Lurah Cicaheum Pekerja Keras Berhati Emas, Tergolek di Santo Yusuf
Selasa, 22 Agustus 2017 | 10 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 166 kali
Lurah Cicaheum Asep Lukman S.Sos., Lurah “Pekerja Keras Berhati Emas” ini sedang ditemani istrinya Iis di Rumah Sakit Santo Yusuf, pada Jumat petang (18-8).

BANDUNG, Medikomonline.com - Pelayanan terhadap masyarakat di Kelurahan Cicaheum terganggu pada Rabu siang, 18 Agustus. Staf-staf  termasuk linmas, binmas, LPM dibuat kalang kabut saat pimpinan mereka, Lurah Cicaheum Asep Lukman S.Sos terjerembab di depan Kantor Kelurahan Cicaheum saat akan  melakukan monitoring pelaksanaan PIPPK di lapangan, dan akan menghadiri rapat di dewan.

   Wajah Lurah Cicaheum tersebut menghantam aspal hingga menyebabkan memar dimuka, dan pendarahan di hidung. Ia tersungkur  tak bisa berkutik saat kakinya menginjak lubang, seperti pohon tumbang karena tangannya tak kuasa menahan berat badan.

   Hal ini diungkap Lurah Cicaheum Asep Lukman S.Sos yang dibenarkan istrinya Iis Rusmayanti, saat ditemui wartawan Koran Medikom di Ruang Maria kamar 5 Rumah Sakit Santo Yusuf ditemani istrinya Iis Rusmayanti, Jumat (18/8). “Kalo jalan kan satu kaki saya digusur. Ada lubang lalu jatuh begitu saja. Tak ada pegangan dan terjerembab ke depan siga nangka asak,” ungkap Asep

   Sebelumnya, keberadaan dan kondisi Lurah Cicaheum ini dikabarkan Lurah Kebon Waru Wawan Hirawan usai diwawancara Koran Medikom di ruang kerjanya di hari yang sama.

   Menurut istrinya, Asep jatuh begitu saja ke depan. Jatuhnya biasa namun dalam pemeriksaan dokter bedah dan saraf di Santo Yusuf, kondisi suaminya itu parah seperti jatuh dari atap ke bawah. Tangan dan kaki tidak bisa digerakkan.

   “Kalau tangan mungkin ada kaitannya dengan saraf, sedangkan kalau kaki tidak bergerak, itu berkaitan dengan tulang ekor. Dari depan sudah dirontgen, namun dari belakang belum bisa karena masih sakit. Perkembangannya masih dilihat,” kata Iis yang juga staf di Kecamatan Bojongloa Kidul.

   Dia menambahkan, sore ini Asep akan dirujuk ke Rumah Sakit Santosa karena di Santo Yusuf tidak ada alatnya. Ada kemungkinan akumulasi dari penyakit yang diderita selama beberapa tahun, yakni diabetes melitus.

   “Bapak kan sudah lama tidak kontrol. Gula darahnya masih turun naik.Tadi saja pake insulin. Sekarang dicabut karena mau dirujuk. Tadi gula darahnya 400, sekarang 300. Darah tinggi tidak ada, diperiksa normal,” tutur Iis

   Sambungnya, kalaupun dirujuk ke Rumah Sakit Santosa, ia berharap dalam masa perawatannya tetap di Rumah Sakit Santo Yusuf. “Saya teu hariwang Bapak dirawat di sini. Alhamdulillah rekan-rekan lurah se-Kecamatan Kiaracondong serta Pak Camat Tarya, juga camat lainnya, serta puluhan warga termasuk RT dan RW nya menengok Bapak,” kata Iis.

 

Linmas Cicaheum Juara PBB

   Dalam kondisi terbaring dan tidak berdaya, Lurah yang dianggap Kasepuhan, kooperatif terhadap rekan wartawan, dan dekat dengan warga di kewilayahannya ini, masih memberikan keterangan kepada media tanpa diminta, yakni tentang Linmas Cicaheum yang mendapat juara PPB di kegiatan 17 Agustusan.

   “Yang beberapa waktu lalu kami ajukan agar Linmas Cicaheum mendapat pengarahan juga bimbingan mengenai pelatihan baris berbaris oleh Babinsa, akhirnya latihan PBB menyeluruh di kelurahan se-Kota Bandung. Sekarang meluas diikuti oleh kelurahan lainnya,” ungkap Asep.

   Hal ini dipertegas oleh Iis. Menurutnya, linmas tadinya tidak ada pelatihan seperti itu. Kelurahan Cicaheum membuat inovasi dengan melakukan kerja sama (permintaan) agar mereka (linmas) dibina oleh Babinsa untuk pelatihan baris berbaris (PBB).

   “Kemudian dieksplor, yang akhirnya diikuti oleh kelurahan lainnya di Kota Bandung. Hasil binaan Babinsa ini, Linmas Kelurahan Cicaheum menjadi juara. Kelurahan Bojongloa Kidul sekarang mengikuti jejak Kelurahan Cicaheum,” paparnya.

   Lurah Cicaheum ini memang diakui sering membuat inovasi, tidak hanya untuk pembangunan kewilayahannya saja, juga termasuk kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Apa yang menjadi instruksi kedinasan, juga program-program Wali Kota Ridwan Kamil menjadi prioritas Pembangunan Kota bandung di kewilayahan, dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan sebaik mungkin.

   Dalam kondisi ketidakberdayaannya terbaring di rumah sakit, lurah yang juga ketua padepokan pencak silat ini masih berbicara kegiatan yang menjadi tugas dan kewajibannya. Seolah rasa sakit dan vonis dokter, tidak menjadi beban.

   Bukan sekedar pujian dan tanpa sebab jika Asep Lukman adalah Lurah Pekerja Keras Berhati Emas. Penyakit Diabetes mellitus menggerogotinya juga tidak menjadi alasan untuk lalai dalam pekerjaan dan tanggung jawabnya sebagai pelayan masyarakat.

   Blusukannya ke masyarakat serta kebaikannya kepada siapa pun, menjadikan ia dekat kepada warga, terutama yang tidak mampu. Bagaimana Kang Emil, akankah menyempatkan sejenak untuk menjenguk?

(Penulis: Zulkifli Lubis)