LSM Somasi Minta Usut Kematian Tahanan Polres Cirebon, Polda Jabar Tindak Tegas Polisi Yang Lalai
Minggu, 21 Januari 2018 | 8 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 267 kali
(Foto kiri) Kabid Humas Polda Jabar AKBP Hari Suprapto/foto:mbayak ginting/medikomonline.  (Foto kanan) Ketua Umum LSM Somasi Golden Siburian SH  menemui Tasri’ah (tengah), nenek almarhum Arif Rahman yang menunjukkan uang dari polisi.

BANDUNG, Medikomonline.com – Ketua Umum DPP LSM Somasi Golden Siburian SH meminta kepolisian dan Komnas HAM mengusut tuntas kasus kematian tahanan Polres Cirebon, Arif Rahman (19) yang terjadi pada Rabu (3/12018) lalu. “Makanya kita minta pihak terkait ataupun bagian Propam atau Paminal baik di Polda Jabar atau pun Mabes Polri, kasus ini (kematian Arif Rahman-red) dibuka terang benderang supaya jangan terjadi lagi kasus seperti ini,” tegas Golden kepada Medikom di Bandung, Selasa (16/1/2018).

Golden menjelaskan, LSM Somasi sangat peduli atas kasus kematian yang menimpa korban Arif Rahman. LSM Somasi telah mendatangi nenek korban Tasri’ah di rumahnya di Blok Jalim RT 12 RW 3 Desa Ciawi, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon, Senin (15/1/2018). “Pihak dari keluarga (nenek korban-red) titip pesan kepada Ketua Umum LSM Somasi, tolong pak kasus ini dibuka biar terang benderang,” ujar Golden menirukan ucapan Tasri’ah.

Desakan untuk mengungkap kasus kematian tahanan Polres Cirebon, Arif Rahman juga disuarakan oleh Ketua Dewan Koordinasi Daerah Kabupaten Cirebon Indonesia Crisis Center (ICC) Aceng Sudaman SH dan Sekretaris ICC Wartono. “Kami minta Kapolres (Cirebon-red) dan Kasat Reksrim untuk mengusut tuntas dan bertanggung jawab atas kematian (Arif Rahman-red) itu,” kata Wartono kepada Medikom melalui sambungan telepon seluler pada hari Rabu (17/1/2018).  

Kasus kematian tahanan Polres Cirebon ini juga ternyata sudah dipantau oleh Polda Jabar. Kabid Humas Polda Jabar AKBP Hari Suprapto kepada Medikom menegaskan, Polda Jabar akan melakukan penindakan kepada aparat kepolisian di Polres Cirebon apabila ada ditemukan kelalailan atau indikasi pelanggaran terkait kematian tahanan Polres Cirebon Arif Rahman.

Hari yang sebelumnya bertugas sebagai Kabid Humas Polda Sulteng mengatakan, Polda Jabar akan bertindak tegas atas pelanggaran atau kelalaian yang dilakukan oleh aparat Polres Cirebon. “Ya tegas. Kita selalu konsisten apabila ada hal-hal yang diduga negatif. Polisi dipecat banyak, polisi dihukum disiplin juga banyak,” ujar Hari menegaskan kepada Medikom di sela konferensi pers di halaman Polda Jabar, Rabu (17/1/2018).

Lanjut Hari, di dalam pengawasan internal kepolisian, apabila ada indikasi atau ada pelanggaran atau kelalaian tentu akan ada tindakan kepada anggota kepolisian. Untuk menindaklanjuti kasus kematian tahanan Polres Cirebon ini, Hari mengatakan, Polda Jabar akan mengecek kasus tersebut ke Propam Polres Cirebon.

Terkait penyebab kematian korban, Ketua Umum DPP LSM Somasi Golden mengatakan,  kematian Arif  Rahman bagi keluarga korban masih belum jelas penyebabnya dan ada indikasi ketidakwajaran. Ketika jasad almarhum Arif Rahman diantar kepolisian ke rumah neneknya, mayat sudah dibungkus kain kafan.

“Almarhum  (jasad-red) tidak boleh dibuka sama pihak keluarga. Cuma diperlihatkan sebentar, cuman mukanya doang. Langsung ditutup kembali. Ada apa kematian si korban (Arif Rahman-red) sampai ke pemakaman itu dikawal sama pihak Polres Cirebon?” tanya Golden yang didampingi Sekjen DPP LSM Somasi Prandinata SH.

Tambah Golden lagi, ketidakwajaran lainnya juga terlihat ketika jasad almarhum Arif juga tidak dimandikan. “Biasanya kalau orang meninggal menurut agama Islam, jasadnya itu wajib dimandikan,” kata Golden.

Yang paling lucunya lagi kata Golden, “Anak ini (Arif Rahman-red) kan mati bukan ditabrak mobil ataupun kasus kecelakaan, tiba-tiba di situ diserahkan pihak kepolisian Polres Cirebon yang ada di amplop itu  tulisan atas nama Kapolres. Ada amplop lagi yang isinya uang sebesar lima juta rupiah.”  

Menurut penuturan Tasri’ah kepada LSM Somasi, kata Golden, pihak keluarga tidak  butuh uang tersebut. “Kami butuh anak kami kembali ke rumah ini,” kata Golden menirukan  ucapan nenek korban.

Lebih jauh dijelaskan Golden, amplop uang itu berada di nenek korban, karena ibu korban Asih  tinggal di Kota Cirebon. Si korban ini tinggal di kediaman neneknya yang berdekatan dengan tempat kerjaannya. Korban selama ini bekerja sebagai pekerja rotan serabutan.

Golden juga mengkritisi proses penangkapan korban oleh polisi. “Biasanya aparat kepolisian mengamankan seseorang itu harus ada surat penangkapan. Kenapa anak (Arif Rahman-red) tersebut tidak ada surat penangkapan? Setelah besoknya ada surat pemberitahuan dan surat penangkapan,” katanya.

Sekretaris ICC Kabupaten Cirebon Wartono mengatakan, pemberian uang kepada pihak keluarga korban tidak sebanding dengan derita korban.  “Ya kan tidak sebanding. Terus itu kan ngasih uang ga ngomong uang santunan ke pihak keluarga. Tahu-tahu ngasih di map (amplop-red) aja, ga ngomong mohon maaf turut berduka cita, ngga. Cuma ngasih aja kan gitu. Itu kan ga tahu isinya uang awalnya , kan gitu pihak keluarga kan. Mau diambil lagi (uang-red), silahkan kata keluarganya,” ujar Wartono.

Menyikapi pemberian uang kepada pihak keluarga alamrahum Arif Rahman ini, Kabid Humas Polda Jabar mengatakan, pemberian uang itu berkaitan dengan empati kepada keluarga korban. “Saya kira begini, jangankan terhadap yang meninggal, kan banyak kejadian-kejadian seperti wakil kamtibmas membantu warga susah yang tidak ada masalah. Ini kebetulan ada masalah mungkin dikaitkan begitu. Saya kira itu pemberian dan penyampaian dalam hal kaitan dengan empati,” ujar Hari.

Terus mengenai penyerahan jasad korban yang sudah dibungkus kain kafan dan tidak dimandikan lagi, Hari juga menjelaskan, ada beberapa kasus yang memang tidak dilihat dengan pertimbangan tertentu. “Kemudian biasanya keluarga juga banyak, kan ada satu sisi cepat dimakamkan, ada di sisi lain mungkin punya keinginan lain, nanti kita dalami,” kata Hari yang turut prihatin atas kematian tahanan Polres Cirebon ini.

Lanjut Hari mengatakan, untuk pihak korban, apabila memang menyatakan ada suatau keberatan bisa menanyakan  atau juga bisa melaporkan kalau memang ada hal-hal yang bisa jadi petunjuk. “Ya boleh, yang jelas akan berjalan penyelidikan dan pengumpulan bahan keterangan, apakah betul yang dilaporkan kepada pihak Propam atau pihak kita gitu. Nanti akan dilihat riwayat penyakitnya sebelumnya, riwayat kejadian sebelumnya, kemudian persoalan-persoalan lain,” urai Hari bahwa keluarga korban bisa melaporkan ke Propam Polres Cirebon atau Propam Polda Jabar.

Untuk menindaklanjuti kasus kematian tahanan Polres Cirebon ini, Wartono mengatakan, pihak keluarga korban juga mau membuat laporan pengaduan ke Ombudsman. Pihak keluarga mau melaporkan Kapolres Cirebon dan Kasat Reskrim Polres Cirebon ke Ombudsman terkait kematian Arif Rahman yang menjadi tahanan Polres Cirebon ketika itu.

Sementara dari keterangan Kapolres Cirebon Risto Samodra melalui Kasat Reskrim AKP Reza Arifian kepada media membenarkan terjadi kematian salah seorang tahanan Polres Cirebon karena pengeroyokan tahanan lainnya.

(Penulis: IthinK)