Meski Kualitas Proyek 2017 Buruk, PT Seneca Masih Menangkan Proyek Jalan Ditjen Bina Marga 2018 di Jabar Selatan
Senin, 09 April 2018 | 2 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 185 kali
Lelang proyek 2018 dimenangkan PT Seneca Indonesia (foto atas), sedangkan Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tahun 2017 yang dikerjakan PT Seneca Indonesia kualitasnya buruk dengan terjadinya amblas pada bahu jalan

BANDUNG, Medikomonline.com – Meskipun Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tahun 2017 yang dikerjakan kontraktor PT Seneca Indonesia kualitasnya buruk, tapi PT Seneca Indonesia masih dipercaya memenangkan proyek jalan Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tahun 2018 di wilayah Provinsi Jawa Barat (Jabar) bagian selatan. Salah satu proyek jalan Ditjen Bina Marga tahun 2018 yang dimenangkan PT Seneca Indonesia adalah Proyek Paket Preservasi Rehabilitasi Bagbagan – Jampangkulon – Tegalbuleud dengan nilai Rp47,5 miliar.

Ketua Umum Konsorsium Aliansi Rakyat Menggugat (ARM) Furqon Mujahid Bangun mengatakan kepada Medikom, Kamis (5/4/2018) di Bandung, proses penetapan PT Seneca Indonesia sebagai pemenang lelang proyek Ditjen Bina Marga tahun 2018 ini diproses di Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kementerian PUPR. Proses lelang ULP Kementerian PUPR ini melibatkan juga Kelompok Kerja ULP, Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Jabar, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI Jakarta, Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR.

“Jujur saja kami dari ARM merasa curiga seperti ada sesuatu di balik ini (lelang proyek-red) semua. Padahal beberapa bulan yang lalu kami dari ARM telah melayangkan surat ke Dirjen Bina Marga terkait kinerja PT Seneca Indonesia di lapangan yang kami anggap gagal,” kata Mujahid.

Pada paket pekerjaan Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tahun 2017, kata Mujahid lagi, “Kami menemukan kerusakan yang sangat parah sekali. Anehnya lagi ketika hal tersebut kami laporkan ke Dirjen Bina Marga berikut dengan foto terbaru ketika itu terkait kondisi di lapangan, malah kami mendapat balasan surat dari Dirjen Bina Marga yang jelas tidak nyambung. Masa alasannya hanya terkena air hujan itu jalan bisa rusak separah itu. Padahal sama kita ketahui bersama, bahwa ini adalah masalah teknis pengerjaannya saja yang tak sesuai semestinya. Bukan karena air hujan seperti pernyataan dari Dirjen Bina Marga.”

Lanjut Mujahid, di sinilah awal ada kecurigaan kami tentang dugaan kongkalikong atau main mata antara oknum di ULP Kementerian PUPR, Ditjen Bina Marga dengan kontraktor PT Seneca. “Mengapa kami menaruh curiga demikian, karena sudah jelas pekerjaan pada tahun anggaran (TA) 2017 banyak yang rusak dan dikerjakan tak sesuai yang semestinya. Nah sekarang pada TA 2018 malah memenangkan lelang kembali di wilayah yang sama. Oleh karena itu, kami dari ARM akan tetap membuka tabir apa yang sebenarnya terjadi antara ULP Kemenenterian PUPR, Dirjen Bina Marga dengan PT Seneca. Kami tetap akan telusuri hingga publik tahu bagaimana kinerja pada Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR. Kami berjanji akan membongkar kasus kecurigaan kami ini hingga terang benderang,” tegas Mujahid.

“Jika nanti kami menemukan adanya indikasi kongkalikong atau main mata PT Seneca dengan oknum di ULP Kemen PUPR maupun oknum pada Ditjen Bina Marga, hal ini akan kami kawal ke ranah hukum agar bisa diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku di NKRI,” ujarnya.

Mujahid menguraikan, buruknya kualitas Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts Bandung/Cianjur tahun 2017 yang dikerjakan PT Seneca Indonesia dengan adanya temuan retakan badan jalan, amblasan/penurunan bahu jalan dan dinding penahan tanah. Padahal pada titik tersebut dibangun turap baja (sheet pile) sebagai dinding penahan tanah.

“Harusnya turap baja yang dibangun dapat menyokong badan jalan, tapi nyata turap baja tidak mampu menahan retakan/amblasan badan jalan dan bahu jalan. Dengan terjadinya longsoran/amblas dinding penahan tanah, penurunan dan retakan memanjang (longitudinal) pada badan jalan dan bahu jalan mengakibatkan tingkat kemantapan jalan menjadi menurun,” ujar Mujahid lagi.   

Menanggapi kualitas buruknya kualitas Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts Bandung/Cianjur tahun 2017 yang dikerjakan PT Seneca Indonesia ini, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Marga, Kementerian PUPR Arie Setiadi Moerwanto mengatakan, kerusakan ruas Jalan Cidaun-Bts. Bandung/Cianjur di Km 206+300 yang terjadi penurunan bahu jalan sebelah kanan (dekat pekerjaan sheet pile) disebabkan adanya infiltarasi air yang masuk bahu jalan dan menyebabkan terjadinya penurunan tanah sedalam 10 cm. Akan tetapi, penurunan jalan tidak sampai terjadi longsor pada tanah tersebut karena telah ditahan dengan turap baja (pile sheet).

Penjelasan ini disampaikan Dirjen Bina Marga Arie Setiadi Moerwanto menanggapi buruknya kualitas konstruksi jalan Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur yang dikerjakan kontraktor PT Seneca Indonesia dengan anggaran Rp46,3 miliar pada  tahun 2017.  Proyek pekerjaan ini berada di bawah Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Jabar, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI Jakarta, Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR. Buruknya kualitas konstruksi pekerjaan PT Seneca Indonesia terus mendapat sorotan masyarakat, salah satunya Konsorsium Aliansi Rakyat Menggugat.

Dalam penjelasannya, Arie Setiadi Moerwanto menguraikan, pada bulan November 2017 curah hujan pada ruas Jalan Tegalbuleud-Cidaun-Bts Bandung/Cianjur cukup tinggi sehingga mengakibatkan kerusakan jalan pada beberapa titik, antara lain Km 197+600 ruas Jalan Tegalbuleud-Sindangbarang  (ruas penanganan pemeliharaan rutin jalan), Km 206+300 ruas Jalan Cidaun-Bts. Bandung/Cianjur (segemen 6 ruas penanganan efektif) dan Km 174+450 ruas Jalan Sindangbarang-Cidaun (segmen 4 ruas penanganan efektif).

Ditambahkan Dirjen Bina Marga, Ruas Jalan Cidaun-Bts. Bandung/Cianjur (Km 206+300) merupakan ruas penanganan pelebaran jalan segmen 6 (ruas penanganan efektif) pada paket pekerjaan Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur dengan lingkup pekerjaan pelebaran jalan menuju standar (7 meter) sebelah kiri dan pemasangan turap baja (sheet pile) sepanjang 75 meter sebelah kanan untuk menahan pergerakan tanah (longsor) di lokasi tersebut dan telah dilaksanakan sesuai gambar rencana.

“PPK telah menginstruksikan kontraktor (PT Seneca Indonesia) untuk segera melakukan perbaikan terhadap kerusakan jalan yang masih menjadi tanggung jawab kontraktor dengan penanganan sementara lonsoran  di lokasi penanganan rutin jalan, mengidentifikasi kerusakan dan segera memperbaiki kerusakan di ruas penanganan efektif dan mengidentifikasi lokasi yang rawan bencana/longsor di ruas Jalan Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur,” kata Arie Setiadi Moerwanto dalam keterangannya tertanggal 20 Maret 2018.

Atas instruski PPK ini lanjut Arie, kontraktor PT Seneca Indonesia telah melakukan perbaikan kerusakan, termasuk pada Km 206+300 dan berdasarkan laporan PPK di lapangan per Maret 2018 tidak terdapat kerusakan atau penurunan bahu jalan dan penurunan dinding penahan tanah  telah dipasang.      

Terkait penjelasan Dirjen Bina Marga Arie Setiadi Moerwanto ini, Ketua Umum ARM mengatakan kepada Medikom di Bandung, Jumat (30/3), jika memang Dirjen Bina Marga menemukan infiltrasi air hujan yang menyebabkan kerusakan jalan ruas Jalan Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur berupa retakan badan jalan dan penurunan bahu jalan serta longsoran dinding penahan tanah, ARM menilai Dirjen Bina Marga tidak objektif.

“Soalnya pada titik retakan badan jalan dan penurunan bahu jalan serta longsoran dinding penahan tanah jutsru telah dibangun turap baja agar bisa menjadi penahan tanah dan badan jalan. Artinya, kualitas konstruksi turap baja yang dibanguna PT Seneca Indonesia tidak kokoh menahan tanah dan badan jalan sehingga akibat infiltrasi air hujan pun terjadi retakan badan jalan dan penurunan bahu jalan serta longsoran dinding penahan tanah,” kata Mujahid.

Lanjut Mujahid menegaskan, ARM menilai Dirjen Bina Marga justru menjadikan air hujan sebagai kambing hitam penyebab kerusakan jalan ruas Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur. ARM  sangat menyayangkan air hujan yang dijadikan kambing hitam oleh Dirjen Bina Marga sebagai penyebab kerusakan jalan senilai Rp46,3 miliar ini,

“Berdasarkan pengamatan kami di lapangan (Km 206+300), dinding penahan tanah yang dibangun dengan turap baja harusnya dilengkapi sistem drainase. Namun faktanya di lapangan, dinding penahan tanah yang dibangun di bawah permukaan jalan dalam pekerjaan Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tidak ditemukan drainase pada dinding penahan tanah. Kemudian pada sisi kiri dan kanan badan jalan juga tidak ada dibangun drainase sebagai saluran pembuangan air,” ujar  Mujahid yang sejak tahun 2014 rajin memantau proyek Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Jabar, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI Jakarta, Direktorat Jenderal Bina Marga di Jabar selatan.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat kata Mujahid, ARM  melihat Dirjen Bina Marga Arie Setiadi Moerwanto terlalu membela kepentingan kontraktor PT Seneca Indonesia dalam mengungkap penyebab terjadinya kerusakan ruas jalan proyek Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tahun 2017. “Ada apa kepentingan Dirjen Bina Marga Arie Setiadi Moerwanto terlalu membela kepentingan kontraktor PT Seneca Indonesia,” tanya Mujahid terheran.

“Sesuai tanggapan yang kami terima, dalam isi surat tersebut kami menemukan adanya dugaan upaya untuk menutup-nutupi realitas yang ada di lapangan. Bahkan kami juga menerima foto upaya perbaikan jalan yang dilakukan oleh pihak PT Seneca Indonesia. Dalam foto kondisional yang kami terima dalam upaya perbaikan itu terkesan sangat asal-asalan sekali. Jalan yang rusak dan mengalami retakan panjang tersebut hanya dipoles dengan adukan semen. Itupun terkesan asal-asalan,” urai Mujahid lagi.

Merujuk pada keterangan Dirjen Bina Marga di atas, Mujahid dengan berapi-api mengatakan, ”Kami akan menyurati Bapak Presiden RI, Bapak Menteri PUPR, Ketua DPR-RI juga instansi terkait lainnya agar temuan kami tersebut bisa segera disikapi. Bila perlu kami mendesak kepada Presiden melalui Menteri PUPR agar segera mengganti Dirjen Bina Marga pada Kementerian PUPR sebab kami curiga ada kongkalikong di balik proyek tersebut dengan oknum pada Dirjen Bina Marga PUPR.”

“Selanjutnya kami juga mendesak kepada ULP pada Kementerian PUPR agar mem-blacklist pihak ketiga dalam hal ini PT. Seneca Indonesia yang kami nilai telah gagal merealisasikan program pemerintah pada proyek paket preservasi dimaksud. Kami juga mendesak agar (ULP) menganulir keikutsertaannya dalam lelang TA 2018,” imbau Mujahid.

Mujahid menjelaskan, sebelumnya ARM telah menyurati Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR pada 21 Pebruari 2018 dengan No Surat: 006/B/Konfirmasi/ARM/II/2018, tentang Paket Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud-Cidaun-Bts.Bandung/Cianjur. Kemudian ARM  mendapatkan tanggapan dari Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR, tertanggal 20 Maret 2018 dengan Surat Nomor: JL-02.02-06/273 yang ditandatangani oleh Plt Direktur Jenderal Bina Marga Arie Setiadi Moerwanto.

 

Kepala Balai Besar PJN VI Jakarta Ir Atyanto Busono MT bungkam

Terkait buruknya hasil pekerjaan PT Seneca Indonesia dalam Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tahun 2017, Medikom mengonfirmasi masalah tersebut kepada Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Jabar. Wahyu Budi Wiyono selaku Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Jabar kepada Medikom menjelaskan, Rabu (28/2/2018),  pihaknya tidak berwenang memberikan informasi terkait Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tersebut.

Budi mengatakan, Medikom harus meminta penjelasan kepada Kepala Balai Besar Pelasaksanaan Jalan Nasional VI Jakarta terkait dengan buruknya hasil pekerjaan PT Seneca Indonesia dalam Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur. Namun hingga saat ini, Kepala Balai Besar Pelasaksanaan Jalan Nasional VI Jakarta Ir Atyanto Busono MT yang dikonfirmasi Medikom sejak tanggal 2 Maret 2018 lalu tidak memberikan penjelasan hingga saat ini.

Permasalahan buruknya hasil pekerjaan PT Seneca Indonesia dalam Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tahun 2017 ini justru cepat direspons oleh Kepala Unit Layanan Pengadaan Pusat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Ir Sumito. Kepada Medikom, Selasa (27/2/2018) Sumito menjelaskan, laporan kejanggalan “Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tahun 2017” yang dikonfirmasi Medikom kepada Kepala Unit Layanan Pengadaan Pusat, agar ditujukan kepada Inspektorat Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan disertai dengan bukti-bukti yang kuat untuk dapat ditindaklanjuti lebih kuat.

Sebaliknya, Direktur Utama PT Seneca Indonesia yang dikonfirmasi Medikom tentang buruknya hasil pekerjaan PT Seneca Indonesia dalam Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tahun 2017 ini tidak ada memberikan penjelasan. Sejak dikonfimasi pada tanggal 1 Maret 2018, Direktur Utama PT Seneca Indonesia hingga saat ini tidak mau memberikan penjelasan kepada Medikom.

 

PT Seneca Indonesia merajai proyek jalan Ditjen Bina Marga di Jabar

Kontraktor PT. Seneca Indonesia merajai proyek jalan Ditjen Bina Marga di wilayah Provinsi Jabar. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya paket proyek jalan Ditjen Bina Marga yang dimenangkan dan dilaksanakan oleh PT Seneca Indonesia di wilayah Jabar.

Meskipun secara kuantitas paket proyek jalan yang dimenangkan PT Seneca Indonesia jumlahnya banyak, namun Furqon Mujahid Bangun sangat menyayangkan karena proyek jalan yang dilaksanakan PT Seneca Indonesia kualitasnya buruk. Salah satunya paket Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tahun 2017. 

Dikatakan Mujahid, meskipun proyek ini dikerjakan baru pada tahun 2017 lalu, namun berdasarkan pantauan ke lokasi proyek di awal Januari 2018 lalu, pekerjaan jalan tersebut telah rusak. “Dinding penahan tanah amblas, sedangkan badan jalan mengalami retakan dan penurunan bahu jalan,” kata Mujahid.

“Berdasarkan pengamatan kami selama ini di lapangan, kontraktor PT Seneca Indonesia selalu memenangkan sejumlah paket pekerjaan Ditjen Bina Marga yang lebih  atau paling banyak dibanding dengan kontraktor lain di wilayah Provinsi Jawa Barat,” ujar Mujahid lagi. Berdasarkan pantauan ARM di lapangan, berikut ini rincian proyek jalan Ditjen Bina Marga yang dimenangkan dan dilaksanakan  PT. Seneca Indonesia.

 

No

Paket Tahun Anggaran 2017

Nilai Kontrak (Rp)

1

Paket Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur

46.366.534.441

2

Paket Preservasi Pelebaran Cidaun - Cijayana - Cipatujah

49.843.646.765

3

Preservasi Rekonstruksi Jalan Cikampek - Subang - Pamanukan

67.893.743.043

4

Paket Preservasi Rajamandala-Cimahi-Bandung

49.061.943.809

 

 

 

 

Paket Tahun Anggaran 2016

Nilai Kontrak (Rp)

5

Preservasi Rekonstruksi Jalan Karawang-Purwakarta-Pamanukan

65.872.327.180

6

Preservasi Rehabilitasi Mayor Jalan Pamanukan - Lohbener - Palimanan

48.841.455.954

 

 

 

 

Paket Tahun Anggaran 2015

Nilai Kontrak (Rp)

7

Paket Peningkatan Struktur / Rekonstruksi Jalan Bts. Kota Karawang - Bts. Kota Cikampek - Bts. Kab. Subang / Karawang

58.232.292.448

8

Paket Peningkatan Struktur / Rekonstruksi Jalan Bts. Kota Pamanukan - Sewo - Lohbener

48.093.440.499

9

Paket Tegalbuleud (Cibuni) - Agrabinta - Sindangbarang (PA 1)

56.079.999.792

 

 

 

 

Paket Tahun Anggaran 2014

Nilai Kontrak (Rp)

10

Paket Peningkatan Struktur / Rekonstruksi Jalan Pangkal Perjuangan (Karawang)

41.300.000.000

11

Paket Peningkatan Struktur / Rekonstruksi Jalan Bts. Kota Pamanukan - Sewo

34.100.138.108

12

Paket Peningkatan Struktur / Rekonstruksi Jalan Sewo - Patrol

42.707.844.251

13

Paket Rekonstruksi / Peningkatan Struktur Jalan Cijayana - SP. Cilauteureun - Pamengpeuk

49.909.486.190

14

Paket Rekonstruksi / Peningkatan Struktur Jalan Bts. Kab Tasikmalaya/Garut - Rajapolah

31.317.488.345

Melihat potret pekerjaan proyek Ditjen Bina Marga di Jabar, Ketua Umum ARM mengatakan, “Kami dari seluruh jajaran  Konsorsium Aliansi Rakyat Menggugat mendesak Ketua Komisi V DPR RI dan anggotanya untuk memangggil Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Jabar Wahyu Budi Wiyono, Kepala Balai Besar Pelasaksanaan Jalan Nasional VI Jakarta Ir Atyanto Busono MT, dan Direktur Utama PT Seneca Indonesia Efferin. Dalam menjalangkan fungsi pengawasannya, Komisi V DPR harus bisa mengungkap penyebab buruknya kualitas proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tersebut,” tegas Mujahid. 

(Penulis: IthinK)