Bupati Sunjaya Purwadisastra Diduga Zalimi Pemenang Pilwu Desa Kalibaru
Senin, 17 September 2018 | 1 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 66 kali
Santosa, Sekdes Desa Kalibaru Pemenang Pilwu 2017 lalu. (Foto: Hatta)

SUMBER, Medikomonline.com – Pemilihan Kuwu (Pilwu) serentak sudah berjalan dengan baik dan lancer. Bahkan para kuwu pemenang hasil pilihan sudah dilantik di akhir bulan Desember 2017. Mereka sudah bekerja dan menikmati hasil pilihan sebagai kuwu definitif  untuk menjalankan program-program yang sudah dicanangkan.

Sementara Desa Kalibaru, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Cirebon  masih menyisakan hasil Pilwu yang sudah dimenangkan oleh Santosa dari rivalnya Adriyanto dengan selisih nilai hanya 1 saja. Sementara hasil gugatan yang diajukan oleh tim sukses di PN Sumber tetap memenangkan Panitia yang otomatis Santosa tetap berhak untuk menjadi Kuwu dan dilantik sebagai kuwu definitif di Desa Kalibaru.

Setelah keluar hasil sidang yang memenangkan Santosa di bulan Juni lalu, hingga sekarang Bupati Sunjaya tidak mau melantiknya. Salah satu factor penyebabnya tim sukses calon rival Adriyanto merupakan tim sukses Sunjaya saat Pilkada lalu sehingga politisasi terhadap pelantikan kuwu menyebabkan terhambatnya pelantikan kuwu desa tersebut.

Menurut Santosa saat ditemui Medikom di Kantor Desa Kalibaru yang juga menjabat sebagai Sekretaris Desa menjelaskan, dirinya tetap memegang dan taat pada aturan Bupati yang tertuang dalam Perbup. Perbup menjelaskan, bila hasil Pilwu bermasalah, pihak kuwu yang mempermasalahkan diperkenankan untuk mengajukan aduan dalam waktu 3 kali 24 jam dengan ditandatangani oleh calon kuwu yang menggugat.

Lanjut Santosa menjelaskan, tapi untuk Desa Kalibaru yang menggugat bukan calon kuwu yang kalah, tapi justru tim suksesnya. Sementara calon kuwu yang kalah pun tidak membubuhkan tanda tangan dalam gugatan ke PN Sumber. Di samping itu, waktu pengajuan gugatan pun sudah melebihi ketentuan yang diatur dalam Perbup mengenai jalannya pemilihan kuwu.

Sementara tim sukses juga mengajukan gugatan ke Bupati Sunjaya  mengenai hasil Pilwu yang dimenangkan Santosa dengan selisih 1 suara dan langsung ditolak oleh Bupati Sunjaya saat itu. Malah penolakan Bupati terhadap gugatan tim sukses pun diajukan ke PTUN, yang digugat Bupati bukan Panitia Pilwu ataupun hasil pilihan.

Saat jelang pelantikan serentak di akhir Desember tahun lalu, Santosa pun sempat dipanggil Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) untuk mengukur baju kuwu dan membayar biaya untuk kelengkapan seragam kuwu beserta asesorisnya sebesar 4 juta rupiah, juga biaya pelantikan sebesar 15 juta. Tapi tanggal 24 Desember 2017, Santosa dipanggil Memed, Kadis PMD. Memed menyatakan permohonan maafnya dan untuk bersabar karena belum bisa mengikuti pelantikan kuwu serentak saat itu.

Lanjut Santosa, ketika hal itu ditanyakan pada Dinas PMD perihal kapan dirinya dilantik, Dinas PMD angkat tangan dan mengatakan pelantikan itu wewenang Bupati untuk menentukan waktunya. “Apalagi Bupati Sunjaya baru pulang dari tanah suci  menyelesaikan Ibadah Haji dan untuk Pilkadapun sudah ditentukan sebagai pemenangnya,” urai Santosa mengakhiri perbincangan dengan Medikom. Santosa mempertanyakan, sebenarnya apalagi yang ditunggu oleh Bupati untuk melantik dirinya.

Ketika Medikom bertemu dan mengonfirmasi pegiat LSM Lepapi Erik, ia menjelaskan dengan nada gusar apa sebenarnya yang diinginkan Sunjaya dengan tidak melantik Kuwu Desa Kalibaru, sementara dirinya sebagi Bupati sudah mengantongi kemenangan dari KPUD Cirebon.

“Apalagi baru pulang haji, seharusnya Sunjaya secepatnya melantik Santosa menjadi Kuwu. Jangan dihambat, dikhawatirkan terhambatnya pelantikan Santosa menjadi kuwu akan menjadi penghalang bagi Sunjaya untuk dilantik menjadi Bupati periode 2019 – 2024. Bahkan bisa ada kemungkinan tidak dilantik karena tersandung kasus,” kata Erik.

(Penulis: Hatta/Editor: Mbayak Ginting)