Akibat Dikeroyok, 2 Orang Warga Cidadap Terkapar di Rumah Sakit
Selasa, 28 Maret 2017 | 8 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 101 kali
Nandang Kurnaedi (27) pemain organ tunggal menjadi korban pengeroyokan

SUBANG, Medikomonline.com - Dua orang warga Cidadap terkapar di rumah sakit akibat pengeroyokan. Bermula di sebuah hajatan, seorang pemain organ tunggal dan seorang penonton babak belur dikeroyok pemuda yang sedang mabuk hingga dilarikan ke rumah sakit.

Korban Nandang Kurnaedi (27) yang merupakan pemain organ tunggal, Rabu (22/3) memaparkan kepada Medikom, "Pada waktu itu saya sedang manggung di sebuah hajatan di Kampung Cidadap Desa Cidadap, Kecamatan Pagaden Barat, pada tanggal (19/2). Ketika saya turun panggung menjelang istirahat salat Asar kisaran jam 15.00 WIB, pada waktu itu ada 3 orang yang sedang mabuk mendekati saya.”

Lanjut Nandang, kemudian mereka meminta sejumlah uang untuk membeli minuman, dengan terpaksa dia memberinya. Ternyata selain meminta uang mereka meminta rokok juga, akan tetapi Nandang menolaknya.

“Karena saya menolok, kemudian saya dipukul menggunakan kursi pelastic hingga mengenai kepala dan sampai robek oleh pelaku Irwan (27) dan Arnali (23), sedangkan yang satu orang lagi hanya melihat tidak melakukan pemukulan," jelasnya.

Nandang menambahkan, "Karena melihat saya sedang dikeroyok, tiba-tiba Warna (50) menghampiri dan hendak menolong, justru malah warna kena pukul sampai pingsan akibat luka dalam," paparnya.

"Sampai saat ini, dari keluarga pelaku belum datang ke rumah. Kami melaporkan pengeroyokan dan pemalakan ini ke Polsek Pagaden pada tanggal (19/02). Saya berharap petugas kepolisian segera menangkap para pelaku," kata Nandang.

Ketua Lembaga Suwadaya Masyarakat (LSM) Gerak Amat Suhenda, ikut angkat bicara. "Kami mengapresiasi kinerja Polsek Pagaden, semoga kejadian di Desa Cidadap ini tidak terjadi di daerah lain. Kami mendorong penegak hukum agar berbuat adil. Serta meminta Polsek Pagaden untuk memberantas minuman keras di wilayah Desa Cidadap dan di wilayah lain yang sudah banyak memakan korban dan perilaku brutal," jelasnya kepada Medikom.

(Penulis: Mala/Editor: Mbayak Ginting)