Masyarakat Harus Segera Merasakan Manfaat Implementasi Sembilan Komoditas Unggulan Jabar
Minggu, 24 Desember 2017 | 11 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 159 kali
Ilustrasi/Kopi Arabika Java Preanger (Disbun Jabar)

BANDUNG, Medikomonline.com – Sembilan komoditas unggulan Jabar berbasis Iptek telah meraih penghargaan Budhipura dari Kemenristekdikti periode tahun 2016-2017. Kesembelian komoditas hasil karya petani dan para ahli di Jabar tersebut, yaitu mangga gedong gincu, kentang, Sapi Lokal Pasundan, green tea powder, Ayam Lokal Sentul, ikan patin, Kopi Arabika Java Preanger, indigofera dan ikan lele sangkuriang.

Untuk itu, Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar (Demiz) mengharapkan sembilan komoditas unggulan Jabar berbasis Iptek diimplementasikan pemanfaatannya oleh masyarakat luas. “Dari sembilan komoditas ini, saya ingin harus segera diimplementasikan agar manfaatnya buat masyarakat langsung terasa,” ujar Demiz di sela-sela acara Rakor Tingkat Provinsi Tindak Lanjut Anugerah Budhipura Tahun 2015-2017, di Aula Barat Gedung Sate Bandung, Rabu (20/12/2017).

Di hadapan para peserta rapat seperti pakar inovasi, akademisi pertanian, para guru dan masyarakat, Demiz menuturkan, seluruh komoditas unggulan tersebut sudah pasti merupakan hasil riset yang aman dan punya potensi yang besar untuk dikembangkan. Tinggal bagaimana peran dari para pihak dalam membantu penyediaan bibitnya hingga pendistribusinya.

“Petani hanya memanen saja, jangan dibebani lagi bagaimana memasarkannya, dimana benihnya, distribusinya. Kita harus bantu mereka karena mereka ngga akan bisa, tapi bagaimana cara menanam yang baik mereka adalah ahlinya. Ini ujungnya semata-mata untuk peningkatan penghasilan mereka,” tutur Demiz.

Namun, dari sembilan komoditas ini Demiz meminta agar fokus terlebih dahulu pada pengembangan produk indigofera, lele sangkuriang, kopi arabika java preanger dan ayam sentul. Menurutnya, keempat komoditas tersebut sudah terbangun kultur di masyarakat dan lebih cepat dalam pengembangan.

“Dari sembilan komoditas ini ada empat yang langsung bisa diterapkan, yaitu indigofera, lele sangkuriang, kopi dan ayam sentul karena ada kultur yang memang sudah terbangun di sana. Indigofera sekarang banyak lahan kritis tinggal tanam kan tinggal kita sediakan bibitnya,” kata Demiz.

Indigofera merupakan budidaya tanaman sebagai pakan ternak. Dampak dari pengembangan indigofera ini yakni biaya pakan ternak lebih rendah 50?ri pakan biasa sehingga peternak bisa lebih untung dan bergairah dalam menjalankan usahanya.

Kemudian lele sangkuriang adalah pengembangan ikan lele yang diberi sentuhan teknologi, kunyit dan serum tertentu yang dicampur ke pakan dan membuat produksinya lebih meningkat dari dua kali panen menjadi empat kali panen dalam setahun.

Selanjutnya, kata Demiz, budidaya Kopi Arabika Java Preanger yang sudah diakui kenikmatannya oleh dunia internasional karena telah menjuarai festival kopi di Atlanta Amerika Serikat tahun 2016 silam. Kemudian budidaya Ayam Sentul yang merupakan ayam asli Jabar. Melalui sentuhan teknologi ditemukanlah GGPS atau Great Grand Parent Stock, kemudian ditemukan GPS Grand Parent Stock, lalu parent stock dan final stock. “Jangan berhenti sampai di penghargaan, ini yang kita harapkan manfaatnya,” tegas Demiz.

Terkait penghargaan Budhipura dari Kemenristekdikti ini, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP2D) Jabar Lukman Shalahuddin menjelaskan, Budhipura adalah salah satu anugerah Iptek yang diberikan kepada pemerintah provinsi atas prestasi dalam pembinaan kota dan kabupaten baik dalam bentuk kebijakan, fasilitasi maupun penciptaan iklim kondusif bagi pengembangan dan penguatan sistem inovasi sehingga dihasilkan inovasi dengan nilai tambah dalam bentuk komersial ekonomi maupun sosial budaya.

“Alhamdulillah Jabar telah mengikuti Budhipura ini sejak pertama kalinya dicanangkan yaitu tahun 2014 masuk lima besar yang saat itu kita masih belum memiliki BP3 Iptek tapi masih dibawah Bappeda, kemudian tahun 2015 terbentuk BP3 Iptek dan langsung meraih tiga besar Budhipura. Puncaknya tahun 2016 dan 2017 peringkat pertama berturut-turut dengan masing-masing lima komoditas unggulan,” jelas Lukman.

Hal yang terpenting dari penilain Budhipura tersebut, kata Lukman, dari inovasi tesebut telah terbentuk suatu sistem yang disebut SIDa atau Sistem Inovasi Daerah. Yaitu keseluruhan unsur inovasi yang terdiri dari kelembagaan, sumber daya, jaringan, regulasi dan kebijakan lain sehingga membentuk suatu sistem yang berkelanjutan.

Pada capaian komoditas Budhipura tahun 2016-2017 total terdiri dari sembilan komoditas yaitu mangga gedong gincu, kentang, Sapi Lokal Pasundan, green tea powder, Ayam Lokal Sentul, ikan patin, Kopi Arabika Java Preanger, indigovera dan Ikan Lele Sangkuriang.

“Kami tentu tidak bekerja sendiri tapi didampingi para pakar dan pelaku bisnis dalam pengembangan inovasi ini, di samping perangkat daerah terkait,” kata Lukman.

(Penulis: IthinK/Editor: Mbayak Ginting)