Dicari Presiden Orang Sunda
Senin, 08 Januari 2018 | 5 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 874 kali
Andri Perkasa Kantaprawira

BANDUNG, medikomonline – Fakta politik menegaskan dari mulai presiden RI pertama hingga ketujuh, tak bertengger satu pun orang Sunda. Maka, sangatlah ilahar setiap menjelang pemilihan presiden (pilpres), wacana presiden orang Sunda kerap mencuat. Apalagi, jumlah pemilih di Jawa Barat tergemuk secara nasional.

 

Menurut Andri Perkasa Kantaprawira beberapa nama urang Sunda berkapasitas untuk menjadi Presiden RI. Bahkan bila diuji kompetensi, track record-nya bisa dikatakan lebih hebat dari calon-calon presiden yang ada di publik kini.

Namun sayang, Inisiator Gerakan Pilihan Sunda (Gerpis) tersebut enggan menyebutkan nama-nama dimaksud.

“Saya sendiri tidak mau menyebutkan karena yang disebutkan biasanya akan menjadi layu sebelum berkembang,” ungkap Andri kepada Medikom Jumat, (5/1/2018).

Ia juga memaparkan, dalam sejarahnya orang Sunda menjadi penentu dan aktor di belakang layar orang Jawa jadi presiden. Sebut saja Otto Iskandar Di Nata, secara terbuka di sidang BPUPKI mencalonkan Soekarno sebagai Presiden RI. Lalu, R Achmad Wiranatakusumah (Bridjen Purn) yang menjadikan HM Suharto, Pangkostrad yang kemudian terlibat dalam desain 1965 sehingga AH Nasution menyebut ke Aom Achmad: “Itu Soeharto presiden kamu.”

Selain itu, Edi Sudradjat juga terlibat dalam pematangan running for presiden SBY. Jadi, yang jelas orang Sunda punya peran penting dalam menjadikan orang Jawa berkuasa dalam sejarah politik Indonesia modern. Termasuk Deklarasi Djuanda yang mengukuhkan batas teritorial kepulauan Indonesia yang menjadi lebih luas dua kali lipat dengan “power of knowledge” (diplomasi hukum internasional), tanpa satu peluru pun dikeluarkan, tanpa satu pun darah dan mayat dikorbankan.

“Jadi orang Sunda yang menjadi pemimpin nasional rata-rata karena kemampuan pribadinya yang tangguh. Bukan kemampuannya membuat formasi kepemimpinan baik di internal masyarakat Pasundan maupun hubungan dengan suku-suku bangsa lain di Nusantara, yang sebenarnya suku-suku bangsa lain mengakui urang Sunda sebagai integrator persatuan dan kesatuan nasional (NKRI),” papar Andri.

Lalu apakah orang Sunda bisa jadi presiden? Secara diplomasi Andri menjelaskan, NKRI adalah sistem Majapahit Modern. Maka bila sistem politik dan sistem ketatanegaraan dalam hal ini sistem pemilu one man one vote, kelompok mayoritas yang merasa dalam kesatuan kesukubangsaan yang akan menjadi pemenang kekuasaan politik.

Pertanyaannya, jelas dia, apakah Indonesia selama dalam kepemimpinan kekuasaan Jawa ada dalam kedaulatan, kemajuan dan kesejahteraan? Bila rakyat masih dalam pergulatan bagaimana untuk makan besok, maka sebenarnya kekuasaan sistem politik Jawa telah gagal. Hal itu, ungkap Andri diakui oleh kaum spiritualis Jawa bahwa tujuh kepemimpinan nasional yang ada telah gagal membawa Indonesia ke dari gerbang pintu kemerdekaan.

Merujuk pada Disertasi Doktoral Dr Husin Al Banjari: Budak Angon: Dikursus Sunda menuju kekuasaan, ungkap Andri, kepemimpinan urang Sunda yang akan menjadi Presiden adalah Sang Ciung Wanara yang menjadi Ciung Lodaya.

“Kapan urang Sunda bisa jadi presiden apakah dengan sistem politik election biasa atau harus ada kondisi politik kedaruratan seperti ketika Djuanda jadi pejabat presiden dan melakukan politik rekonsialisasi konflik Soekarno-Hatta, kita lihat setelah tahun 2020,” ungkapnya.

Lebih jauh Andri mengkalkuasi, tahun 2019 masih belum saatnya  “Mereka masih Satria Piningit atau Budak Angon yang akan bermunculan ketika negara membutuhkan tangan-tangan profesional (rancage) mereka untuk memecahkan masalah bangsa yang semakin tak terkendali. Itu jelas bukan tahun 2019,” tuturnya.

Walaupun menurut pengamatannya, ada beberapa yang mau dan menyiapkan diri jadi Presiden atau setidaknya Wakil Presiden. Akan tetapi belum ada yang memenuhi syarat sebagai pemimpin nasional. Yakni pemimpin yang diakui di Sunda (internal) dan diakui oleh suku-suku bangsa lain (eksternal).

“Dalam tradisi Tutur Sunda (Wangsit Siliwangi) maka Ciung Wanara belum menjadi Ciung Lodaya (selevel Wastukencana, dan Prabu Siliwangi/Sribaduga Maharja),” urainya.

Langkah strategisnya, setiap tokoh yang bercita-cita jadi Presiden harus menyiapkan diri lahir batin. Tingkatkan kemampuan kepemimpinannya sehingga mencapai persyaratan yang diminta zamannya agar masuk dalam hukum kepastian yang dipersyaratkan hukum Illahi di Hukum Yang Tidak Terbantahkan. 

Bila yang berkeinginan sudah mendapatkan inayah dan hidayah dari Tuhan Yang Maha Berkehendak dan Maha Kuasa, maka akan jelas kelihatan jalan menuju kuasanya. Terebosan dalam melakukan solusi-solusi kebangsaan yang holistik akan dapat difahami oleh publik dan tokoh-tokoh suku bangsa lain. Dari situ Sang calon presiden Sunda dapat pengakuan sosial dan spiritual.

“Masa kini di Indonesia yang multipilar dan multipolar hanya pemimpin yang dapat membangun kompetisi dan kerja sama yang sehat antarsuku bangsa, antarkeumatan dan antarkewilayahan yang dapat menjadi pemimpin nasional yang berhasil membawa NKRI digdjaya,” paparnya.

Jadi, kriteria yang harus dipenuhi orang Sunda untuk jadi presiden sederhana. Eksis dalam pergulatan politik, ketatanegaraan, kebangsaan dan keumatan serta kemajuan untuk Indonesia secara nasional. “Tidak mungkin kita membuat kriteria di luar arus dan alur kompetisi kepemimpinan nasional yang ada. Itu namanya ilusi,” ungkap Andri.

(dadan)