Lahan Pertanian Kabupaten Indramayu Terparah Alami Kekeringan di Jabar
Kamis, 09 Agustus 2018 | 2 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 56 kali
Dampak kekeringan sawah menjadi retak. (Foto: Ist/Hms Jbr)

BANDUNG, Medikomonline.com – Dari 19 kabupaten di Jawa Barat yang mengalami kekeringan, lahan pertanian Kabupaten Indrmayu paling parah terkena dampaknya. Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat Iwa Karniwa mengatakan, berdasarkan laporan Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Jabar per 3 Agustus 2018 lalu, lahan pertanian yang mengalami dampak kekeringan mencapai 12.572 hektar.

“Rinciannya 5.023 hektar ringan, lalu 3.838 hektar sedang, sebanyak 2.950 hektar kekeringan berat. Sementara yang terkena puso 748 hektar,” katanya di Bandung, Selasa (7/8/18).

Menurut Iwa, lahan pertanian Kabupaten Indramayu paling parah terkena kekeringan.Pihaknya mencatat sebanyak 5.314 hektar mengalami dampak ringan, 1.772 hektar sedang, lalu 1.321 hektar kekeringan berat sisanya sebanyak 282 hektar mengalami puso.

“Dampaknya merata di 11 kecamatan Indramayu. Terparah ada di Kecamatan Kandanghaur dan Gabus Wetan, ada ratusan hektar gagal panen atau puso. Paling ringan ada di Kecamatan Balongan yang mengalami kekeringan hanya 28 hektar,” kata Iwa.

Lanjut Iwa, di luar Kabupaten Indramayu yang juga mengalami puso adalah Majalengka sebanyak 20 hektar, Garut 133 hektar, Kabupaten Bogor 12 hektar, Sukabumi seluas 10 hektar,  Cianjur 1 hektar dan Sumedang 14 hektar. “Ciamis ada 92 hektar puso, Cirebon yang terkena 20 hektar, Kuningan 14 hektar, terakhir Pangandaran cukup besar 170 hektar,” tuturnya.

Untuk menangani dampak kekeringan ini, Iwa menjelaskan, Pemprov Jawa Barat bersama daerah yang terdampak sudah melakukan sejumlah penanganan di lapangan yakni dengan melakukan pompanisasi dan perbaikan saluran irigasi. Selain itu di sejumlah daerah juga dibuat sumur pantek dan pembuatan embung. “Sehingga diharapkan kadar kekeringan berubah, dari rusak berat jadi sedang, ringan jadi normal. Untuk kerugian masih kita hitung,” paparnya.

Berdasarkan pemantauan di lapangan, kata Iwa, dampak kekeringan ini mengganggu satu kali masa panen, durasinya sawah yang terdampak dari 30-105 hari. Menurutnya hampir seluruh varietas padi yang ditanam petani ikut terdampak musim kemarau ini.

“Dari padi jenis Ciherang, Sintanur, Inpari 30 hingga IR 42, ini yang ditanam petani di 19 kabupaten,” ujarnya.

(Penulis: IthinK)