Ribuan Bedug dan Patromak Sambut Ramadhan di Purwakarta
Senin, 29 Mei 2017 | 6 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 116 kali
Kegiatan pawai 999 bedug dan 9.999 petromak.

PURWAKARTA, Medikomonline.com – Suasana menjelang Ramadan di Purwakarta dirayakan dengan kegiatan pawai 999 bedug dan 9.999 petromak. Peserta kegiatan yang terdiri dari korps pegawai, masyarakat pedesaan dan komunitas masyarakat lainnya, sejak Kamis (25/5) sore sudah terlihat memenuhi ruas Jalan Veteran, depan Kampus UPI Purwakarta.

   Berdasarkan pantauan, setelah melaksanakan Salat Magrib dan Isya di Masjid Kampus tersebut, massa mulai terlihat bergerak menyusuri Jalan Veteran, Jalan Jenderal Sudirman, dan Jalan RE Martadinata.

   Salah satu peserta pawai, Apip (34), warga asal Desa Citalang Purwakarta mengaku antusias mengikuti kegiatan ini. Menurut dia, tradisi pukul bedug jelang Ramadan dan menyalakan lampu yang terang biasanya dilakukan di masjid atau musala masing-masing kampung.

   Namun, kali ini, ia merasa lebih bersemangat karena melakukan tradisi tahunan di Purwakarta itu secara bersama-sama dengan warga lain sambil menyusuri jalan-jalan protokol di kabupaten yang terkenal dengan pengamalan tradisi kesundaan tersebut.

   “Kalau bedug dan lampu yang terang itu biasanya di masjid sekitar rumah. Uniknya, kali ini ada petromak, wah nyarinya susah sekali. Jadi ingat suasana kampung zaman dulu, menyusuri sawah, pergi ke masjid, pakai lampu petromak,” ungkap Apip.

   Karena pawai ini, salah seorang motoris asal Cikarang, Usep (40) terpaksa harus menepikan motornya karena ia takjub dan ingin melihat iring-iringan pawai. Ia pun sempat mengabadikan momen tersebut melalui smartphone-nya.

   “Di tempat saya juga ada, tapi tidak seramai ini loh,” singkatnya.

Iring-iringan peserta pawai terlihat mengular di Jalan RE Martadinata, tempat panggung utama digelar. Saat melewati panggung utama inilah, seluruh peserta disambut dengan bacaan Asmaul Husna dan Shalawat Nabi.

   Di panggung utama tersebut, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan ekspresi kegembiraan masyarakat dalam menyambut bulan suci Ramadan. Seluruh masyarakat nusantara menurutnya, memiliki tradisi sendiri-sendiri dalam mengekspresikan kegembiraan ini.

   “Ini ekspresi kebahagiaan dari masyarakat, ada banyak cara mengekspresikannya, ada munggahan, pukul bedug, hingga mandi di sungai atau di laut sesuai dengan kaidah syar’i masing-masing,” ungkap Dedi.

   Pria yang menjadi pelopor pemakaian iket Sunda di acara resmi ini pun memiliki harapan tersendiri di bulan Ramadan tahun ini. Ia mengimbau agar bulan suci ini digunakan sebaik-baiknya sebagai momen kontemplasi atau perenungan.

                “Tanggal 1 Ramadan nanti kita ada agenda tadarrus bersama di Masjid Agung dan Alun-alun. Targetnya, insya Allah 10 ribu orang mengikuti kegiatan ini,” pungkasnya.

(Penulis: Diskominfo )