A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 0

Filename: controllers/Home.php

Line Number: 45

Backtrace:

File: /home/medikomo/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 45
Function: _error_handler

File: /home/medikomo/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

medikomonline.com | Koran Mingguan Medikom
Gubernur Jabar Serahkan 1.012 Unit Traktor Dalam Pencanangan Gerakan Tanam Padi  2018
Rabu, 16 Mei 2018 | 4 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 1 kali
Gubernur Jabar Ahmad Heryawan,  dan Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jabar Hendy Jatnika menanam padi dalam Gerakan Tanam Padi Masa Tanam 2018. (Foto: Ist/Hms Jbr)

BANDUNG, Medikomonline.com - Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan (Aher) mencanangkan Gerakan Tanam Padi Masa Tanam (GTPMT) 2018 Tingkat Provinsi Jawa Barat untuk mempercepat pengolahan lahan dan tanam serta mendukung swasembada pangan. GTPMT 2018 ini dimulai di Poktan Sumber Rejeki II, Desa Ciparay, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Senin (14/05/2018).

Pada pencanangan gerakan tani di Caparay, Gubernur Jabar menyerahkan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) kepada kelompok tani. Traktor roda dua sebanyak 1.012 unit diberikan kepada Kelompok Tani (Poktan) Tani Jaya, Desa Cigentur, Kecamatan Paseh. Pompa air empat inch 865 unit kepada Poktan Sumber Rejeki II Ciparay.

Kemudian hand sprayer elektrik sebanyak 4.325 unit kepada UPT PPP Pacet. Cultivator 144 unit kepada Poktan Sawargi Desa Girimulya Kecamatan Pacet. Lalu, Power Thrasher 259 unit kepada Brigade Alsintan Kabupaten Bandung.

Juga pengembangan budi daya padi 36.345 hektar pada Poktan Mitra Padi Sawah Desa Cikoneng Ciparay. Pengembangan budi daya jagung 60.000 hektar kepada Poktan Barokah Mekarlaksana Ciparay. Pengembangan budi daya kedelai 110.000 hektar pada Poktan Pasir Mundur Mekarlaksana Ciparay.

Bantuan berupa Rice Mailing Unit (RMU) sebanyak dua unit juga diberikan kepada Poktan Paguyuban Bumi Mandiri Pabuaran Subang. Traktor kepada Poktan di Kabupaten Garut, Brigade Alsin Provinsi, dan Kabupaten Kuningan.

Gubernur Jabar mengatakan, lahan tani di Jabar terbagi dua wilayah, yakni utara dan selatan. Selatan antara lain Bandung, Tasikmalaya, Ciamis, Cianjur, dan Sukabumi. Sementara wilayah utara di antaranya Subang, Karawang, Indramayu, Majalengka, Cirebon, dan beberapa daerah lainnya.

Aher menuturkan, sebanyak 80 persen sawah Jabar ada di kawasan utara. Akan tetapi, indeks pertanaman (IP) lebih rendah dari kawasan selatan. IP-nya hanya 1,8 sedangkan kawasan selatan IP-nya mencapai 2,8.

"Maka dalam satu tahun kita targetkan mudah-mudahan panen di Jabar itu ada kenaikan. Kalau kawasan utara naik 2,8 (IP) maka produksi akan naik, selatan pun baiknya naik 3," harapnya.

Peningkatan IP perlu ditempuh, sebagai salah satu strategi dalam peningkatan panen padi. Hal ini pun perlu dibarengi dengan perbaikan sistem irigasi baik untuk wilayah pertanian utara maupun selatan.

Menurut Aher, upaya ini bisa dilakukan dengan mengoptimalkan ketersediaan air di Waduk Jatigede, untuk kawasan utara serta menjaga alam di wilayah selatan. Karena kebanyakan lahan tani di wilayah selatan memanfaatkan air alami dari lingkungan alam sekitar.

"Untuk sumbangsih nasional, kita belum perlu memikirkan sawah baru, belum terlalu perlu. Yang diperlukan irigasi yang bisa mengairi sawah sawah yang ada," ujarnya.

Selain itu, Aher juga sempat menyarankan petani setempat untuk bisa melakukan mina padi ke depannya. Merupakan suatu bentuk usaha tani gabungan (combined farming) yang memanfaatkan genangan air sawah yang tengah ditanami padi sebagai kolam untuk budidaya ikan, sehingga memaksimalkan hasil tanah sawah.

"Mina, berati ikan dan padi. Dengan demikian meningkatkan efisiensi lahan karena satu lahan menjadi sarana untuk budidaya dua komoditas sekaligus," jelasnya.

Sementara Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jabar Hendy Jatnika mengatakan, lahan baku sawah menurut data 2016 dan 2017 ada 926 ribu hektar. Areal tersebut bisa dilakukan penanaman dan panen sampai dua juta hektar, karena ada lahan yang dua kali panen.

Dari ramalan Pusdatin Kementerian Pertanian yang bekerja sama dengan BPS, kata Hendy Jatnika, produksi gabah kering giling sebesar 12,5 juta ton. Sebanyak 65 persen di antaranya merupakan produksi beras.

Berdasarkan angka tersebut, berarti angka produksi beras di Jabar pada 2017 ditaksir sekira 8 juta ton. Setiap tahun Jabar memiliki surplus sebesar tiga juta ton.

Menurut Hendy, kegiatan Gerakan Tanam Padi dilakukan untuk mempercepat tanam padi masa tanam 2018 periode bulan April- September di Jabar.

 

(Penulis: IthinK)