Dinas Kelautan dan Perikanan Jabar Kembangkang Teknologi Triploid Budidaya Ikan Patin
Sabtu, 27 Mei 2017 | 6 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 147 kali
Kepala BPPSIPL Subang Dodi Sudenda SP MM (kiri) dan kolam pengembangan Ikan Patin

BANDUNG, Medikomonline.com – Balai Pengembangan dan Pemacuan Stock Ikan Patin dan Lele (BPPSIPL) Subang yang berada di bawah Dinas Kelautan dan Perikanan Jabar mengembangkan teknologi budidaya perikanan air tawar, khususnya ikan patin dan lele. Kepala BPPSIPL Subang Dodi Sudenda SP MM menjelaskan kepada Medikom, Rabu (24/5), balai mengembangkan teknologi pemuliaan Ikan Patin Siam unggulan melalui teknologi  triplodisasi, dan aplikasi teknologi produksi larva Ikan Patin Siam.  

“Kajian teknologi pemuliaan Ikan Patin Siam unggulan melalui teknologi triploid dilakukan oleh balai (BPPSIPL-red) bekerjasama dengan tim ahli dari Institut Pertanian Bogor terhadap ikan patin siam diploid (normal) untuk dijadikan ikan patin siam triploid melalui berbagai variasi kejutan suhu panas pada saat penetasan telur. Tujuannya adalah untuk memperoleh strain baru ikan patin yang memiliki keunggulan pertumbuhan lebih cepat dan memiliki filet daging ikan patin yang lebih tinggi di tingkat pengolahan,” kata Dodi yang konsisten berupaya meraih ISO 9001:2008.

Ditambahkan Dodi, aplikasi teknologi produksi larva Ikan Patin Siam yang dilakukan merupakan teknologi yang sudah ada dari hasil kajian sebelumnya. “Sebelum disebarluaskan kepada para pelaku usaha ikan patin di Jawa Barat, perlu diaplikasikan terlebih dahulu di balai untuk lebih meyakinkan lagi tingkat keberhasilannya, terutama dalam hal dosis penggunaan obat-obatan dan penetasan telur sistem resirkulasi. Selain itu juga untuk memperoleh ikan patin siam kelas benih tebar yang berkualitas baik dan larva untuk calon induk kelas induk pokok,” ujar Dodi yang sudah puluhan tahun menggeluti teknologi budidaya ikan patin.

Dari pengembangan teknologi pemuliaan Ikan Patin Siam unggulan dan aplikasi teknologi produksi larva Ikan Patin Siam tersebut, Dodi menjelaskan, pada tahun 2016 BPPSIPL berhasil memproduksi 27.230.000 ekor larva ikan patin. “Larva tersebut dijual sebagai sumber PAD, dan juga digunakan untuk uji coba lanjutan yang cara pengambilannya dilakukan secara acak,” katanya.

Lanjut Dodi, BPPSIPL juga mengembankan aplikasi teknologi pendederan 1 ikan patin siam (1 inchi) dan teknologi pendederan 2 ikan patin siam (2 inchi) dan benih ikan patin.  “Aplikasi teknologi pendederan 1 ikan patin siam merupakan lanjutan dari aplikasi teknologi produksi larva ikan patin siam, yaitu pemeliharaan benih ikan patin siam ukuran larva terseleksi sampai menjadi ukuran 1 inchi. Pemeliharaan tersebut dilakukan dengan metode sistem indoor hatchery (ruangan tertutup) untuk kesetabilan suhu air, dan dengan menitikberatkan pada pengunaan jenis wadah pemeliharaan berupa bak tembok yang dilapisi terpal,” kata Dodi menjelaskan jumlah benih ikan patin siam ukuran 1 inchi yang dihasilkan tahun 2016 lalu sebanyak 1.340.000 ekor.

Lanjutnya, aplikasi teknologi pendederan 2 merupakan lanjutan dari aplikasi teknologi pendederan 1, yaitu pemeliharaan benih ukuran 1 inchi dipelihara dengan menggunakan berbagai perlakuan sampai mencapai ukuran 2 inchi. Kegitan ini dilakukan baik di dalam ruangan (indoor hatchery) atau diluar ruangan (outdoor hatchery) di kolam.

“Hal ini untuk mengetahui tempat dan wadah pemeliharaan yang terbaik untuk fase pendederan 2 ikan patin siam. Jumlah benih ikan patin ukuran 2 inchi yang dihasilkan (tahun 2016) sebanyak 1.155.000 ekor. Benih ikan tersebut diseleksi untuk diambil yang terbaik untuk digunakan ujicoba lanjutan dalam rangka perbanyak calon induk kelas induk pokok. Sedangkan sisanya untuk PAD dan restocking diperairan umum,” jelas Dodi yang telah meraih berbagai penghargaan dari Pemprov Jabar dan juga Pemerintah Pusat.

Selanjutnya kata Dodi, dilakukan aplikasi teknologi penggelondongan Ikan Patin Siam, yaitu pemeliharaan benih ikan patin siam ukuran 2 inchi hasil seleksi yang berkualiatas baik di kolam tenang sampai mencapai ukuran gelondongan atau ukuran sangkal. “Selama pemelihaan dilakukan seleksi secara bertahap untuk dipilih yang berkualitas baik, dijadikan calon induk Ikan Patin Siam induk pokok. Jumlah calon induk yang terpilih tahum 2016 lalu sebanyak 4.000 ekor,” urainya.

(Penulis: IthinK)