Pemprov Jawa Barat Targetkan Kota Tanpa Kumuh Terwujud Tahun 2019
Sabtu, 20 Januari 2018 | 3 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 95 kali
Ilustrasi/Kota Tanpa Kumuh

CIREBON, Medikomonline.com – Pemprov Jawa Barat menargetkan pada 2019 Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) akan terwujud. Kotaku merupakan program pemerintah untuk mengentaskan kekumuhan lingkungan.

“Pemprov Jawa Barat menargetkan pada 2019 kawasan kumuh akan hilang,” kata Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar ketika meresmikan program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) di Desa Jatiseeng, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, Kamis (18/1/18). Ada dua wilayah kerja yang menjadi target pengentasan kekumuhan di Kecamatan Ciledug, yaitu di Desa Jatiseeng dan Kelurahan Sumber.

Program Kotaku ini menerapkan gerakan 100-0-100. 100% pertama kota tanpa kumuh bisa mengakses air bersih; Angka 0, yaitu bagaimana mengurangi kawasan kumuh hingga 0 persen. Dan 100% kedua, kotaku mampu menciptakan sanitasi yang baik.

“Sehingga dengan 100-0-100 ini, kita harapkan bisa mencipatakan masyarakat atau keluargaa yang sehat, sehingga kalau masyarakat seha, akan tercipta generasi yang baik. Masyarakat bisa melakukam aktifitas apapun,” ujar Wagub dalam sambutannya di acara peresmian Kotaku Kabupaten Cirebon.

“Kotaku ini menjadi sangat strategis, sebab ini sangat menentukan derajat atau tingkat kesehatan masyarakat dan derajat kesehatan masyarakat ini ditentukan sebagian besar oleh lingkungan. Percuma ada pendidikan gratis kalau masyarakatnya tidak sehat, masyarakatnya tidak produktif,” sambungnya.

Lebih lanjut, Wagub juga mengungkapkan bahwa Pemerintah tidak bisa sendiri mengatasi masalah kemiskinan dan kekumuhan. Untuk itu, dia juga mengajak kepada semua pihak bekerjasama dalam mengatasi masalah kawasan kumuh. Menurut Wagub, kawasan kumuh tidak lepas dari masalah persampahan.

“Oleh karena itulah, saya meminta semua komponen masyarakat untuk bahu-membahu menghilangkan masalah kekumuhan di sekitar kita baik di kota maupun di desa,” ajak Wagub.

Ada sejumlah permasalahan kawasan kumuh di Kabupaten Cirebon, yaitu:

1.    99?ngunan hunian tidak memiliki keteraturan;

2.    99?ngunan hunian memiliki atap, lantai, dinding tidak sesuai persyaratan teknis;

3.    99% Kawasan permukiman tidak terlayani jaringan jalan lingkungan yang memadai;

4.    99% Kondisi jaringan drainase pada lokasi permukiman memiliki kualitas buruk;

5.    89% Masyarakat tidak terpenuhi kebutuhan air minimal 60 liter/detik/orang;

6.    89?ngunan hunian permukiman tidak memiliki kloset (leher angsa) yang terhubung dengan tanki septic;

7.    90% Sampah domestik rumah tangga pada kawasan permukiman terangkut ke TPS/TPA kurang dari 2 kali seminggu;

8.    70% Kawasan permukiman tidak memiliki ketersediaan prasarana/sarana proteksi kebakaran.

Untuk mendukung terwujudnya tujuan program Kotaku ini, di tingkat kelurahan/desa telah dibentuk Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). Sejak 2007-2017 di Kabupaten Cirebon telah terbentuk 195 BKM, dengan jumlah relawan saat ini yang terlibat aktif sebagai anggota BKM sebanyak 2.535 orang.

Sementara itu, pada 2015-2017 infrastruktur terbangun di Kabupaten Cirebon meliputi jalan lingkungan sepanjang 20.260 meter, drainase sepanjang 9.752 meter, bangunan rumah sebanyak 184 unit, 4 unit TPS, 16 unit MCK, 8.821 meter Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL), serta 13 unit Hidran.

Desa Jatiseeng ini merupakan salah satu Desa yang tersentuh oleh program Kotaku. Hal ini karena kawasan kumuh di Desa ini pada awalnya seluas 14,25 hektar.

Pendanaan program Kotaku di Desa Jatiseeng bersumber dari program kolaborasi tahap 1 (2015) sebesar Rp 182,9 juta, program kolaborasi tahap 2 (2016) sebesar Rp 128,8 juta, dan program PLPBK 2017 sebesar Rp 576,8, sehingga selama 3 tahun terakhir Desa Jatiseeng telah menerima bantuan sebesar Rp 888,6 juta.

Pada kesempatan ini, Wagub juga mengucapkan terimakasih dan apresiasi tinggi kepada BKM Jatiseeng Sejahtera, beserta enam KSM, yaitu: KSM Asir Jaya, KSM Adil, KSM Sejahtera, KSM Swadaya, KSM Lagondi, dan KSM Makmur, yang telah berhasil merealisasikan pembangunan infrastruktur permukiman di Desa Jatiseeng.

Pembangunan infrastruktur permukiman tersebut, meliputi:

1.    SPAL sepanjang 163 meter dengan 70 KK penerima manfaat oleh KSM Asir Jaya;

2.    SPAL sepanjang 203 meter dengan 86 KK penerima manfaat oleh KSM Adil;

3.    SPAL sepanjang 744 meter dengan 212 KK penerima manfaat oleh KSM Lagondi;

4.    Jalan Rabat Beton sepanjang 281 meter dengan 86 KK penerima manfaat, oleh KSM Sejahtera;

5.    Jalan Rabat Beton sepanjang 311 meter dengan 117 KK penerima manfaat oleh KSM Makmur;

6.    Drainase sepanjang 260 meter dengan 27 KK penerima manfaat oleh KSM Swadaya;

7.    Jalan Rabat Beton sepanjang 410 meter dengan 119 KK penerima manfaat oleh KSM Asir Jaya;

8.    Jalan Rabat Beton sepanjang 447 meter dengan 103 KK penerima manfaat oleh KSM Lagondi.

(Penulis: IthinK)