Orientasi Pembelajaran Bahasa Ibu Harus Diubah Untuk Pelestarian
Rabu, 22 Februari 2017 | 9 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 152 kali
Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional di Aula Yayasan Pusat Kebudayaan

BANDUNG, Medikomonline.com  –  Bahasa Ibu atau Bahasa Daerah semakin tergerus oleh perkembangan zaman saat ini. Era globalisasi memupus keinginan generasi untuk semakin mencintai kearifan lokal bahasa dalam bertutur kata. Perlu cara berbeda untuk belajar bahasa dalam dunia pendidikan Indonesia.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) mengatakan harus ada perubahan orientasi cara belajar bahasa dari hanya sekadar penguasaan tata bahasa menjadi pelestarian bahasa agar tidak lekang dimakan zaman.

“Bahasa akan terus kita ajarkan ya. Mungkin akan kita ubah orientasinya, yang asalnya orientasi tata bahasa, orientasinya ujian, untuk mendapatkan nilai. Maka ke depan orientasinya kita ubah, orientasinya adalah terpeliharanya bahasa, bukan ujian, bukan nilai,” ungkap Aher dalam acara peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional di Aula Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK), Kota Bandung, Minggu (19/2/2017).

“Oleh karena itu, nanti kalau orietasinya adalah terpeliharanya bahasa, maka yang dipentingkan adalah pengucapan, penuturan. Dituturkan saja bahasa makan akan terpelihara secara otomatis,” tambahnya.
Dalam acara peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional  bertajuk “Mieling Poe Basa Indung sareng Kang Aher” ini, Aher yang didampingi istri Netty Prasetiyani Heryawan sempat didaulat membacakan Carponn. Carponn atau Carita Pondok Naker, yaitu cerita pendek Bahasa Sunda yang disajikan dalam satu atau dua kalimat tamat yang memiliki nilai moral atau humor.
Pada kesempatan ini, Aher membacakan Carponn berjudul “Kagegel Oray” (Digigit Ular), sementara Netty baca Carponn berjudul “Doger Monyet”. Melalui baca Carponn ini bisa dijadikan cara belajar bahasa (Bahasa Sunda) dalam bentuk pengucapan secara langsung.

(Penulis: IthinK)