Proyek Jalan Ditjen Bina Marga di Jabar Selatan Amblas Hanya Karena Air Hujan, ARM Menilai Kualitas Konstruksi Jalan di Era Presidena Jokowi Melemah
Senin, 23 April 2018 | 2 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 145 kali
Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur yang dikerjakan PT Seneca Indonesia, kini sudah rusak dengan terjadinya amblas pada bahu jalan dan retakan badan jalan serta amblas dinding penahan tanah. (foto: medikom)

BANDUNG, Medikomonline.com – Kondisi kualitas konstruksi proyek jalan Direktorat Jenderal Bina Marga – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan di wilayah Jawa Barat selatan sangat memprihatinkan karena hanya terkena air hujan saja mengalami amblas dan retakan pada badan dan bahu jalan. Kerusakan proyek jalan ini terjadi pada Paket Pekerjaan Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tahun 2017 yang dikerjakan kontraktor PT Seneca Indonesia.

Proyek Paket Preservasi Rehabilitasi Bagbagan – Jampangkulon – Tegalbuleud yang menelan Rp47,5 miliar  berada di bawah Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Jabar, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI Jakarta, Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR.

Penyebab amblas dan retakan jalan pada Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts Bandung/Cianjur tahun 2017 dijelaskan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Marga, Kementerian PUPR Arie Setiadi Moerwanto. Dalam surat penjelasan tertulis Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR, tertanggal 20 Maret 2018 dengan Surat Nomor: JL-02.02-06/273 yang ditandatangani oleh Plt Direktur Jenderal Bina Marga Arie Setiadi Moerwanto menjelaskan, kerusakan ruas Jalan Cidaun-Bts. Bandung/Cianjur di Km 206+300 yang terjadi penurunan bahu jalan sebelah kanan (dekat pekerjaan sheet pile) disebabkan adanya infiltarasi air yang masuk bahu jalan dan menyebabkan terjadinya penurunan tanah sedalam 10 cm. Akan tetapi, penurunan jalan tidak sampai terjadi longsor pada tanah tersebut karena telah ditahan dengan turap baja (pile sheet).

Dalam penjelasannya, Arie Setiadi Moerwanto menguraikan, pada bulan November 2017 curah hujan pada ruas Jalan Tegalbuleud-Cidaun-Bts Bandung/Cianjur cukup tinggi sehingga mengakibatkan kerusakan jalan pada beberapa titik, antara lain Km 197+600 ruas Jalan Tegalbuleud-Sindangbarang  (ruas penanganan pemeliharaan rutin jalan), Km 206+300 ruas Jalan Cidaun-Bts. Bandung/Cianjur (segemen 6 ruas penanganan efektif) dan Km 174+450 ruas Jalan Sindangbarang-Cidaun (segmen 4 ruas penanganan efektif).

Ditambahkan Dirjen Bina Marga, Ruas Jalan Cidaun-Bts. Bandung/Cianjur (Km 206+300) merupakan ruas penanganan pelebaran jalan segmen 6 (ruas penanganan efektif) pada paket pekerjaan Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur dengan lingkup pekerjaan pelebaran jalan menuju standar (7 meter) sebelah kiri dan pemasangan turap baja (sheet pile) sepanjang 75 meter sebelah kanan untuk menahan pergerakan tanah (longsor) di lokasi tersebut dan telah dilaksanakan sesuai gambar rencana.

“PPK telah menginstruksikan kontraktor (PT Seneca Indonesia) untuk segera melakukan perbaikan terhadap kerusakan jalan yang masih menjadi tanggung jawab kontraktor dengan penanganan sementara lonsoran  di lokasi penanganan rutin jalan, mengidentifikasi kerusakan dan segera memperbaiki kerusakan di ruas penanganan efektif dan mengidentifikasi lokasi yang rawan bencana/longsor di ruas Jalan Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur,” kata Arie Setiadi Moerwanto dalam keterangannya tertanggal 20 Maret 2018.

Atas instruski PPK ini lanjut Arie, kontraktor PT Seneca Indonesia telah melakukan perbaikan kerusakan, termasuk pada Km 206+300 dan berdasarkan laporan PPK di lapangan per Maret 2018 tidak terdapat kerusakan atau penurunan bahu jalan dan penurunan dinding penahan tanah  telah dipasang.     

Menanggapi penyebab amblas dan retakan jalan pada Paket Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud-Cidaun-Bts.Bandung/Cianjur sebagaimana dijelaskan Dirjen Bina Marga, Ketua Umum Konsorsium Aliansi Rakyat Menggugat (ARM) Furqon Mujahid Bangun kepada Medikom, Sabtu (21/4) mengatakan,   Direktur Jenderal Bina Marga terlalu memihak kepada kepentingan kontraktor PT. Seneca Indonesia selaku pelaksana Paket Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur.

“Dengan mengkambinghitamkan air hujan sebagai penyebab amblas dan retakan jalan tersebut,  Direktur Jenderal Bina Marga tidak memberikan penjelasan yang objektif terkait penyebab keruskan jalan pada proyek Paket Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur dengan hanya menyalahkan air hujan semata, berupa infiltrasi air hujan yang masuk bahu jalan dan menyebabkan terjadinya pergerakan/penurunan tanah sedalam 10 cm,” ujar Mujahid.

Ditambahkan Mujahid, Dirjen Bina Marga bahkan tidak menjelaskan spesifikasi teknis dan kekuatan turap baja (pile sheet) dan dinding penahan tanah yang dibangun pada proyek Paket Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur oleh kontraktor PT. Seneca Indonesia, sehingga kerusakan jalan berupa retakan badan jalan, amblas bahu jalan dan dinding penahan tanah di Km 206+300 ruas Jalan Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur hanya karena infiltrasi air hujan yang masuk bahu jalan dan menyebabkan terjadinya pergerakan/penurunan tanah sedalam 10 cm.

“Artinya, Direktur Jenderal Bina Marga melihat pekerjaan PT. Seneca Indonesia telah sempurna pada Paket Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur sehingga kalaupun terjadi kerusakan jalan berupa retakan badan jalan, amblas bahu jalan dan dinding penahan tanah hanyalah air hujan sebagai penyebabnya atau menjadi kambing hitam,” ujarnya.

Jika kerusakan jalan pada Paket Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur hanya disebabkan infiltrasi air hujan yang masuk bahu jalan dan menyebabkan terjadinya pergerakan/penurunan tanah sedalam 10 cm, Konsorsium ARM menilai pembangunan turap baja ((pile sheet) dan dinding penahan tanah tidak ada manfaatnya karena hanya menghabiskan anggaran negara saja.

“Penyebab kerusakan jalan pada Paket Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur yang disebutkan oleh Direktur Jenderal Bina Marga hanya karena infiltrasi air hujan yang masuk bahu jalan dan menyebabkan terjadinya pergerakan/penurunan tanah sedalam 10 cm tidak memberikan pencerahan kepada masyarakat secara objektif,” kata Mujahid lagi. 

Lanjutnya, Konsorsium ARM  melihat selama ini di lapangan bahwa sejak tahun 2014 kontraktor PT. Seneca Indonesia memenangkan proyek jalan Direktorat Jenderal Bina Marga yang paling (lebih) banyak jumlahnya di wilayah Provinsi Jawa Barat bila dibandingkan dengan kontraktor lainnya. Kondisi ini rentan menimbulkan konflik kepentingan oknum pejabat Direktorat Jenderal Bina Marga dengan pihak PT. Seneca Indonesia. Bahkan pada tahun 2018 kontraktor PT. Seneca Indonesia masih memenangkan proyek jalan Direktorat Jenderal Bina Marga di wilayah Provinsi Jawa Barat.

Menurut Mujahid, keberpihakan Direktur Jenderal Bina Marga kepada PT. Seneca Indonesia dalam proyek Paket Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur yang rentan pada KKN akan membuat masyarakat semakin tidak percaya pada Kementerian PUPR di bawah Pemerintahan Presiden Joko Widodo. “Oleh karena itu, opini publik hastag #2019 Ganti Presiden yang sedang menguat saat ini, mencerminkan semakin tingginya ketidakpercayaan masyarakat kepada pejabat pemerintah,” ujar Mujahid.    

Lebih jauh Mujahid menjelaskan, sesuai dengan fakta lapangan yang ditemukan di lokasi pekerjaan Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur, Konsorsium ARM  menemukan indikasi penyimpangan dan kerusakan jalan. Terjadinya longsoran/amblas atau penurunan dinding penahan tanah yang dibangun dalam pekerjaan Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur, mengakibatkan terjadinya penurunan dan retakan memanjang (longitudinal) pada badan jalan dan bahu jalan yang dalam pekerjaan Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur.

Dikatakannya, dengan adanya pembangunan turap baja (sheet pile) di lokasi retakan dan amblasan jalan tersebut, maka dinding penahan tanah harusnya dapat menyokong badan jalan. Namun faktanya di lapangan, dinding penahan tanah tidak kuat menyokong badan jalan. Kondisi ini diduga kuat terjadi karena pembangunan dinding penahan tanah dilakukan tidak sesuai  dengan spesifikasi teknis sehingga mutu konstruksinya lemah dan cepat rusak,  serta tidak sesuai dengan Sistem Manajemen Mutu Kementerian Pekerjaan Umum.      

“Dengan adanya pembangunan turap baja (sheet pile) di lokasi retakan dan amblasan jalan tersebut, dinding penahan tanah harusnya mampu menahan gaya vertikal dan horizontal yang menjadi bebannya, sesuai dengan pertimbangan mekanika tanah dan geoteknik. Namun faktanya di lapangan, dinding penahan tanah tidak kuat menahan gaya vertikal dan horizontal yang menjadi bebannya sehingga terjadi penurunan dan retakan pada badan jalan dan bahu jalan. Kondisi ini diduga kuat terjadi karena pembangunan turap baja/pembangunan dinding penahan tanah dilakukan tidak sesuai  dengan spesifikasi teknis sehingga mutu konstruksinya lemah dan cepat rusak, serta tidak sesuai dengan Sistem Manajemen Mutu Kementerian Pekerjaan Umum,” urai Mujahid.       

Selain itu katanya, dinding penahan tanah harusnya dibangun dengan konstruksi yang awet dan mudah dipelihara serta dengan faktor keamanan yang memadai. Namun faktanya di lapangan, dinding penahan tanah yang dibangun di bawah permukaan jalan dalam pekerjaan Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur, tidak awet sehingga terjadi penurunan dan retakan pada badan jalan dan bahu jalan.

“Dinding penahan tanah harusnya dilengkapi sistem drainase. Namun faktanya di lapangan, dinding penahan tanah yang dibangun di bawah permukaan jalan dalam pekerjaan Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tidak ditemukan drainase pada dinding penahan tanah,” kata Mujahid.  

Dengan terjadinya longsoran/amblas atau penurunan dinding penahan tanah, dan penurunan dan retakan memanjang (longitudinal) pada badan jalan dan bahu jalan mengakibatkan tingkat kemantapan jalan menjadi menurun, sehingga penggunaan anggaran pekerjaan Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur menjadi tidak efektif dan efesien.

“Dengan terjadinya longsoran/amblas bahu jalan atau penurunan dinding penahan tanah, dan penurunan dan retakan memanjang (longitudinal) pada badan jalan dan bahu jalan, penggunaan anggaran pekerjaan Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tidak mampu mewujudkan keselamatan, keamanan, kelancaran, ekonomis, dan kenyamanan jalan bagi masyarakat,” ujarnya lagi.

 

Kepala Balai Besar PJN VI Jakarta Ir Atyanto Busono MT bungkam

Terkait buruknya hasil pekerjaan PT Seneca Indonesia dalam Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tahun 2017, Medikom mengonfirmasi masalah tersebut kepada Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Jabar. Wahyu Budi Wiyono selaku Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Jabar kepada Medikom menjelaskan, Rabu (28/2/2018),  pihaknya tidak berwenang memberikan informasi terkait Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tersebut.

Budi mengatakan, Medikom harus meminta penjelasan kepada Kepala Balai Besar Pelasaksanaan Jalan Nasional VI Jakarta terkait dengan buruknya hasil pekerjaan PT Seneca Indonesia dalam Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur. Namun hingga saat ini, Kepala Balai Besar Pelasaksanaan Jalan Nasional VI Jakarta Ir Atyanto Busono MT yang dikonfirmasi Medikom sejak tanggal 2 Maret 2018 lalu tidak memberikan penjelasan hingga saat ini.

Permasalahan buruknya hasil pekerjaan PT Seneca Indonesia dalam Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tahun 2017 ini justru cepat direspons oleh Kepala Unit Layanan Pengadaan Pusat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Ir Sumito. Kepada Medikom, Selasa (27/2/2018) Sumito menjelaskan, laporan kejanggalan “Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tahun 2017” yang dikonfirmasi Medikom kepada Kepala Unit Layanan Pengadaan Pusat, agar ditujukan kepada Inspektorat Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan disertai dengan bukti-bukti yang kuat untuk dapat ditindaklanjuti lebih kuat.

Sebaliknya, Direktur Utama PT Seneca Indonesia yang dikonfirmasi Medikom tentang buruknya hasil pekerjaan PT Seneca Indonesia dalam Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tahun 2017 ini tidak ada memberikan penjelasan. Sejak dikonfimasi pada tanggal 1 Maret 2018, Direktur Utama PT Seneca Indonesia hingga saat ini tidak mau memberikan penjelasan kepada Medikom.

 

Kualitas konstruksi jalan di era Presidena Jokowi melemah

Ketua Umum ARM  menilai kualitas konstruksi proyek jalan di era Presiden Joko Widodo (Jokowi) melemah. Tidak konstruksi jalan Proyek Preservasi Rehabilitasi Tegalbuleud - Cidaun - Bts. Bandung/Cianjur tahun 2017 yang amblas dan retak, tetapi juga beberapa proyek jaln lainnya mengalami ambruk.     

Mujahid mencontohkan, Proyek Jalan Tol Manado-Bitung roboh, Selasa (17/4/2018). Dua karyawan proyek Sugeng dan Dadi  meninggal dunia karena tertimbun di bawah material bangunan proyek tol Manado-Bitung.

Kemudian tiang pancang proyek jalan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) di ruas Jalan DI Pandjaitan, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (20/2/2018) dini hari rubuh. Akibat peristiwa ini, tujuh pekerja dikabarkan menjadi korban.

Selanjutnya, Girder ambruk di Proyek Tol Pemalang-Batang ketika hendak dipasang, Sabtu (30/12/2017). Balok penopang atau girder beton pengerjaan jembatan layang atau flyover Tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro) yang sedang dipasang ambruk atau roboh dan menimpa pekerja, Minggu (29/10/2017). Akibat kecelakaan itu, satu orang tewas dan dua orang korban terluka berat.

Selain itu, jembatan tol penyeberangan orang atau jembatan over pass di Jalan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) juga ambruk, Jumat (22/9/2017) pukul 18.00 WIB. Jembatan itu berlokasi di Kampung Tenggek, Desa Cimande Hilir, Kecamatan Caringin, Bogor, masih dalam proses pembangunan. Akibat kejadian itu, Maman seorang pekerja proyek asal Ciledug tewas di tempat. Sementara dua orang lainnya yaitu Saripudin mengalami patah tulang di bagian kaki kanan dan Darwin mengalami luka sobek.

Pelemahan konstruksi proyek jalan ini dinilai Mujahid dapat menimbulkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah berkurang. Direktorat Jenderal Bina Marga – Kementerian PUPR dinilai menjadi pihak yang paling bertanggungjawab dalam pengerjaan proyek jalan yang dibiayai dana APBN ini.

Mujahid menguraikan, saat ini opini publik hastag #2019 Ganti Presiden sedang menguat. Kondisi ini mencerminkan semakin tingginya ketidakpercayaan masyarakat kepada kinerja pejabat pemerintah. “Salah satunya bias dari pengerjaan proyek jalan di Direktorat Jenderal Bina Marga ,” ujar Mujahid.    

(Penulis: IthinK)