Tulang Besi Bendung Cibogo Cijangkelok Terurai, Kejati Jabar Didesak PeriksaDugaan Korupsi Pejabat Dinas Sumber Daya Air Jabar
Rabu, 01 November 2017 | 1 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 60 kali
Foto bawah: Tulang besi Bendung Cibogo/Cijangkelok sudah terurai dan tercerai berai karena lapisan coran beton yang melapisi besi sudah terkikis. Foto atas: Apit Bachrul dan Rudi

BANDUNG, Medikomonline.com –  Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jabar yang baru dipimpin oleh Loeke Larasati Agoestina diminta oleh Konsorsium Aliansi Rakyat Menggugat bergerak cepat untuk melakukan tindakan pemberantasan korupsi di Pemerintah Provinsi Jabar. “Salah satunya dugaan korupsi dan penyimpangan proyek Rehabilitasi Bendung Cibogo/Cijangkelok di Dinas Sumber Daya Air Jabar,” kata Ketua Umum Konsorsium ARM  kepada Medikom, Sabtu (28/10/2017) di Bandung.

Mujahid mengatakan, para aktivis Konsorsium ARM mendesak jajaran penegak hokum Kejati Jabar untuk segera memeriksa pejabat Dinas Sumber Daya Air terkait proyek Rehabilitasi Bendung Cibogo/Cijangkelok tersebut. Ketika proyek ini dilaksanakan oleh Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung pada Dinas Sumber Daya Air Jabar tahun 2015 lalu, ada dua orang pejabat Balai PSDA Sungai Cimanuk – Cisanggarung yang bertanggung jawab, yaitu Apit Bachrul ST MSi selaku Kepala Balai PSDA Sungai Cimanuk – Cisanggarung dan Rudi selaku Kepala Seksi di Balai PSDA Sungai Cimanuk – Cisanggarung.

Namun kata Mujahid, kedua pejabat Dinas Sumber Daya Air Jabar ini sekarang menjabat di Balai PSDA Citarum.  Apit Bachrul sekarang sebagai Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Citarum dan Ir Rudi - Kepala Seksi Irigasi Pada Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Citarum.

Mengenai indikasi penyimpangan proyek Rehabilitasi Bendung Cibogo/Cijangkelok, Mujahid menjelaskan, tulang besi yang dirangkai pada proyek Rehabilitasi Bendung Cibogo/Cijangkelok kondisinya kini sudah terurai cerai berai lantaran adukan coran beton yang melapisi tulang besi sudah terkikis habis. Padahal tulang besi pada beton Bendung Cibogo/Cijangkelok sejatinya untuk membuat bendung menjadi kokoh.

Tapi apa dikata, ibarat nasi sudah menjadi bubur. Proyek Rehabilitasi Bendung Cibogo/Cijangkelok yang menelan anggaran Rp7,9 miliar APBD Jabar tahun 2015 ini yang direncanakan kokoh membendung air, kini kondisi bendung sudah rapuh dengan tulang besi yang terurai.

Pertanyaannya, mengapa coran beton yang melapisi tulang besi cepat sekali rapuh dan terkikis? Menurut Furqon Mujahid, kekuatan beton dalam proyek Rehabilitasi Bendung Cibogo/Cijangkelok sudah tidak teruji kekokohannya karena hanya dalam jangka waktu dua tahun sudah rapuh.        

Mejahid menilai, dalam proyek Rehabilitasi Bendung Cibogo/Cijangkelok ada indikasi penyimpangan dan dugaan korupsi. “Oleh karena itu, aroma dugaan korupsi pejabat Dinas Sumber Daya Air Jabar yang kini dipimpin Nana Nasuha Djuhri harus digerai (dikorek/digali-red) oleh para penegak hokum,” ujar Mujahid.

Mujahdi sangat menyayangkan bangunan Bendung Cibogo/Cijangkelok yang mengguanakan anggaran miliaran rupiah ini cepat rusak. “Padahal bendung ini berfungsi mempertinggi elevasi air sungai dan membelokkan air agar dapat mengalir ke saluran dan masuk ke sawah untuk keperluan irigasi,” urainya.

Untuk itu kata Mujahid, penyebab rusaknya Bendung Cibogo/Cijangkelok harus digerai agar menjadi pembelajaran bagi semua pihak terkait, khususnya pejabat Dinas Sumber Daya Air Jabar dan kontraktor pelaksana. “Dalam pengadaan barang  dan jasa pemerintah itu memang harus mengedepankan efesiensi dan efektivitas agar tepat sasaran dan bermanfaat bagi masyarakat. Jika bendung cepat rusak, artinya penggunaan anggaran Rehabilitasi Bendung Cibogo/Cijangkelok sebesar Rp7,9 miliar tidak efesien dan efektif,” katanya.

Lanjut Mujahid, untuk mengungkap penyebab teknis kerusakan Bendung Cibogo/Cijangkelok yang dikerjakan oleh PT. Serena Abadi ini, diperlukan penyelidikan yang komprehensif oleh lembaga yang berkompeten.“Pejabat Dinas Dinas Sumber Daya Air Jabar dan Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung serta kontraktor PT. Serena Abadi harus bertanggung jawab atas kerusakan bendung tersebut,” ujarnya. 

(Penulis: TIM)