Panen Raya Padi Sarinah di Kabupaten Garut Capai 9,2 Ton Per Hektar
Senin, 15 Januari 2018 | 5 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 767 kali
Dinas Pertanian Garut melaksanakan panen raya di Blok Contoh Desa Mekarbakti Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut. “Luas area yang dipanaen 65 hektar. (foto: Engkus/Medikomonline)

GARUT, Medikomonline.com – Dinas Pertanian Kabupaten Garut melaksanakan panen raya di Blok Contoh Desa Mekarbakti Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut. “Luas area yang dipanaen 65 hektar.  Khusus di blok ini seluas 65 Ha dan yang akan dipanen mulai hari ini (Sabtu-red) hingga dua minggu ke depan seluas 40 Ha,” kata  Kadis Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat Hendi Jatnika, Sabtu  (13/1/2018).

Selain dihadiri  Kadis Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat, acara panen raya tersebut dihadiri juga  Sekretaris Dirjen Tanaman Pangan Kementrian Pertanian RI  Maman Suherman, Kabid  Dinas Pertanian   Tanaman Pangan Kabupaten Garut R  Sri Rahayu SP MP, Kasubdid Bulog Distrik Ciamis Sulais, UPT Pertanian Kecamatan Kadongorara Ude Sudirman SP, Dan Ramil  Kadungora, Kapolsek Kadungora dan tamu undangan lainnya.

Lanjut Hendi, rata-rata kabupaten berdasarkan angka ramalan tahun 2017,  hasil panen Garut paling tinggi di Jawa Barat mencapai  6,4  ton per hektar. Selaian itu juga   indek pertanaman (IP) Garut mencapai 2,8. Artinya bisa ditanami 3 kali setiap tahunnya.

“Diharapkan tidak ada beras impor karena berdasarkan cacatan di Jawa Barat penghasilan beras masih tertinggi. Kalau ada impor beras  jangan ke Jawa Barat, lebih baik ke  Sumatra, Kalimantan dan ke daerah  yang areal pertniannya kurang subur,” ujar Hendi.

Sekretaris Dirjen Tanaman Pangan Kementrian Pertanian Maman Suherman mengatakan, secara nasional panen padi sudah mulai dari  bulan Januari sampai bulan Maret 2018. Luas panen hampir 5 juta hektar.

Kata Maman, di Jawa Barat kurang lebih 100 ribu hektar panen padi setiap hari. “Kalau misalanya 3 juta hektar sampai bulan Maret itu berarti kita punya stok 2,5 juta ton gabah setara 15 juta ton beras  sehingga kita harus mengamankan harganya,” katanya.

Diakui Maman, “Kalau kebutuhan kita  3 bulan itu dirata-ratakan Indonesia hanya butuh 2,5 ton juta beras. Hanya 7,5 ton beras berarti bisa yang setengahnya lagi menjadi  stok pangan nasional. Melihat kondisi itu, sudah jelas tidak perlu ada beras impor. Bagaimanapun kita tetap pro petani,” tegas Maman.

Katanya, sekarang peran Dinas Pertanian  Garut terbilang bagus bahkan memaksimalkan peran  Bulog  yang berani membeli langsung dari petani berupa gabah kering dengan harga tinggi .

Di Indonesia ada 15 sentra produksi padi, di antaranya di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Sulawesi Selatan, dan lainnya. Setiap harinya melakukan panen padi.

“Maka melihat kondisi  itu menjamin kesediaan, malahan petani sendiri tidak dijual semua (gabah-red). Artinya stok gabah itu tidak hanya di Bulog, pabrik, tetapi para petani nyimpeun gabah untuk keperluannya,” tegas Maman lagi.

Ujar Maman, “Selama ini kita dari unsur pusat, provinsi, kabupaten, petugas lapangan dan juga TNI rutin mendampingi para petani dari mulai olah tanah pertanian, mengamankan   OPT  termasuk monitoring panennya yang berkerja sama dengan Bulog sebagai mitra.”

Tujuannya kata Maman, agar pihak Bulog bisa menyerap langsung gabah dari petani untuk mengisi ketersediaan atau cadangan beras.

Sementara Sri Rahayu  menambahkan,  40 hektar dari  65 hektar di Blok Contoh Desa Mekarbakti tersebut hasil akhirnya 9,2 ton per hektar, gabah kering panen 7,7 ton gabah kering giling. Varietas padinya Sarinah. 

(Penulis: Engkus/Editor: Mbayak Ginting)