Dedi Mulyadi Lakukan Deradikalisasi di Purwakarta
Selasa, 07 Maret 2017 | 9 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 132 kali
Agus Marsal bertemu dengan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi (kiri)

PURWAKARTA, Medikomonline.com – Kasus perampokan yang terjadi di SPBU Kali Asin Cikampek, Karawang pada Tahun 2010 lalu memiliki latar belakang pendanaan untuk aksi terorisme. Kasus kriminal yang melibatkan di antaranya Agus Marsal, Yayat Cahdiyat, dan Enjang Somantri ini telah diputus oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat dengan vonis 3 tahun penjara.

    Agus Marsal sendiri kini tinggal di Desa Cibening Kecamatan Bungursari Kabupaten Purwakarta, pada pertengahan April 2016 lalu ia bertemu dengan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dan didaulat untuk menjadi pemateri dalam program Sekolah Ideologi yang dilaksanakan di sana. Sementara Yayat Cahdiyat memilih untuk tinggal di Kabupaten Bandung setelah menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan Tangerang.

    Tak hanya itu, Agus pun mendapatkan bantuan modal usaha dari pemerintah daerah setempat. Cara ini ditempuh oleh pemerintah daerah dalam rangka pelaksanaan program deradikalisasi terhadap mantan teroris juga dalam rangka pendalaman ideologi kebangsaan bagi mereka.

    Selama ini, diakui oleh Agus, pemerintah kurang responsif terhadap para mantan teroris terutama pasca mereka menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan. Seharusnya menurut dia, hubungan antara mantan teroris dan pemerintah harus seperti anak dan orang tua.

    “Saya merasakan selama ini memang kurang respons, kami masih membutuhkan pengayoman, harusnya seperti anak dan orang tua saja,” kata Agus Marsal saat bertemu dengan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi Selasa (28/2) di rumah dinasnya, Jalan Gandanegara No 25.

    Agus pun menambahkan, hubungan komunikasi antara pihak pemerintah dan eks terpidana kasus terorisme juga berlangsung kaku. Ia menduga, aturan birokrasi mungkin menjadi penyebab dinginnya hubungan antara keduanya.

    Akan tetapi, suasana berbeda ia rasakan saat bertemu dengan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi pada pertengahan April 2016 lalu. Saat berkunjung ke rumahnya di Cibening, ia akui Dedi membangun komunikasi dua arah yang konstruktif. Bahkan, solusi untuk modal usaha baginya pun lahir dari komunikasi tersebut.

    “Mungkin karena aturan birokrasi ya, tapi saya tidak tahu. Beda saat bertemu dengan Kang Dedi, beliau datang langsung ke rumah saya dan memberi bantuan modal usaha,” ujarnya.

    Terkait Yayat Cahdiyat, terduga teroris yang meregang nyawa setelah melakukan peledakan bom panci di Taman Pandawa, Kota Bandung, Agus mengatakan sejak ditangkap karena kasus perampokan di Cikampek, ia tidak pernah menjalin komunikasi lagi. Yayat sendiri diakui oleh Agus merupakan anak didiknya dalam setiap ‘halaqah’ atau pertemuan.

    “Praktis sejak kami ditangkap itu, tidak ada komunikasi lagi,” singkatnya.

    Sementara itu, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, di tempat yang sama menyerukan pendekatan terhadap para eks terpidana kasus terorisme. Ia berujar cara tersebut harus ditempuh agar mereka tidak kembali melakukan aksi-aksi yang meresahkan masyarakat. Di samping itu, pendekatan tersebut diperlukan dalam rangka deradikalisasi dan penanaman ideologi kebangsaan dalam benak para eks terpidana itu.

“Pasca mereka menjalani hukuman itu tidak boleh dibiarkan, harus kita rangkul terutama agar mereka bisa membangun kehidupan ekonominya. Boleh tanya Kang Agus, salah satu penyebab dia melakukan aksi mungkin karena desakan ekonomi, makanya kami berikan modal usaha,” ujarnya.

    Selain itu, Dedi mengusulkan agar komunikasi yang dibangun antara pihak pemerintah dan para eks terpidana kasus terorisme untuk dibuat lebih santai. Ia meyakini, pendekatan ini lebih efektif untuk menanamkan rasa kekeluargaan.

                “Harus lebih santai, saya kira ini bagus ya, Kang Agus saja sudah saya anggap seperti saudara,” pungkas pria yang selalu mengenakan iket khas Sunda itu.

(Penulis: Daup Herlambang)