Indahnya Suara Gamelan Hadirkan Sejuta Inspirasi Pegawai di Pemda Purwakarta
Senin, 13 November 2017 | 1 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 33 kali
Seni gamelan menginspirasi pegawai

PURWAKARTA, medikomonline.com – Suara gamelan mengalun indah ke setiap ruang serta sayup terdengar hingga ke sudut perkantoran di kompleks Pemda Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Menyambut pagi untuk mengiringi langkah para pegawai melakukan beragam aktivitas dalam setiap harinya.

Ya suara gamelan itu bersumber dari alat musik jenis Saron dan Seruling Bambu melalui alat pengeras suara yang dipasang secara paralel ke seluruh ruang dan area yang ada di kantor pemerintahan itu.

Melalui alunan merdu lagu - lagu klasik Sunda, seperti Gunung Sari, Paksi Tuwung dan lainnya adalah lagu yang disuguhkan para penabuh gamelan yang ditugaskan untuk menabuhnya langsung dari Bale Paseban Pendopo Purwakarta.

Ketukan demi ketukan dari tangga nada Saron dan alunan seruling bambu seakan membawa nuansa berbeda ditengah kesibukan dan padatnya kegiatan. Sehingga menjadi pembeda manakala masuk ke ruang formal seperti di lingkungan pemerintahan.

"Kalau suara gamelan ini setiap hari dari pagi sudah mengalun dan ditabuh sedari menyambut dan menemani para pegawai di ruang lingkup Pemda untuk bekerja. Sampai para pekerja pulang pada sore hari," kata salah seorang pegawai di lingkungan Pemda Purwakarta. Adi Agol.

Dikatakan Adi, dengan iringan suara musik klasik yang dihantarkan membuat suasana bekerja memang tidak seperti biasanya. Selain dirasa memberi kesan dan nuansa yang sangat berbeda juga hadir kenyamanan juga bisa memberi ragam inspirasi.

"Inspirasi itu tidak bisa datang begitu saja, tetapi harus pada tempat dan ruang lingkup yang berbeda," tutur Adi.

Selain Adi, diutarakan para pegawai lainnya, jika suguhan musik klasik juga memicu semangat kerja mereka. Sehingga seberat dan sepenat apapun mereka masih bisa rileks menjalaninya.

"Ya sesibuk apapun pikiran kita masih bisa tenang dan senang, saya gambarkan bahwa alunan musik ini dibalik keindahan juga memiliki manfaat semacam terafi," ujar Hasim Aryanto.

Alunan musik klasik dari gamelan yang dihantarkan kestiap ruang memang sudah berjalan lama atau sejak di bawah kepemimpinan Bupati Dedi Mulyadi.

Dikatakan Bupati Dedi digunakannya alat musik gamelan untuk mengiringi para pegawai mulai pagi, siang hingga sore hari memiliki tujuan tersendiri. Apalagi kondisi kondisi saat ini polusi suara tidak dipungkiri sedikit banyaknya mengganggu aktivitas.

Di sisi lain, keberadaan musik kata Dedi juga dapat membentuk karakteristik manusia."Polusi suara itu sudah luar biasa, Sehingga diperlukan suara dengan nada yang baik, yang bagus. Sehingga akan menjadi memori manusia," tutur Dedi.

Digunakannya gamelan bukan tanpa alasan, karena gamelan merupakan alat musik oroginal. Alat musik yang dipukul dan tangga nadanya memiliki watak spiritual.

"Tangga nada gamelan memilik watak spiritualitas, dibuat atas nalar budaya. Budaya itu budi pekerti, pikiran dan hati tujuannya membentuk watak manusia," imbuh Dedi.

Ke depan Dedi berharap suara gamelan dari Bale Paseban itu tidak saja bisa dinikmati para pegawai, melainkan oleh klayak terutama yang berkunjung ke taman kota, seperti Taman Maya Datar, Taman Panca Warna, Taman Pasanggrahan Padjajaran, hingga kompleks Situ Buleud Taman Sri Baduga Maha Raja.

"Sebentar lagi terkoneksi sejauh 5 km," jelas Dedi.

Lalau siapa sosok penabuh gamelan di Pendopo Bale Paseban, ya terdiri dari dua orang. Yakni Abah Sayat dan Abah Udju.

"Kalau saya tugasnya menabuh Saron, dan Abah Udju bagian Suling," kata Abah Sayat.

Terkadang kata sayat selain dengan suling, irama dari Saron juga dipadukan dengan alat musik lain seperti Rebab. Keduanya juga mengaku bahagian bisa menjadi bagian untuk mengiring beragam kegiatan para pegawai di lingkungan Pemda sehingga dapat memberi kesan tersendiri bagi para pegawai maupun tamu yang datang ke Kompleks Pemda Purwakarta.

Sementara jika berkunjung ke Kompleks Pemda Purwakarta, selain dapat menikmati alunan suara gamelan. Siapa pun pasti terkesan, mengingat suasana kantor yang jauh dari sifat formil. Mulai dari tatanan lingkungan yang dikelilingi taman serta air mancur, ditambah seluruh bangunan yang kental dengan nilai seni dan berasal dari arsitektur kesundaan. Hal lain yaitu pakaian seluruh pegawai di lingkungan Pemkab yang tidak berseragam layaknya pegawai melainkan menggunakan pakaian seperti putih dan hitam serta pakaian adat berupa pangsi bagi pegawai pria serta kebaya untuk pegawai perempuannya. ***

(Daup H)