Proyek Pembangunan Masjid di Pangandaran Mati Suri, Pekerja Tuntut Diskimrum Jabar
Jumat, 06 Oktober 2017 | 2 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 99 kali
Proyek pembangunan lanjutan masjid yang didanai anggaran APBD Provinsi Jawa Barat ditinggalkan para pekerja lantaran belum mendapatkan upah kerjanya. (Foto: Wartawan Medikom Agus Kucir)

Semestinya proyek pembangunan infrastruktur di daerah akan menggairahkan sektor usaha lainnya di sekitar tempat kegiatan seperti toko matrial ataupun para pedagang makanan. Namun pada pembangunan Masjid Jami di Bundaran Emplak Kalipucang Kabupaten Pangandaran, selain menelantarkan para pekerja karena tidak dibayar, para pedagang makanan pun kelimpungan sebab dagangannya dikemplang.

PANGANDARAN, Medikomonline.com – Proyek pembangunan Masjid Jami yang beralamat di Dusun Emplak RT 02/01 Desa Emplak tepatnya di Bundaran Emplak Kalipucang Kabupaten Pangandaran diduga menuai masalah. Pasalnya, pembangunan masjid yang didanai dari APBD Provinsi Jawa Barat tersebut tak jelas kelanjutannya.

   Isu belum dibayarkannya upah pekerja juga jadi persoalan yang medasar. Pihak pengembang pun dianggap tidak bertanggung jawab atas mati surinya proyek pembangunan masjid tersebut.

   "Saya selaku pekerja selama 3 minggu hingga ada yang 1 bulan lebih mereka belum dibayar. Saya ini punya anak istri di rumah yang perlu makan setiap harinya. Mereka di kampung menunggu kiriman uang dari saya selama bekerja di proyek ini, dan saya saat ini bingung mau ngirim uang ke keluarga pakai apa? Sementara hampir ratusan bekerja di proyek ini hingga sekarang belum dibayar. Ketika ditanya kepada kontraktor atau mandor dari proyek, saya hayanya mendapatkan janji-janji saja dari kontraktor katanya mau dibayar tapi kapan," ucap Iding kesal, Jumat (15/09/2017).

   Hal senada juga diungkapkan para pedagang makanan dan nasi, sebut saja Sari (29) penjual nasi, yang setiap harinya melayani para pekerja. Sari kaget hingga jatuh pingsan setelah mengetahui semua pekerja pulang kampung tanpa terlebih dahulu membayar hutang-hutangnya kepada warung miliknya.

   "Para pegawai proyek kontraktor dan pegawai bangunan katanya sudah pada pulang, terus terang saya kaget, karena utang mereka kepada warung saya saja sangat besar hingga puluhan juta belum lagi warung nasi lainya. Ya ada sampai 15 jutaan,” ungkapnya sambil menangis.

   PT Daya Tunas Mekarwangi sebagai perusahaan yang memenangkan proyek tersebut dianggap mangkir dari tanggung jawab. Padahal pembayaran para pekerja maupun ke toko matrial tidak begitu besar jika dibandingkan dari jumlah anggaran pekerjaan hingga hampir Rp 9,3 miliar.

   Diketahui pembangunan lanjutan masjid ini didanai dari dana APBD Provinsi Jawa Barat dengan jumlah anggaran Rp9.344.507.000, dengan No SPK 602.1/03/SP/22.80/PMPJB-KB PGDRN/VI/2017. Atau terhitung dari tanggal 15 Juni hingga 9 Desember 2017 atau 180 hari masa dikerjakannya oleh PT Daya Tunas Mekarwangi selaku pemenang tender.

   Para pekerja pun menuntut Dinas Perumahan dan Permukiman Jawa Barat bertanggung jawab dan segera turun ke lapangan untuk mengkaji adanya dugaan kuat pembangunan proyek masjid ini disubkan oleh PT Daya Tunas Mekarwangi selaku pemenang tender kepada pihak lain. Hal ini tentu harus dikaji ulang kembali karena dugaan kuat dalam pengalokasian dana anggaran untuk pembangunan masjid diduga disunat terlebih dahulu. Sehingga PT Daya Tunas Mekarwangi secara teknis harus bertanggung jawab atas tidak bisa dan belum membayar para pekerja bahkan kepada toko matrial setempat.

   "Artinya PT Daya Tunas Mekarwangi selaku pemenang tender dalam melaksanakan pekerjaan proyek ini dianggap sudah tidak sehat lagi dalam pengalokasian anggaran belanjanya. Untuk itu masyarakat berharap agar dinas terkait segera turun tangan," tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, Medikom belum bisa mengkonfirmasi lebih lanjut terkait mati surinya pembangunan proyek masjid ini. Apalagi dugaan kuat disubkannya (dioperalihkan pada pihak pengembang lain) diduga menjadi alasan hingga proyek ini diduga kuatterbengkalai. 

(Penulis: Agus Kucir/Editor: Mbayak Ginting)