Presiden Joko Widodo, Rehabilitasi Sungai Citarum Perlu Waktu Tujuh Tahun
Selasa, 27 Februari 2018 | 4 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 133 kali
Presiden Jokowi mulai melakukan rehabilitasi Daerah Aliran Sungai Citarum di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. foto: Ist

BANDUNG, medikomonline – Rehabilitasi sungai Citarum dari hulu, tengah hingga hilir merupakan pekerjaan besar dan panjang yang membutuhkan waktu penyelesaian sekitar 7 tahun sampai sumber air Citarum ini dapat dirasakan manfaatnya oleh 28 juta warga Jabar dan DKI Jakarta.

“Sudah kita hitung bahwa pekerjaan besar ini dari hulu tengah hilir akan bisa selesai dalam 7 tahun,” kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika melakukan penanaman pohon di area hulu sungai Citarum di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Kamis (22/02/2018). Penanaman pohon oleh Presiden menandakan dimulainya rehabilitasi Daerah Aliran Sungai Citarum.

Kehadiran Presiden didampingi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Menteri Pekerjaan Umm dan Perumahan Rakyat Basuki Hadi Muldjono, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Pangdam III Siliwangi, Kapolda Jabar, dan Bupati Bandung Dadang Naser.

Untuk memastikan rehabilitasi berjalan lancar, Presiden Jokowi akan memantau langsung pengerjaan secara rutin setiap tiga sampai enam bulan sekali. “Akan saya lihat secara rutin, mungkin bisa per tiga bulan atau per enam bulan untuk memastikan bahwa program ini betul-betul berjalan. Saya lihat sudah mulai di sini diberikan lahan oleh PTPN 980 hektar untuk persemaian, untuk ditanami dan untuk relokasi, kemudian Perhutani juga memberikan lahannya yang kita harapkan segera bisa kita hijaukan kembali,” tegas Presiden.

Jokowi menjelaskan, rehabilitasi Sungai Citarum tidak hanya dilakukan di hulu sungai saja, tetapi terintegrasi di tengah hingga hilirnya seperti penanganan polusi dan limbah industri. Rehablilitasi sendiri dilakukan gotong royong melibatkan, pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan kota.

“Semuanya akan dikerjakan secara terintegrasi oleh pemerintah pusat, semua kementerian yang terlibat, provinsi, kota kabupaten dan yang paling penting wilayah Kodam III Siliwangi dan Polda Jabar, semua dikerjakan secara bergotong royong untuk rehabilitasi DAS Citarum ini,” ujar Jokowi.

Ketika Presiden Jokowi tiba di Desa Tarumajaya, ia langsung menanam pohon manglid yang memiliki karakter kayu halus, padat dan kuat. Pangdam III Siliwangi dan Kapolda Jabar beserta 3 ribu masyarakat desa pun turut ambil bagian dalam penanaman 18 ribu bibit pohon dari total 293 ribu bibit yang sudah tergelar, dengan target 125 juta pohon di hulu sungai Citarum. Jenis pohon yang ditanam berupa pohon ekologis dan ekonomis, seperti kopi, teh, pohon damar, manglid, puspa, rasamala, saninten dan pohon endemik setempat.

Usai melalukan penanaman, Presiden Jokowi beserta rombongan memantau kondisi Situ Cisanti atau titik nol kilometer Sungai Citarum. Jokowi juga melakukan pelepasliaran 2 ekor burung Elang Jawa secara simbolis di area Situ Cisanti. Presiden kemudian berdialog dengan perwakilan warga yang tinggal di DAS Citarum di area Bale Sawala.

“Memang sudah lama sungai Citarum ini kurang kita urus, tapi dengan mengucap Bismillah bulan Februari ini kita jadikan momentum untuk memulai kerja besar ini,” tekad Jokowi.

Sementara Gubernur Jabar Ahmad Heryawan (Aher) mengatakan, pencanangan rehabilitasi Sungai Citarum ini akan menjadi payung hukum dalam pelaksanaan program dan kegiatan secara terintegrasi di sepanjang DAS Citarum.

Menurutnya, penanganan Sungai Citarum memerlukan sinergitas antara pemerintah pusat dan daerah. Sebab, sungai Citarum sepanjang 269 Km yang mengalir di 12 wilayah administrasi ini telah menjadi sumber penghidupan bagi 28 juta masyarakat.

“Sungai Citarum punya peran sangat strategis, selain untuk irigasi pertanian seluas 420 ribu hektar juga menjadi urat nadi 28 juta masyarakat. Kalau tidak sinergis apapun programnya Citarum akan tetap seperti ini,” tuturnya.

Pemprov Jabar sendiri sudah banyak membuat program dan kegiatan untuk menanggulangi pencemaran dan kerusakan Citarum. Seperti gerakan Citarum Bergetar dan diteruskan dengan gerakan Citarum Bestari. Kini pemerintah pusat memberikan perhatian penuh dengan melibatkan semua pihak melalui pendekatan struktural, non struktural dan kultural.

“Ternyata apa yang kita lakukan mendapat perhatian dari Presiden dengan penanggulangan pencemaran kerusakan DAS Citarum. Tujuannya agar penanganan Citarum dapat diselesaikan oleh semua level pemerintahan maupun seluruh masyarakat dari hulu hingga hilir,” ujarnya.

(Penulis: IthinK)