Masjid Raya Cilodong Punahkan Prostitusi
Selasa, 07 November 2017 | 1 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 20 kali
Pembangunan Masjid Raya Cilodong

PURWAKARTA, Medikomonline.com – Pemkab Purwakarta akan “menyulap” kawasan prostitusi di Kampung Cilodong, Bungursari, Purwakarta menjadi daerah religius. Lantaran, masjid baru bernama Masjid Raya Cilodong akan segera bertengger di sana.

Dalam kunjungannya ke masjid yang dibangun di atas lahan seluas 9 hektar tersebut, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengatakan di akhir masa jabatannya ia ingin terus bekerja memenuhi segala kebutuhan masyarakat termasuk di antaranya kebutuhan tempat ibadah.

   “Menjelang akhir masa jabatan ini saya ingin terus bekerja. Insya Allah kebutuhan ibadah masyarakat Purwakarta terpenuhi dengan fasilitas yang representatif. Tiga bulan lagi Insya Allah bisa selesai dan langsung digunakan,” jelas Dedi di sela kunjungan di proyek Masjid Raya Cilodong, beberapa waktu lalu.

   Selain diperuntukkan untuk tempat ibadah, masjid yang memiliki daya tampung sebanyak 2.200 jemaah ini pun dilengkapi dengan taman air mancur, museum digital yang menceritakan tentang sejarah sate maranggi khas Purwakarta dan taman yang terdiri dari berbagai pohon rindang untuk para jemaah saat melepas lelah.

   “Kita buat kawasan hijau di sini, kan banyak orang nanti yang datang. Daerah ini juga terkenal dengan sate maranggi, makanya kami bangun museum yang menceritakan sejarah maranggi sampai bisa Go International ke Amerika,” katanya menambahkan.

Punahnya prostusi

Untuk diketahui, sejak tahun 1970, kawasan Cilodong Purwakarta dikenal sebagai kawasan prostitusi yang sulit dibasmi. Namun, berkat pendekatan humanis yang dilakukan oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, daerah ini perlahan tapi pasti berubah menjadi daerah kawasan hijau hingga akhirnya kini terdapat masjid megah.

   Tokoh masyarakat Cilodong, Ujang Alim mengatakan dirinya kini tidak lagi merasa malu saat ditanya daerah tempat tinggal oleh beberapa kenalannya sebab daerah tinggalnya kini telah berubah menjadi kawasan religius.

   “Tadinya di sepanjang jalan ini banyak warung remang-remang, sekarang sudah tidak ada lagi. Alhamdulillah, sekarang saya bangga menjadi warga Cilodong,” pungkasnya. (*)

(Daup H)