Dinas Kelautan dan Perikanan Jabar Kembangkang Teknologi Pembenihan Ikan Lele Mutiara dan Teknologi Rematurasi Induk Ikan Lele Sangkuriang
Sabtu, 27 Mei 2017 | 6 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 179 kali
Kepala BPPSIPL Subang Dodi Sudenda SP MM dan kolam pengembangan ikan lele

BANDUNG, Medikomonline – Dinas Kelautan dan Perikanan Jabar melalui Balai Pengembangan dan Pemacuan Stock Ikan Patin dan Lele (BPPSIPL) Subang mengembangkan aplikasi teknologi pembenihan Ikan Lele Mutiara dan aplikasi teknologi rematurasi induk ikan lele sangkuriang sistem bioflox. Kepala BPPSIPL Subang Dodi Sudenda SP MM menjelaskan kepada Medikom, Rabu (24/5), BPPSIPL mengembangkan aplikasi teknologi pembenihan ikan lele mutiara dan benih ukuran 1-3 cm, teknologi pendederan ikan lele mutiara dan benih 5-7 cm, teknologi perbanyakan calon induk lele mutiara kelas induk pokok.

Dijelaskan Dodi, Ikan lele mutiara merupakan strain baru dari ikan lele. “Untuk pengembangan lebih lanjut perlu dilakukan pengujian-pengujian teknologi dan aplikasi teknologi, baik itu teknologi pembenihan, pendederan, pembesaran maupun teknologi perbanyakan calon induk baik itu untuk sebagai kelas induk dasar (Grand Parrent Stock) maupun kelas induk pokok (Parrent Stock),” katanya.

Dodi menambahkan, kajian teknologi pembenihan Ikan Lele Mutiara dengan melakukan uji coba pembenihan Ikan Lele Mutiara menggunakan berbagai metode, baik itu secara alami, induced breding, maupun secara pembuahan buatan. Tujuan adalah untuk memperoleh paket teknologi pembenihan Ikan Lele Mutiara yang nantinya dapat disebarluaskan kepada pembudidaya ikan lele di Jawa Barat,” katanya. Pada tahun 2016 lalu BPPSIPL berhasil memproduksi benih Ikan Lele Mutiara ukuran 1-3 cm sebanyak 916.000 ekor.

Lanjut Dodi, kajian pendederan Ikan Lele Mutiara dilakukan dengan kajian teknologi pemeliharaan benih Ikan Lele Mutiara ukran 1-3 cm sampai mencapai ukuran yang aman untuk masuk ke kolam pembesaran yaitu ukura 5-7 cm. “Kajian ini dilakukan dengan tiga perlakuaan yang menggunkan kolam terpal, kolam tembok dan kolam tanah. Tujuannya untuk mengetahui teknologi pendederan Ikan Lele Mutiara yang paling baik untuk disebarluaskan kepada masyarakat,” kata Dodi yang konsisten berupaya meraih ISO 9001:2008.

BPPSIPL berhasil memproduksi benih Ikan Lele Mutiara ukuran 5-7 cm sebanyak 370.000 ekor. Benih tersebut diseleksi untuk memperoleh yang berkualitas terbaik untuk uji coba lanjutan, sedangkan sisanya dijadikan sebagai sumber PAD.

Untuk kajian teknologi perbanyakan calon induk Ikan Lele Mutiara kelas induk pokok, Dodi mennjelaskan, pihaknya melakukan uji coba teknologi memproduksi calon induk lele mutiara kelas induk pokok melalui teknologi seleksi individu dari benih ukuran 5-7 cm hasil teknologi sebelumnya. Kegiatan tersebut dilakukan di kolam tanah dengan menggunakan teknologi probiotik mulai dari benih ukuran 5-7 cm sampai mencapai calon induk ukuran rata-rata 100 gram. Jumlah calon induk kelas induk pokok ikan lele mutiara hasil seleksi sebanyak 7.500 ekor.

Selain Ikan Lele Mutiara, BPPSIPL juga telah mengembangkan aplikasi teknologi rematurasi induk Ikan Lele Sangkuriang sistem bioflox, aplikasi teknologi pembenihan Ikan Lele Sangkuriang dan benih ukuran 1-3 cm, teknologi pendederan Ikan Lele Sangkuriang dan benh ukuran 5-7 cm, teknologi perbanyakan calon induk lele sangkuriang kelas induk pokok.

Dijelaskan Dodi, kajian teknologi sistem bioflox pada budidaya ikan lele merupakan suatu wadah pemeliharaan untuk budidaya ikan lele yang dirancang sedemikian rupa. Wadah pemeliharaan tersebut memperoleh suplai oksigen yang tinggi dan pemberian bahan lainnya yang berguna untuk menumbuhkan mikroorganisme pengolah limbah budidaya seperti sisa pakan dan feses menjadi flok-flok yang dapat dimanfaatkan oleh ikan sebagai makanan tambahan.

Selain itu juga lingkungan budidaya kualitasnya tetap terjaga dengan baik dan terhindar dari pencemaran. Untuk tahap pembesaran ikan lele teknologi bioflox sudah tidak diragukan lagi keberhasilannya. “Namun apakah teknologi bioflox ini bisa diterapkan juga untuk teknologi rematurasi (percepatan pematangan gonad) induk Ikan Lele Sangkuriang, maka dilakukan pengujian untuk membuktikannya. Berdasarkan hasil kajian proses rematurasi pada induk Ikan Lele Sangkuriang maupun lele mutiara diperoleh kesimpulan bahwa proses rematurasi pada induk ikan lele tersebut ternyata proses rematurasi dengan sistem bioflox lebih cepat sebanyak 37.5 % dibandingkan dengan proses rematurasi tanpa perlakuan bioflox,” kata Dodi yang telah puluhan tahun berpengalaman dalam teknologi budidaya ikan lele.

Untuk aplikasi teknologi pembenihan ikan lele sangkuriang, kata Dodim dilakukan upaya pemanfaatan teknologi pembenihan ikan lele sangkuriang melalui teknologi induced breading dan pembuahan buatan agar teknologi ini benar-benar bisa diterapkan di tingkat pembudiaya. Selain itu juga sebagai bahan baku yang dapat digunakan untuk calon induk terseleksi. Jumlah benih ikan lele sangkuriang ukuran 1-3 cm yang dihasilkan BPPSIPL tahun 2016 lalu sebanyak 972.000 ekor.

Aplikasi teknologi pendederan Ikan Lele Sangkuriang merupakan lanjutan dari aplikasi teknologi pembenihan. Benih Ikan Lele Sangkuriang ukuran 1-3 cm terseleksi, selanjutnya didederkan sampai mencapai ukuran 5-7 cm. Kegiatan pendederan meliputi persiapan wadah pemeliharaan, pembesaran benih ukuran 1-3 cm terseleksi, perawatan dan pemeliharaan, sampling secara berkala dan pemanenan benih ukuran 5-7 cm.

“Benih lele sangkuriang ukuran 5-7 cm yang dihasilkan sebanyak 388.000 ekor. Benih yang terseleksi digunakan untuk uji coba lanjutan sebagai bahan calon induk pokok, sedangkan sisanya sebagai benih sebar untuk PAD,” tambah Dodi.

Lanjutnya, kajian teknologi perbanyakan calon induk Ikan Lele Sangkuriang dilaksanakan dengan ujicoba seleksi individu untuk memperoleh calon induk lele sangkuriang kelas induk pokok, yang dimulai dari benih ukuran 5-7 cm terseleksi sampai mecapai ukuran 100-150 gram. Calon induk lele sangkuriang kelas induk pokok terseleksi yang dihasilkan BPPSIPL tahun 2016 lalu sebanyak 9.000 ekor.

(Penulis: IthinK)