A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 0

Filename: controllers/Home.php

Line Number: 45

Backtrace:

File: /home/medikomo/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 45
Function: _error_handler

File: /home/medikomo/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

medikomonline.com | Koran Mingguan Medikom
Dinas Bina Marga Jabar Biarkan Kontraktor Tidak Lakukan Pemeliharaan Proyek Jalan Cileungsi – Cibeet
Selasa, 17 Oktober 2017 | 1 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 1 kali
Hasil Peningkatan Jalan Cileungsi – Cibeet yang menelan anggaran Rp17,2 milyar sudah banyak mengalami retakan pada permukaan jalan dan lubang besar menganga pada bahu jalan dibiarkan begitu saja menanti korban tanpa pemeliharaan. (foto: medikom)

BANDUNG, Medikomonline.com – Penyebab terjadinya pengurangan aspal dan retakan jalan pada Proyek Peningkatan Jalan Cileungsi – Cibeet (4 Km) tahun 2016 lalu masih misteri. Soalnya, hingga saat ini Kepala Balai Pengelolaan Jalan (BPJ) Wilayah Pelayanan I – Dinas Bina Marga Penataan Ruang Jabar Yongga Bhakti ST MT tidak mau menjelaskan Penyebab terjadinya pengurangan aspal dan retakan jalan tersebut.

Menurut Ketua Umum ARM Furqon Mujahid kepada Medikom, Jumat (13/10) di Bandung, selain indikasi penyimpangan pengurangan aspal dan retakan jalan pada Proyek Peningkatan Jalan Cileungsi – Cibeet (4 Km), ARM  juga menilai ada penyimpangan lain karena BPJ I membiarkan kontraktor Peningkatan Jalan Cileungsi – Cibeet (4 Km), PT Prima Mixindo Utama tidak melakukan pemeliharaan jalan tersebut.

Padahal menurut Yongga Bhakti ST MT yang didampingi Ayi di kantornya, Cianjur, Jumat (22/9) mengatakan kepada Medikom, Pekerjaan Peningkatan Jalan Cileungsi – Cibeet (4 Km) masih dalam masa pemeliharaan selama satu tahun. “Tapi anehnya anggaran jaminan pemeliharaan yang masih ditahan hingga saat ini, tidak digunakan untuk pemeliharaan Jalan Cileungsi – Cibeet. Anggaran jaminan pemeliharaan tersebut nanti akan dicairkan kepada kontraktor ketika dilakukan final hand over (FHO/serah terima akhir),” ujar Mujahid.  

Lanjut Mujahid, seluruh jajaran ARM  sangat mendukung komitmen Gubernur Jabar Ahmad Heryawan dan Kepala Dinas Bina Marga Penataan Ruang Jabar meningkatkan kemantapan jalan di wilayah Jabar demi kelancaran transportasi dan perekonomian masyarakat Jabar. “Sebaliknya, ARM  juga berkotmitmen melakukan kontrol sosial terhadap pembangunan dan pemeliharaan jalan provinsi. Jika ada ditemukan indikasi penyimpangan, maka pihak pemerintah dan swasta diminta berjiwa besar melakukan perbaikan demi kemajuan masyarakat Jabar,” ungkap Mujahid.

Selama ini jajaran ARM  memang memantau pelaksanaan pekerjaan Peningkatan Jalan Cileungsi – Cibeet (4 Km) yang baru selesai tahun 2016 lalu. “Nyatanya kondisinya kini banyak terjadi retakan baik pada perkerasan beton maupun perkerasan aspal. Tidak hanya itu, pemeliharaan bahu jalan juga sepertinya diabaikan dengan adanya lubang besar menganga yang sewaktu-waktu bisa memakan korban pengguna jalan,” kata Mujahid.

Rendahnya kualitas hasil Peningkatan Jalan Cileungsi – Cibeet yang menelan anggaran Rp17,2 milyar ini menimbulkan keprihatinan bagi para aktivis ARM. Menurut Ketua Umum ARM, banyaknya retakan yang terjadi pada permukaan jalan hasil Peningkatan Jalan Cileungsi – Cibeet tidak terlepas dari tindakan kontraktor Peningkatan Jalan Cileungsi – Cibeet PT Prima Mixindo Utama dengan mengurangi volume pekerjaan perkerasan aspal.

“Padahal pekerjaan Peningkatan Jalan Cileungsi – Cibeet baru selesai satu tahun lalu, tapi retakan sudah banyak terjadi. Kondisi ini mengindikasikan lemahnya pengawasan dari Balai Pengelolaan Jalan sehingga kinerja kontraktor tidak terkontrol dan terjadi pengurangan volume pekerjaan pengaspalan oleh kontraktor pelaksana PT Prima Mixindo Utama,” ujar Mujahid.

Lanjut Mujahid, pengurngan volume pekerjaan perkerasan aspal ini sudah menjadi temuan Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan tahun 2016. “Tentu pengurangan volume pekerjaan perkerasan aspal ini tidak hanya persoalan administrasi pengembalian kerugian keuangan negara/pemerintah semata, tapi harus dikaji secara mendalam tentang motif dari kontraktor PT. Prima Mixindo Utama mengurangi volume pekerjaan dan kontraktor yang lemah melakukan pengawasan,” urai Mujahid.

Retakan melintang juga terjadi pada perkerasan beton dalam pekerjaan Peningkatan Jalan Cileungsi – Cibeet. “Bahkan lubang besar menganga pada bahu jalan dibiarkan tanpa terlihat adanya perawatan dari kontraktor. Berdasarkan peninjauan di lapangan, lubang besar ini diduga terjadi karena material yang digunakan untuk bahu jalan amblas. Jika lubang besar ini dibiarkan terus, para pengguna jalan bisa terperosok ke dalam lubang tersebut,” ujar Mujahid. 

(Penulis: TIM)