan, ”Kami akan menyurati Bapak Presiden RI, Bapak Menteri PUPR, Ketua DPR-RI juga instansi terkait lainnya agar temuan kami tersebut bisa segera disikapi. Bila perlu kami mendesak kepada Presiden melalui Menteri PUPR agar segera mengganti Dirjen Bina Marga pada Kementerian PUPR sebab kami curiga ada kongkalikong di balik proyek tersebut dengan oknum pada Dirjen Bina Marga PUPR.”

“Selanjutnya kami juga mendesak kepada ULP pada Kementerian PUPR agar mem-blacklist pihak ketiga dalam hal ini PT. Seneca Indonesia yang kami nilai telah gagal merealisasikan program pemerintah pada proyek paket preservasi dimaksud. Kami juga mendesak agar (ULP) menganulir keikutsertaannya dalam lelang TA 2018,” imbau Mujahid.

 

PT Seneca Indonesia merajai proyek jalan Ditjen Bina Marga di Jabar

Kontraktor PT. Seneca Indonesia merajai proyek jalan Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di wilayah Provinsi Jabar. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya paket proyek jalan Ditjen Bina Marga yang dimenangkan dan dilaksanakan oleh PT. Seneca Indonesia di Jabar.

Meskipun secara kuantitas paket proyek jalan yang dimenangkan PT. Seneca Indonesia jumlahnya banyak, namun Furqon Mujahid Bangun sangat menyayangkan karena proyek jalan yang dilaksanakan PT. Seneca Indonesia kualitasnya buruk. Salah satunya paket Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tahun 2017. 

Dikatakan Mujahid, meskipun proyek ini dikerjakan baru pada tahun 2017 lalu, namun berdasarkan pantauan ke lokasi proyek di awal Januari 2018 lalu, pekerjaan jalan tersebut telah rusak. “Dinding penahan tanah amblas, sedangkan badan jalan mengalami retakan dan penurunan bahu jalan,” kata Mujahid.

“Berdasarkan pengamatan kami selama ini di lapangan, kontraktor PT Seneca Indonesia selalu memenangkan sejumlah paket pekerjaan Ditjen Bina Marga yang lebih  atau paling banyak dibanding dengan kontraktor lain di wilayah Provinsi Jawa Barat,” ujar Mujahid lagi. Berdasarkan pantauan ARM di lapangan, berikut ini rincian proyek jalan Ditjen Bina Marga yang dimenangkan dan dilaksanakan  PT. Seneca Indonesia.

 

No

Paket Tahun Anggaran 2017

Nilai Kontrak (Rp)

1

Paket Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur

46.366.534.441

2

Paket Preservasi Pelebaran Cidaun - Cijayana - Cipatujah

49.843.646.765

3

Preservasi Rekonstruksi Jalan Cikampek - Subang - Pamanukan

67.893.743.043

4

Paket Preservasi Rajamandala-Cimahi-Bandung

49.061.943.809

 

 

 

 

Paket Tahun Anggaran 2016

Nilai Kontrak (Rp)

5

Preservasi Rekonstruksi Jalan Karawang-Purwakarta-Pamanukan

65.872.327.180

6

Preservasi Rehabilitasi Mayor Jalan Pamanukan - Lohbener - Palimanan

48.841.455.954

 

 

 

 

Paket Tahun Anggaran 2015

Nilai Kontrak (Rp)

7

Paket Peningkatan Struktur / Rekonstruksi Jalan Bts. Kota Karawang - Bts. Kota Cikampek - Bts. Kab. Subang / Karawang

58.232.292.448

8

Paket Peningkatan Struktur / Rekonstruksi Jalan Bts. Kota Pamanukan - Sewo - Lohbener

48.093.440.499

9

Paket Tegalbuleud (Cibuni) - Agrabinta - Sindangbarang (PA 1)

56.079.999.792

 

 

 

 

Paket Tahun Anggaran 2014

Nilai Kontrak (Rp)

10

Paket Peningkatan Struktur / Rekonstruksi Jalan Pangkal Perjuangan (Karawang)

41.300.000.000

11

Paket Peningkatan Struktur / Rekonstruksi Jalan Bts. Kota Pamanukan - Sewo

34.100.138.108

12

Paket Peningkatan Struktur / Rekonstruksi Jalan Sewo - Patrol

42.707.844.251

13

Paket Rekonstruksi / Peningkatan Struktur Jalan Cijayana - SP. Cilauteureun - Pamengpeuk

49.909.486.190

14

Paket Rekonstruksi / Peningkatan Struktur Jalan Bts. Kab Tasikmalaya/Garut - Rajapolah

31.317.488.345

 

ARM Desak ULP tidak menangkan PT Seneca Indonesia di lelang proyek 2018

Melihat kualitas proyek tahun 2017 yang dikerjakan PT Seneca, Mujahid mengatakan, ARM mendesak Kepala Unit Layanan Pengadaan Pusat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU Pera) Ir Sumito atau pun Kelompok Kerja ULP agar tidak memenangkan kontraktor PT Seneca Indonesia pada lelang proyek Kementerian PU Pera tahun 2018 yang saat ini dalam proses lelang.

Desakan ini disampaikan Konsorsium Aliansi Rakyat Menggugat karena buruknya kualitas pekerjaan kontraktor PT Seneca Indonesia pada Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Jabar, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI Jakarta, Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerajan Umum dan Perumahan Rakyat.

Mujahid menegaskan, Konsorsium ARM  sangat menyayangkan buruknya kualitas proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur yang menghabiskan anggaran APBN 2017 sebesar Rp46 miliar.

“Oleh karena itu, kami dari seluruh jajaran  Konsorsium Aliansi Rakyat Menggugat mendesak Ketua Komisi V DPR RI dan anggotanya untuk memangggil Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Jabar Wahyu Budi Wiyono, Kepala Balai Besar Pelasaksanaan Jalan Nasional VI Jakarta Ir Atyanto Busono MT, dan Direktur Utama PT Seneca Indonesia Efferin. Dalam menjalangkan fungsi pengawasannya, Komisi V DPR harus bisa mengungkap penyebab buruknya kualitas proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tersebut,” tegas Mujahid.

Selain itu kata Mujahid yang dikenal sebagai aktivis antikorupsi ini, Konsorsium ARM  juga menyayangkan Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Jabar Wahyu Budi Wiyono dan Kepala Balai Besar Pelasaksanaan Jalan Nasional VI Jakarta Ir Atyanto Busono MT kurang mendukung semangat Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang berkonsentrasi melakukan percepatan pembangunan infrastruktur untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, baik di jangka menengah maupun jangka panjang. “Seharusnya kualitas infrastruktur yang dibangun bagus agar mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” kata Mujahid.

Dijelaskan Mujahid dengan mengutip penjelasan Presiden Jokowi, kondisi infrastruktur Indonesia saat ini masih jauh dari kondisi ideal, bahkan cenderung memburuk. Presiden menunjuk studi dari Bank Dunia dan studi dari Bloomberg McKinsey di 2013,  dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia rata-rata sebesar 70% PDB, stok infrastruktur Indonesia termasuk rendah hanya 38?ri PDB.

“Keseriusan Presiden membangun infrastruktur tampaknya tidak dilaksanakan serius oleh Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Jabar, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI Jakarta, Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerajan Umum dan Perumahan Rakyat,” kata Mujahid dengan merujuk kualitas proyek jalan yang dikerjakan PT Seneca Indonesia buruk.

Mujahid menilai, keberpihakan Presiden Jokowoi dalam mempercepat pembangunan infrastruktur di wilayah Indonesia telah dihianati oleh oknum pejabat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat di Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Jabar, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI Jakarta, Direktorat Jenderal Bina Marga dengan membangun jalan yang berkualitas buruk.

Dengan parahnya kerusakan jalan pada Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur yang menelan anggaran Negara sekitar Rp46,3 miliar ini, Mujahid menegaskan, terjadinya amblas dinding penahan tanah, dan retakan atau penurunan badan jalan tidak terlepas dari lemahnya pengawasan pekerjaan di lapangan.

“Dalam hal ini sangat berpotensi terjadi kerugian Negara sehingga sudah selayaknya dilakukan penyelidikan dan penyidikan kepada Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Jabar dan kontraktor PT Seneca Indonesia untuk memastikan penyebab buruknya hasil pekerjaan proyek tersebut,” ujar Mujahid.

Terkait buruknya hasil pekerjaan PT Seneca Indonesia dalam Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tahun 2017, Medikom mengonfirmasi masalah tersebut kepada Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Jabar. Wahyu Budi Wiyono selaku Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Jabar kepada Medikom menjelaskan, Rabu (28/2),  pihaknya tidak berwenang memberikan informasi terkait Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tersebut.

Budi mengatakan, Medikom harus meminta penjelasan kepada Kepala Balai Besar Pelasaksanaan Jalan Nasional VI Jakarta terkait dengan buruknya hasil pekerjaan PT Seneca Indonesia dalam Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur. Namun hingga saat ini, Kepala Balai Besar Pelasaksanaan Jalan Nasional VI Jakarta Ir Atyanto Busono MT yang dikonfirmasi Medikom sejak tanggal 2 Maret 2018 lalu tidak memberikan penjelasan.

Permasalahan buruknya hasil pekerjaan PT Seneca Indonesia dalam Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tahun 2017 ini justru cepat direspons oleh Kepala Unit Layanan Pengadaan Pusat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Ir Sumito. Kepada Medikom, Selasa (27/2/2018) Sumito menjelaskan, laporan kejanggalan “Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tahun 2017” yang dikonfirmasi Medikom kepada Kepala Unit Layanan Pengadaan Pusat, agar ditujukan kepada Inspektorat Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan disertai dengan bukti-bukti yang kuat untuk dapat ditindaklanjuti lebih kuat.

Sebaliknya, Direktur Utama PT Seneca Indonesia yang dikonfirmasi Medikom tentang buruknya hasil pekerjaan PT Seneca Indonesia dalam Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tahun 2017 ini lambat merespons masalah tersebut. Sejak dikonfimasi pada tanggal 1 Maret 2018, Direktur Utama PT Seneca Indonesia tidak mau memberikan penjelasan kepada Medikom.

Sikap diam Direktur Utama PT Seneca Indonesia dinilai oleh Ketua Umum ARM  Furqon Mujahid Bangun sebagai symbol kekuatan PT Seneca Indonesia yang pada tahun 2017 lalu berhasil memenangkan empat paket proyek Direktorat Jenderal Bina Marga di wilayah Provinsi Jabar dengan total nilai sekitar Rp211 milyar.

(Penulis: IthinK)