real time. Para spekulan impor bermain" /> medikomonline.com | Koran Mingguan Medikom
Data Pangan Tidak Lengkap, Potensi Spekulan Impor Bermain
Sabtu, 25 Februari 2017 | 9 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 14 kali
Ilustrasi kebutuhan pangan

BANDUNG, Medikomonline.com – "Data ketersediaan pangan di setiap desa bila perlu dapat dipantau secara real time. Para spekulan impor bermain karena data pangan yang lengkap tidak kita miliki," kata Wakil Gubernur (Wagub) Jabar Deddy Mizwar usai melantik Pengurus DPW Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) Jabar di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (23/2/17).

Wagub juga menekankan pentingnya validitas data terkait ketersediaan pangan. Dengan data yang valid, pemerintah tidak salah langkah dalam mengambil keputusan terkait kebijakan impor bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya.

Validitas data pangan dan pemetaan pertanian menjadi hal krusial, selain peningkatan produksi pangan dan pemerataan distribusi pangan. Deddy berharap pihak atau lembaga terkait dapat memperhatikan validasi data pangan.

Selain itu, Deddy juga menekankan peran penting tenaga penyuluh pertanian, khususnya di Jabar. Dirinya juga mengatakan bahwa jumlah personil penyuluh pun perlu ditambah, sekaligus ditingkatkan kualitasnya. Ini perlu dilakukan guna menjaga ketersediaan SDM mumpuni dalam bidang pertanian.

Lanjut Deddy, petani memiliki peranan yang  strategis, sebab merekalah ujung tombak dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat mulai dari tanaman pangan pokok seperti beras, kemudian umbi-umbian, hingga sayuran-sayuran, dan buah-buahan.

Deddy mengimbau para tenaga penyuluh dan komunitas pertanian, untuk mengingatkan para pemilik lahan pertanian, agar tidak mudah menjual lahan yang dimilikinya untuk kebutuhan pengembang industri.

"Ini karena kemajuan industri. Logikanya kalau satu hektar sawah hanya menyerap lima orang tenaga kerja, tapi pabrik satu hektar bisa menyerap ribuan tenaga kerja. Namun ribuan tenaga kerja tadi, makan dari mana kalau lahan pertanian habis?" pungkasnya.

(Penulis: IthinK)