Perusak Segel Tokma Terancam Pidana
Senin, 10 April 2017 | 8 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 330 kali
Segel Tokma dirusak

SUBANG, Medikom - Toko modern TOKMA di Jalan Raya Pagaden-Subang, kawasan Desa Sukamulya Kecamatan Pagaden, yang ditutup Satpol PP dibantu aparat TNI/Polri pada Kamis, 30 Maret 2017 lalu sempat kembali beroperasi pada Minggu, 2 April 2017. Pada saat beroperasi tersebut, segel yang dipasang petugas Satpol PP untuk menutup toko itu rusak.

Namun Senin, 3 April 2017, petugas gabungan Satpol PP dibantu aparat TNI dan Polri, serta pihak terkait kembali bertindak tegas, menutup paksa operasional toko itu karena belum memenuhi kelengkapan izin.

“Alhamdulillah, penyegelan kembali toko ini berlangsung kondusif. Malah kuasa hukumnya juga menyadari (kesalahannya),” ujar Plt Kepala Satpol PP Subang Yosep Pramastony.

Yosep menegaskan, pelaku dan otak perusak segel, telah dilaporkan kepada Polres Subang. “Mereka (perusak segel) kini ditangani polres Subang, jumlahnya dua orang. Semuanya karyawan TOKMA yang disuruh oleh manajemen,” katanya.

Dia menegaskan, para pelaku perusakan segel tersebut terancam dikenakan Pasal 232 KUHP. “Ancaman hukumannya 4 tahun penjara, karena merusak segel aparat berwenang,” tegasnya.

Selain di toko Pagaden, pihaknya, juga kembali menghentikan operasional pembangunan TOKMA di wilayah Cadika, Subang, yang sebelumnya sudah sempat disegel.

“Kami dapat laporan adanya perusakan segel penghentian pembangunan di Cadika. Mereka merusak segel dan tetap melanjutkan pembangunan, di antaranya melakukan pembangunan pemasangan paving block. Padahal sebelumnya sudah diperintahkan untuk menghentikannya,” jelasnya.

Sementara itu, kuasa hukum TOKMA, Erwin, enggan berkomentar banyak mengenai pengrusakan segel. "Justru saya tidak tau kalo segel di buka, saya baru tau sekang, dari jakarta saya langsung ke sini," jelasnya.

Pihaknya, juga mengaku, masih tetap akan menempuh prosedur untuk melengkapi perizinan. “Bukan kapasitas saya yang menjawab. Nanti manajemen saja yang menjawab,” ucapnya.

(Penulis: Mala/Editor: Mbayak Ginting)