Penerapan Teknologi Budidaya Jajar Legowo Mampu Capai Produksi Padi Jabar 12 Juta Ton
Rabu, 26 April 2017 | 7 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 178 kali
Jarak tanam jajar legowo untuk meningkatkan produksi padi dilakukan Kelompok Tani Mekar Tani, Kabupaten Bogor. (foto: Mbayak Ginting)

BANDUNG, Medikomonline.com - Sasaran produksi padi tahun 2017 di Jawa Barat (Jabar) telah ditetapkan sebesar 12.853.494 ton. Strategi dan upaya yang dilaksanakan untuk mencapai target tersebut difokuskan pada aktivitas usaha tani yang dikelola dengan prinsip pertanian lestari dengan memanfaatkan agro-input yang ada di sekitar dan mengelola limbah dengan prinsip zero waste melalui reduce, re-use dan re-cycle.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jabar Ir Hendy Jatnika MM didampingi Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Ir Uneef Primadi MAP di kantornya, Rabu (26/04/2017) menjelaskan kepada Medikomonline.com, salah satu aktivitas usaha tani yang diharapkan mampu mendongkrak peningkatan produksi adalah gerakan penerapan teknologi budidaya dengan menggunakan jarak tanam jajar legowo.  Sistem tanam jajar legowo padi menerapkan pola tanam padi yang berselang-seling antara dua atau lebih baris tanaman (biasanya dua atau empat) dan satu baris kosong.

“Sistem jajar legowo tersebut dilaksanakan melalui penerapan prinsip teknologi budidaya yang baik dan benar (good agriculture practise) serta mengoptimalkan kemampuan lahan yang dikelola seefektif mungkin,” ujar Hendy.

Lanjut Hendy, kondisi iklim sampai dengan saat ini masih mendukung untuk percepatan pelaksanaan gerakan tanam di lapangan.  Bahkan di beberapa daerah yang sedang panen, curah hujan melebihi harapan petani sehingga hasil panen kurang memuaskan karena genangan air di lahan serta kelembaban yang tinggi.  Hal ini berdampak pada kualitas gabah menjadi kurang baik, menyebabkan harga menjadi rendah di bawah harga pembelian pemerintah (HPP).

Untuk mengatasi kondisi ini, Uneef mengatakan, pemerintah memberikan perhatian serius  dengan cepat mengambil langkah kebijakan guna melindungi para petani agar tidak mengalami kerugian. “Pemerintah telah menugaskan Perum Bulog untuk terjun langsung ke daerah sentra produksi yang mengalami kondisi tersebut guna melakukan Gerakan Serap Gabah Petani (Sergap-red),” ujar Uneef. 

Pelaksanaan Sergap dilaksanakan dengan tujuan utama sebagai berikut:

  1. Difokuskan pada daerah sentra produksi;
  2. Difokuskan pada daerah yang mengalami penurunan harga, baik yang disebabkan oleh dampak iklim (gabah di luar kualitas), maupun panen serempak (produksi berlimpah);
  3. Melindungi para petani dari penurunan pendapatan;
  4. Meningkatkan penyediakan stock/cadangan beras pemerintah di masing-masing gudang Bulog.

Lanjut Uneef, akseleresi dalam peningkatan luas tambah tanam (LTT) dan Sergap, berbagai kegiatan dilaksanakan secara menyeluruh di Indonesia.  Kegiatan tersebut juga telah  dilaksanakan di Jabar yang menyebar dan menyeluruh di setiap kabupaten/kota, baik kegiatan berskala daerah kabupaten/kota, provinsi, maupun nasional.

Ditambahkan Uneef, rangkaian kunjungan kerja Menteri Pertanian di Provinsi Jabar ke  Desa Kalapasawit, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, pada hari Jum’at (10-03-2017) lalu, merupakan peningkatan upaya produksi padi tahun 2017 melalui gerakan panen dan gerakan peningkatan LTT serta melakukan gerakan Sergap.

Kunjungan Menteri Pertanian tersebut dihadiri oleh Panglima Kodam III Siliwangi, Bupati Ciamis, Bulog Divre Jabar, serta Setda Provinsi Jawa Barat yang diwakili oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jabar.

Momen penting ini menjadi bukti bahwa Pemerintah tidak tinggal diam terhadap kondisi-kondisi yang ada di masyarakat.Pada acara tersebut, dilaksanakan simbolis bantuan berupa traktor sebanyak 40 unit serta bibit cabe.

Sementara Bulog Divre Jabar melaksanakan pembelian gabah kering panen dari petani di lokasi kegiatan dengan harga Rp.3.700 per kg.  Pada saat itu, kondisi harga gabah kering panen di wilayah Kecamatan Lakbok sedang kurang baik yang disebabkan kualitasnya turun dan sedang panen raya.  Harga kisaran di lapangan antara Rp.3.200 – Rp.3.900 per kg.  Pemerintah berjanji akan membeli seluruh gabah para petani, terutama yang kondisi harganya di bawah HPP (Rp.3.700 per kg).

Dukungan Pemerintah Pusat tersebut meyakinkan para petani bahwa komoditas padi sangat dilindungi oleh pemerintah.Perlindungan pemerintah dibuktikan melalui berbagai bantuan, diantaranya berupa benih, subsidi pupuk dan benih, alat mesin pertanian (pra panen dan pasca panen), perbaikan infrastruktur jaringan irigasi, penyediaan sumber air (embung/pompanisasi/ pipanisasi/ long storage), serta jaminan harga jual sesuai dengan HPP.

(Penulis: IthinK)