40 Persen Pengguna Ruas Tol Cikampek-Palimanan Melanggar
Rabu, 22 Februari 2017 | 9 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 129 kali
Sejumlah anggota kepolisian dari Satuan Lalulintas Polres Majalengka sedang melakukan operasi E Tilang di ruas tol Cikampek-Palimanan, Jumat (17/2/2017)

MAJALENGKA, Medikomonline – Sekitar 40 persen dari 300 pengguna ruas tol Cikampek-Palimanan melakukan beragam pelanggaran lalulintas. Kebanyakan pelanggar melajukan kendaraannya melebihi batas kecepatan serta kurang dari batas minimum. Pengemudi melajukan kendaraan di bawah 50 km per jam.

   Akibat hal tersebut berdampak pada tingginya angka kecelakaan lalulintas di ruas tol tersebut hingga mengakibatkan banyaknya korban jiwa seperti yang beberapa pekan lalu terjadi hingga menelan 7 korban tewas.

   Pelanggaran lainnya adalah surat tanda kendaraan yang belum diperpanjang atau belum membayar pajak kendaraan tahunan.

   Menurut KBO Satuan lalulintas Polres Majalengka IPTU Erik Riskandar ditemui usai melakukan operasi lalulintas dengan menggunakan  soft gun di ruas tol Cikampek-Palimanan tepatnya di km 166, Jumat (17/2/2017) untuk memastikan kecepatan laju setiap kendaraan, berdasarkan hasil operasi ditemukan banyak pelanggar lalulintas yang melajukan kendaraannya di bawah kecepatan 60.

   “Laju kendaraan lambat di bawah kecepatan minimum atau melebihi batas maksimum akan memicu terjadinya kecelakaan lalulintas, makanya kami berupaya melakukan operasi untuk menekan angka kecelakaan,” kata Erik.

   Berdasarkan data yang terekam bahkan ada kendaraan yang melaju dengan kecepatan 34 km hingga 44 km per jam. Itu artinya mereka melaju sangat lamban padahal di ruas tol Cikampek-Palimanan ini batas kecepatannya paling rendah 60 km per jam dan paling tinggi 100 km per jam.

   Sebaliknya banyak pula yang melajukan kendaraannya diatas 110 km per jam bahkan hingga 125 km per jam, Kondisi ini dikhawatirkan akan rentan terjadinya kecelakaan lalulintas terlebih bisa kondisi ban gundul dan perjalanan siang hari sehingga ban panas, akibatnya bisa terjadi ledakan pada ban.

   “Data yang kami miliki hasil operasi selama satu jam dengan melibatkan 29 personil ada sebanyak 15 pengemudi yang melajukan kendaraan diatas batas maksimum, dan 26 melajukan  kendaraan diatas batas maksimum, sisanya tilang STNK dan pelanggaran lainnya, sedangkan jumlah kendaraan yang melintas di ruas tol setiap jamnya mencapai 300 kendaraan,” ungkap Erik.

   Para pelanggar lalulintas tersebut langsung membayar denda di lokasi tilang, karena operasi dilakukan gabungan dengan menghadirkan petugas dari BRI.

Sementara itu Amani asal baros, Bandung yang mengemudikan fuso, Fakih asal Bekasi yang membawa kendaraan truk berisi kabel meyebutkan mereka melakukan kendaraan hanya 40 km per jam karena beban kendaran mereka berat sehingga sulit melaju dengan kecepatan tinggi.

   “Bebannya berat jadi tidak mungkin melaju sampai 80 km per jam,” kata Amani.

   Sedangkan Deni dan Saptori asal Cirebon yang baru pulang mengantar sayuran dari Lampung mengaku melajukan kendaraan dengan sangat pelan karena khawatir ban kendaraanya meletus karena cuaca sangat panas.

   “Perjalanan kami jauh kalau melaju cepat khawatir ban panas kemudian meletus, malah jusrtu beresiko,” ungkap Deni.

            Mereka menaku menerima keputusan tilang tersebut terlebih denda langsung dilakukan lewat BRI.

(Juremi)