Gubernur Bahas Sembilan Proyek Prioritas di Jabar
Jumat, 28 September 2018 | 23 Hari yang lalu | Di baca sebanyak 21 kali
Gubernur Ridwan Kamil, Asda Bidang Perekonomian dan Pembangunan Eddy Nasution, Kadis Perhubungan Jabar Dedi Taufik, dan akademisi Institut Teknologi Bandung Johnny Patta. (Foto: Ist/Hms Jbr)

BANDUNG, Medikomonline.com – Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Jawa Barat menggelar acara press conference yang dikemas santai namun informatif dengan tajuk “Jabar Punya Informasi” (JAPRI) di Taman Barat Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (27/9/2018).

Acara ini berkonsep dialog antara narasumber dengan rekan-rekan media membahas topik tertentu yang sedang hangat diperbincangkan. Dalam gelaran pertama ini, JAPRI membahas seputar sembilan proyek prioritas di bidang infrastruktur transportasi yang akan digenjot Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat selama lima tahun mendatang.

Hadir sebagai narasumber, yaitu Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Asisten Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Jawa Barat Eddy Nasution, Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat Dedi Taufik, serta Akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Johnny Patta.

Dalam paparannya, Emil sapaan akrab Ridwan Kamil mengatakan, tidak akan ada pertumbuhan ekonomi tanpa koneksi. Dalam hal ini infrastruktur transportasi, baik darat, air, ataupun udara menjadi hal penting untuk menumbuhkan konektivitas antarkawasan di suatu daerah.

"Tidak ada pertumbuhan ekonomi tanpa koneksi, itu rumusnya. Semakin banyak koneksi, dalam artian infrastruktur,  semakin pertumbuhan banyak," kata Emil. "Hari ini Jawa Barat masih punya rasio keterkoneksian yang harus dioptimalkan," tambahnya.

Untuk itu, Pemda Provinsi Jawa Barat akan menggenjot pembangunan dan mengembangkan infrastruktur transportasi kawasan. Emil mengatakan ada sembilan proyek prioritas yang akan dibangun, di antaranya:

  1. Reaktivasi empat jalur kereta api, yaitu jalur Bandung - Ciwidey, Rancaekek - Tanjungsari, Banjar - Pangandaran - Cijulang, dan Cibatu - Garut - Cikajang dengan total anggaran mencapai Rp7,9 Triliun.
  2. Perpanjangan runway Bandara Kertajati dari 2.500 meter menjadi 3.000 meter, sehingga bisa didarati pesawat berbadan besar.
  3. Pembuatan road barrier, fasilitas lalu lintas yang berfungsi membuat batas jalan untuk meningkatkan keselamatan berlalu-lintas dengan teknologi silinder yang akan dipasang di titik jalan yang dianggap rawan.
  4. Pembangunan bandar udara baru di Sukabumi untuk mendorong perkembangan kawasan wisata Geopark Ciletuh-Palabuhanratu.
  5. Pembangunan jalur ganda Bogor - Sukabumi, untuk mengurangi kemacetan dengan memindahkan sebagian angkutan barang ke kereta api.
  6. Pembangunan Terminal Parung Kabupaten Bogor, direncanakan sebagai Terminal Tipe B sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bogor dan akan menjadi salah satu simpul transportasi di wilayah perbatasan.
  7. Pembangunan inland waterway Cikarang Bekasi Laut (CBL), alternatif transportasi yang inovatif melalui kanal menuju ke Pelabuhan Tanjung Priok yaitu inland waterway CBL.
  8. Pembangunan jalur khusus angkutan tambang di Parung Panjang, Kabupaten Bogor, merupakan jalur lalu lintas aktivitas sosial ekonomi masyarakat setempat dan merupakan perlintasan penghubung Kabupaten Bogor dan Kabupaten Tangerang.
  9. Pembangunan pelabuhan Patimban di Subang, untuk mendukung kawasan industri di Jabar bagian tengah atau selatan terutama kawasan industri yang berlokasi di kawasan lindung dan jauh dari akses outlet infrastruktur strategis pelabuhan.

Senada dengan Emil, akademisi ITB Johnny Patta mengatakan, ekonomi tanpa konektivitas tidak akan berjalan. Ada empat elemen yang mendukung pertumbuhan ekonomi, yaitu konstruksi, investasi, government spending, dan ekspor-impor.

Menurut Johnny, keempat elemen tersebut tidak akan bergerak tanpa hadirnya konektivitas. "Jadi, betapa pentingnya infrasktruktur untuk konteks ekonomi," tutur Joni.

Joni menambahkan, apa yang dilakukan Emil di awal pemerintahannya ini sudah tepat dengan mempertimbangkan berbagai isu penting yang ada di masyarakat. Selain itu, dalam penyusunan RPJMD pun bisa mempertimbangkan isu yang berkembang di masyarakat.

(Penulis: IthinK)