Dinas Tanaman Pangan Jabar Berhasil Produksi Kedelai 118.476 Ton, Tapi Sayang Kelompok Tani Penerima Bantuan Tidak Jelas
Rabu, 15 Maret 2017 | 8 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 30 kali
Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Jawa Barat

BANDUNG, Medikomonline.com - Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Jawa Barat (Jabar) berhasil memproduksi kedelai sebanyak 118.476 ton pada tahun 2016. Menurut Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jabar Hendi Jatnika melalui Sekretarias Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Jabar Ibrahim Syaf selaku Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) kepada Medikomonline.com di kantornya, Rabu (15/3/2017), penanaman kedelai ini dilakukan di 15 kabupaten/kota di Jabar.

Dijelaskan Hendi, penanaman kedelai tahun 2016 seluas 73.598 hektar dengan hasil panen 118.476 ton. Kedelai ini ditanam di Kabupaten Sukabumi 6.993 hektar, Cianjur 8.128 hektar, Bandung 800 hektar, Garut 8.490 hektar, Tasikmalaya 5.356 hektar, Kuningan 510 hektar, Majalengka 2.086 hektar, Sumedang 3.071 hektar, Indramayu 27.500 hektar, Subang 2.984 hektar, Karawang 1.688 hektar, Bandung Barat 1.152 hektar, Pangandaran 4.140 hektar, Kota Tasikmalaya 500 hektar, dan Kota Banjar 200 hektar.

Hendi menambahkan, produksi kedelai ini dilakukan dengan dua cara. Pertama, intensifikasi kedelai melalui penerapan teknologi pengelolaan tanaman terpadu dan budidaya kedelai jenuh air. Kedua, ekstensifikasi kedelai melalui perluasan areal tanam kedelai, peningkatan indeks pertanaman pada lahan sawah, lahan kering maupun lahan baru.

“Perbandingan kualitas dan kuantitas produksi kedelai dengan pola intensifikasi dan ekstensifikasi kedelai, hampir sama saja. Yang membedakan adalah pola intensifikasi dilakukan melalui perbaikan usaha tani budidaya kedelai, dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas serta produktivitas per hektar melalui penerapan teknologi pengelolaan tanaman terpadu. Sedangkan ekstensifikasi, dilakukan dengan cara perluasan areal tanam melalui peningkatan indeks pertanaman pada lahan sawah maupun lahan kering,” kata Hendi.  

Selain memproduksi kedelai, pada tahun yang sama Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jabar juga memproduksi kacang tanah dan ubi jalar. Luas areal tanam kacang tanah tahun 2016 sebesar 43.951 hektar dengan hasil produksi 62.364 ton. Kacang tanah tersebut ditanam di tujuh kabupaten, yaitu Kabupaten Sukabumi 7.011 hektar, Cianjur 10.392 hektar, Garut 16.880 hektar, Tasikmalaya 5.757 hektar, Kuningan 831 hektar, Ciamis 1.900 hektar, dan Subang 1.180 hektar.

Sedangkan produksi ubi jalar tahun 2016 seluas 17.259 hektar dengan hasil produksi 275.362 ton. Ubi jalar ini ditanam di tujuh kabupaten, yaitu Kabupaten Sukabumi 1.620 hektar, Cianjur 831 hektar, Garut 5.827 hektar, Tasikmalaya 2.504 hektar, Kuningan 5.267 hektar, Ciamis 1.000 hektar, Subang 210 hektar.

Lanjut Hendi, produksi kedelai, kacang tanah dan ubi jalar tersebut dilakukan dengan memberikan bantuan sarana prasarana produksi kedelai, kacang tanah dan ubi jalar kepada kelompok tani (Poktan) atau gabungan kelompok tani (Gapoktan). Oleh karena itu, Poktan dan Gapoktan wajib mempunyai lahan, mampu menerapkan teknologi usaha tani, mengikuti tahap pertanaman dan mengaplikasikan kombinasi komponen teknologi spesifik lokasi.   

Untuk mendukung produksi kedelai, kacang tanah dan ubi jalar tersebut, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jabar mengalokasikan anggaran tahun 2016 sebesar Rp16 milyar. Anggaran tersebut dialokasikan untuk pemberian bantuan sarana dan prasaran produksi kedelai, kacang tanah dan ubi jalar.

 

Kelomok Tani Penerima Bantuan Tidak Jelas  

Untuk mencapai produksi kedelai, kacang tanah dan ubi jalar tersebut, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jabar memberikan bantuan sarana prasarana produksi kepada Poktan dan Gapoktan. Pemberian bantuan tersebut bertujuan untuk  menyediakan sarana dan prasaran produksi, meningkatkan minat petani berusaha tani  tanaman kedelai, kacang tanah dan ubi jalar, meringankan biaya usaha tani bagi Poktan dan Gapoktan, menerapkan teknologi budidaya kedelai, kacang tanah dan ubi jalar, memperluas areal tanam, mempercepat peningkatan produksi, dan menambah lapangan kerja.

Meskipun bantuan sarana dan prasarana produksi kedelai, kacang tanah dan ubi jalar tersebut diberikan kepada Poktan dan Gapoktan, namun Sekretaris Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jabar Ibrahim Syaf menjelaskan, pihaknya tidak mengetahui nama dan lokasi Poktan dan Gapoktan selaku penerima bantuan. “Kegiatan peningkatan produksi kedelai tahun 2016, pola pengelolaan dana berada di Tugas Pembantuan Kabupaten/Kota,” ujarnya.

Demikian juga kegiatan peningkatan produksi kacang tanah dan ubi jalar tahun 2016, pola pengelolaan dana berada di Tugas Pembantuan Kabupaten/Kota. Sehingga, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jabar tidak mengetahui nama dan lokasi Poktan dan Gapoktan selaku penerima bantuan tersebut.       

(Penulis: IthinK)