Ada 1.566 Kasus Pengaduan TKI di Jedah Per Tahun
Senin, 10 April 2017 | 1 Tahun yang lalu | Di baca sebanyak 212 kali
Petugas dari Kementerian Luar Negeri sedang memberikan pemaparan perihal TKI yang bernasalah dan langkah yang dilakukan pemerintah, serta bagaimana masyarakat harus berhati-hati dengan PJTKI ilegal dan nakal, di Aula SKB Majalengka Kamis (6/4/2017).

MAJALENGKA, Medikom – Dalam kurun waktu satu tahun lebih tepatnya mulai Januari 2016 hingga Februari 2017, Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Jedah menerima 1.566 kasus pengaduan TKI, atau bila dirata-ratakan setiap bulannya menerima kasus pengaduan TKI mencapai 130, atau sebanyak 10-15 kasus per hari.

    Sebesar 90 persen lebih kasus TKI yang ditangani KJRI Jedah adalah akibat akhlak TKI yang kurang baik atau tidak sesuai dengan kultur di Negara Arab, seperti halnya berjalan-jalan dengan lain muhrim, berada dalam satu kamar dengan bukan muhrim atau kasus akhlak lainnya.

    Hal tersebut disampaikan Konsulat Jenderal RI di Jedah M Hery Sarifudin saat sosialsiasi penanganan kasus TKI di hadapan sejumlah kepala desa, keluarga TKI yang terancam hukuman mati serta sejumlah keluarga TKI yang bermasalah lainnya di Aula SKB Majalengka, Kamis (6/4/2017).

    “Kebanyakan yang berangkat menjadi TKI ke Arab ini adalah janda, orang yang menghindari rasa sakit hati dari mantan suami atau pacar. Ketika mereka berada di Arab selama bertahun-tahun hasrat biologisnya naik dan tidak tersalurkan. Di sana bertemu laki-laki India atau asal daerah lain termasuk dari Indonesia sendiri kemudian mereka pacaran, berjalan-jalan hingga membawanya ke kamar. Padahal bukan muhrimnya, kemudian mereka diketahui kepolisian setempat. Hal semacam ini kasusnya sangat mendominasi hingga akhirnya harus berurusan dengan persoalan hukum,” papar Hery.

    Jadi menurutnya persoalan akhlak harus benar-benar dijaga agar tidak berurusan dengan kepolisian setempat.

    Selain persoalan akhlak, kasus lainnya yang menimpa TKI adalah persoalan sihir. Warga Arab sangat peka terhadap perilaku sihir dan terkadang menuding pembantu telah berbuat musrik dan menyihirnya. Itu dituduhkan seperti halnya bila menemukan rambut di dalam gelas berisi air yang akan diminum oleh majikan, atau menemukan bungkusan berisi benda yang mencurigakan milik TKI dan sejenisnya.

“Bila hal itu terjadi majikan akan langsung melaporkannya kepada aparat kepolisian. Makanya jangan sesekali berbuat sirik atau sihir,” imbau Herry.

    Terhadap TKI bermasalah, pihaknya di tahun 2015 telah mendeportasi sebanyak 15.000 orang, dan di tahun 2016 mendeportasi sebanyak 8.100 orang serta menarik hak TKI yang gajinya belum dibayar hingga mencapai 24,5 miliaran.

    Namun menurut Hery setiap hari TKI yang bermasalah terus berdatangan dengan kasus yang beragam termasuk di antaranya TKI ilegal. Ada pula ratusan paspoor yang tidak jelas pemiliknya. Hal ini terjadi karena banyaknya peserta umroh yang kabur dan berusaha bekerja di Arab atau mereka beralasan menunggu musim haji karena ingin berhaji.

    Kurangnya penguasaan bahasa, ketidak hati-hatian para TKI ketika berangkat, serta ketidaktahuan para calon TKI dan kurang pembekalan yang dilakukan oleh PJTKI yang memberangkatkannya juga menjadi persoalan TKI.

    PJTKI juga banyak yang nakal, hanya sekadar mencari keuntungan dari calon TKI tersebut, tak heran bila banyak PJTKI yang berusaha memanipulasi identitas calok TKI, baik usia, ataupun alamat. Sementara ketika TKI mengalami masalah di tempat kerja mereka angkat tangan tak mau membantu.

    “Masyarakat jangan tergiur calo TKI apalagi bila ada calo yang berusaha memotong gaji hingga berbulan-bulan apalagi tahunan. Karena sebenarnya PJTKI ini telah mendapat imbalan sebesar 10 USD dari setiap orang yang diberangkatkannya,” kata Hery.

    Dia pun mengimbau agar masyarakat berhati-hati memilih PJTKI serta hati-hati ketika sudah bekerja di Arab, karena tidak semua orang baik. Banyak pula orang Arab yang kurang baik. Bahkan KJRI sering kali mendapati TKI yang dilempar majikannya di pintu gerbang KBRI dalam kondisi sakit parah atau bahkan tubuhnya terluka.

    Hery menyebutkan saat ini pihaknya telah mengajukan sebanyak 46 PJTKI untuk dicabut izinnya karena dianggap nakal. Dari jumlah tesrebut sebanyak 18 di antaranya sudah dicabut izinnya, sisanya tengah dilakukan perivikasi.

Sementara itu jumlah TKI terbanyak yang bekerja di Arab berasal dari NTB, urutan kedua berasal dari Jawa Barat dan tertinggi asal Indramayu.

    Sementara itu Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kabupaten Majalengka Ahmad Suswanto menyampaikan harapannya dua TKI asal Majalengka yang tengah menghadapi proses hukuman mati bisa selamat. Perjuangan terus dilakukan pihak Kemenlu dan BNP2TKI.

    “Kami berharap masyarakat yang akan bekerja sebagai TKI menempuh jalur legal,” kata Ahmad Suswanto.  (Jur)

(Penulis: Juremi)