Pemkot Depok Diduga Tutup Mata Ada Warganya Hidup di Bawah Garis Kemiskinan
Minggu, 06 Januari 2019 | 12 Hari yang lalu | Di baca sebanyak 34 kali
Eddi tinggal disebuah gubuk reot bersama Dewi Sumiati (59) istrinya, dan Maimunah (94) orang tuanya.

DEPOK,  Medikomonline.com - Pemerintah Kota DepoK dinilai cuek terhadap kesejahteraan masyarakat, khususnya warga yang ada sedikit jauh dari pusat Kota. Seperti yang terjadi pada keluarga Eddi Junaedi (69), warga Kampung Kebun Kopi, Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Sawangan.
Warga Barat Kota Depok tersebut diketahui telah hampir 40 tahun menjalani hidup dengan sangat memprihatinkan. Eddi tinggal disebuah gubuk reot bersama Dewi Sumiati (59) istrinya, dan Maimunah (94) orang tuanya. Seperti diberitakan Koranindonews.com sebelumnya.
Dihuni 3 orang yang sudah renta, kondisi rumah Eddi diketahui sudah sangat tidak layak. Hampir seluruh bangunan sudah mengalami pengeroposan. Setiap sudah sudah tak terhitung lagi jumlah yang bocor saat hujan turun.
Kondisi yang memprihatinkan tersebut membuat miris beberapa pihak yang ditemui wartawan, salah satunya Sekertaris Jenderal (Sekjen) Sekertariat Bersama (Sekber) Wartawan Kota Depok, Yohanes Hutapea.
Ditemui di kediamannya di wilayah Cimanggis, bang John sapaan akrabnya katakan dirinya mengecam pemerintah jika memang hal tersebut benar adanya. “Keterlaluan kalau sampai Pemerintah Kota Depok bilang tidak tahu kondisi warganya. Besok senin saya coba cari tahu ke Dinas Sosial dan lainnya,” kata John, Sabtu (5/1/2019).
Ucapan John menyusul pengakuan keluarga Eddi, yang mengatakan selain rumahnya tidak pernah mendapat sorotan untuk dapat bantuan, keluarganya pun tak tersentuh oleh bantuan pemerintah seperti raskin (beras untuk rakyat miskin), bantuan langsung tunai dan kartu Indonesia sehat (KIS).
“Pernah saya meminta kepada RT dan RW untuk bantuan rumah tidak layak huni (RTLH), namun belm juga ada tanggapan. Bahkan untuk bantuan seperti raskin dan BLT pun kami tidak dapat, malah orang yang lebih mampu yang disantuni,” ujar keluarga Eddi, Kamis (3/1).
Eddi dan keluarga rentanya tersebut bertahan dirumah lapuknya lantaran tak ada pilihan. Ia tak mampu memperbaiki rumah, apalagi jika harus membayar sewa rumah. Akibat rumahnya yang lapuk termakan usia, ia dan keluarganya kini bertaruh soal keselamatan jiwanya.

(Penulis: Lucy/Editor: Mbayak Ginting)