Program Praktek Belajar Berkesinambungan Siswa Tunagrahita di SLBN I Padang
Jumat, 11 Mei 2018 | 6 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 132 kali
Lifya

Oleh Lifya
dralifya@ymail.com
(GURU SLB Negeri 1 Padang)

Abstrak

Salah satu karakteristik Anak Tunagrahita mengalami kesulitan dalam belajar secara abstrak. Dikarenakan  siswa Tunagrahita mengalami hambatan dalam perkembangan intelegensinya. Ini menjadi salah satu kendala yang ditemukan dalam pelajaran matematika. Ditambah dengan menggunakan metoda yang bervariasi dalam menyampaikan pelajaran membuat siswa sulit dalam memahami satu konsep. Mereka terkendala dalam pematangan pelajaran matematika. Apabila terjadi pergantian kelas maka mereka akan mendapat cara yang lain lagi dari guru kelas yang membimbingnya. Ini akan membingungkan serta meragukannya dalam memahami materi pelajaran matematika sementara konsep pelajaran matematika belumlah dikuasainya. Pada artikel ini penulis merumuskan program  praktek belajar bekesinambungan yang dimulai dari pengenalan konsep angka pada pelajaran matematika. Setelah dirumuskan langsung dipraktekan selangkah demi selangkah. Berkat pelaksanaan program berkesinambungan tersebut maka diperoleh hasil yang signifikan.

PENDAHULUAN
Seperti yang sering digadang-gadangkan  bahwa guru diminta bisa mengembangkan potensi peserta didik agar dapat berkembang. Banyak cara yang dikemukakan untuk memenuhi tuntutan tersebut serta berbagai karya inovatif dibuat demi kemajuan peserta didik.
Hal tersebut juga berlaku di sekolah Luar Biasa pembelajaran berangkat dari kemampuan siswa serta potensi yang dimiliki. Banyak cara yang telah dikemukan yang intinya setiap cara dan alat yang digunakan mendambakan sebuah harapan agar siswa dapat nyaman hidup ditengah masyarakat. Kenyaman akan diperoleh apabila siswa berkebutuhan khusus tersebut bisa hidup secara mandiri tanpa mengganggu dan tergantung kepada orang lain.
Salah satu jenis kelainan yang ada di SLB adalah siswa Tunagrahita yang mengalami hambatan dalam perkembangan intelegensinya. Mereka mempunyai intelegensi di bawah rata-ata anak normal. Kemampuan yang dimilikinya tidak melebih kemampuan anak SD sekalipun ia sudah duduk dibangku SMA. Pelajaran yang diserap sebatas kemampuan tersebut.
Berdasarkan penuturan orang tua yang hampir setiap hari mencurahkan harapannya mereka berharap anak-anaknya yang diantarkan kesekolah setiap hari dapat membaca, menulis dan berhitung walau secara sangat sederhana.  Banyak siswa-siswa tersebut yang belum bisa melakukan hal tersebut. Salah satu kendala yang ditemukan dalam pelajaran matematika. Ditambah metoda yang bervariasi yang diberikan. Ini membuat siswa sulit dalam memaham satu konsep sulit baginya dalam pematangan pelajaran matematika. Apabila terjadi pergantian kelas maka mereka akan mendapat cara yang lain lagi dari guru kelas yang membimbingnya. Ini akan membingungkan serta meragukannya dalam pelajaran matematika sementara konsep pelajaran matematika belumlah dikuasainya.
Beranjak dari permasahan yang ditemukan dilapangan penulis mencoba memberikan solusi dengan membuatkan program berkesinambungan dengan menjelaskan kosep terlebih dahulu dengan menggunakan batangan lidi. Penggunaan batang lidi di pergunakan secara berkesinambungan pada setiap pelajaran matematika mulai dari pengenalan konsep angka sampai bisa melakukan penjumlahan. Sebenarnya ini cara lama yang pernah diajarkan guru-guru terdahulu kepada siswanya di sekolah biasa saat mengenalkan konsep bilangan. Namun kali ini penulis ingin mengaplikannya kedalam praktek belajar matematika secara terus menerus tanpa terputus putus sampai anak bisa melakukan penjumlahan. Pada penulisan artikel ini penulis akan merumuskan masalah sebagai berikut. Bagaimana Program Praktek Belajar Berkesinambungan  Siswa Tunagrahita di SLBN I Padang.
Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk menjelaskan Program Praktek Belajar Berkesinambungan  Siswa Tunagrahita di SLBN I Padang.
Hasil yang diperoleh setelah menerapkan program praktek belajar berkesinambungan siswa Tunagrahita di SLBN I Padang  diharapkan memberi manfaat bagi
1.    Diri penulis sendiri, sebagai upaya peningkatan kompetensi diri dalam pengembangan diri sebagai seorang guru
2.    Siswa di sekolah,  menjadi lebih cinta dengan pelajaran matematika
3.    Sekolah  bisa mengapresiasi dan memotivasi guru dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa.

KAJIAN TEORITIS
Karakteristik anak tunagrahita ringan tertuang dalam PP No 72: 1991
a.    Keadaan fisik umumnya masih sama dengan anak normal
b.    Sukar berfikir abstrak sehingga mereka mengalami kesulitan dalam memecahkan suatu masalah walaupun masalah tersebut sederhana.
c.    Perhatian dan ingatannya lemah, mereka tidak dapat memperhatikan sesuatu hal yang serius dan lama.
d.    Kurang dapat mengendalikan diri sendiri, hal ini disebabkan karena tidak dapat mempertahankan baik dan buruk.
e.    Lancar berbicara tapi kurang perbendaharaan kata dan kalau bicara kalimatnya selalu singkat dan kurang jelas.
f.    Masih mampu mengikuti pelajaran akademik
g.    Masih dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
h.    Masih mampu melakukan pekerjaan semi skill dan pekerjaan sosial sedehana.
Dalam konteks pendidikan masalah-masalah yang dihadapi oleh anak tunagrahita ringan menurut Moh. Amin (1995 : 41) sebagai berikut:
a.    Masalah kesulitan dalam kehidupan sehari-hari
Pada umumnya anak banyak mengalami permasalahan dalam hal kesehatan dan pemeliharaan diri,dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara makan, menggosok gigi, memakai baju dan memasang sepatu.
b.    Masalah kesulitan belajar
Dapat disadari dengan keterbatasan kemampuan berfikir yang dimiliki anak  sehingga anak banyak mengalami kesulitan dalam belajar terutama dalam bidang akademik.
c.    Masalah penyaluran ketempat kerja
Pada umumnya anak tunagrahita ringan banyak mengalami masalah dalam mengadakan hubungan dengan kelompok maupun individu disekitarnya yang dapat dilihat melalui kurang dapatnya menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya.
d.    Masalah gangguan kepribadian dan emosi
Secara implisit anak tunagrahita ringan belum banyak mendapatkan kesempatan kerja meskipun mereka bekerja pada bidang-bidang tertentu.
e.    Masalah pemamfaatan waktu dan peluang
Pada umumnya  anak tunagrahita ringan tidak dapat memanfaatkan waktu luang dan kebanyakan diantara mereka berdiam diri.
Berdasarkan kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa masalah-masalah anak tunagrahita  mencakup pemeliharaan diri dalam kehidupan sehari-hari, masalah akademik, masaalah sosialisasi atau penyesuaian diri masalah kepribadian dan emosi, masalah pemanfaatan waktu dan peluang. Sehingga dengan masalah-masalah tersebut menyebabkan anak tunagrahita mengalami masalah yang berkaitan dengan kegiatan sehari-hari..
A. Program Berkesinambungan  Belajar Matematika di SLBN I Padang
Dalam upaya pemecahan  masalah tentang nilai matematika  yang masih rendah harus ada cara intervensi yang  terprogram  dan berkesinambungan untuk meningkatkan nilai belajar  siswa pada pelajaran matematika . Juga untuk meningkatkan prestasi siswa dalam bermatematika. Kalau tidak masa depan bangsa adalah taruhannya. Adapun cara yang ditempuh untuk keluar  dari masalah ini adalah dengan  penerapan Program Praktek Belajar Berkesinambungan  Siswa Tunagrahita  di SLB Negeri I Padang. Adapun bentuk program berkesinambungan di SLB N I Padang
a.    Program  Mengenalkan konsep angka 1-10 dengan lidi
Mengenalkan Konsep angka 1-10 merupakan langkah awal yang harus dipahami oleh seorang siswa. Program  mengenal konsep angka sebagai upaya menanamkan konsep bahwa satu itu satu, dua itu dua begitu seterusnya. Guru mempersiapkan rencana pembelajaran indifidual dari hasil identifikasi yang dilakukan terhadap siswa. Istilah  Identifikasi berhubungan dengan kata mengenali, menandai dan menemukan. Ini merupakan langkah awal untuk menandai anak-anak yang mengalami hambatan. Hasil dari identifikasi  dilanjutkan dengan melakukan asesmen untuk memperoleh informasi lebih lanjut  yang akan digunakan untuk membuat pertimbangan dan program yang sesuai dengan kemampuan siswa. Sejalan dengan menentukan keputusan yang akan diberikan kepada  siswa. Baru dituangkan dalam Program Pembelajaran Individual (PPI). Dalam program indifidual  Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar dikembangkan kedalam indikator sebagai berikut:
1.    Menjelaskan  konsep bilangan 1-10
2.    Menghitung banyak lidi  1- 10
3.    Menghitung banyak  lidi yang digambarkan menyerupai pagar
4.    Menemukan lambang bilangan yang sesuai dengan jumlah banyak  lidi yang digambarkan menyerupai pagar
5.    Menunjukan lambang bilangan yang sama dengan jumlah lidi yang digambarkan berupa pagar
6.    Menjodohkan lambang bilangan dengan banyak lidi yang digambarkan
       
b.    Program  menulis angka 1-10 dengan media lidi
Bentuk program menulis angka 1-10 ini dituangkan kedalam Program Rencana Pembelajaran Individual. Indicator yang ingin dicapai adalah :
a)    Menuliskan  banyak lidi yang disediakan
b)    Menuliskan banyak  lidi sesuai lidi yang digambarkan.
Program ini bertujuan agar siswa dapat menuliskan jumlah lidi dengan mengitungnya sesuai dengan banyak lidi yang digambarkan.
                              
c.    Program mengubah bentuk angka kedalam bentuk  lidi yang digambarkan
Program selanjutnya setelah siswa bisa menuliskan banyak lidi  dengan benar maka program individual selanjutnya menjumlahkan banyak lidi yang digambarkan menyerupai pagar-pagar. Tujuannya agar siswa memahami bahwa lidi-lidi yang digambarkan tersebut bisa dijumlahkan.

d.    Program  mengubah soal berbentuk gambar batang lidi ke dalam angka
Setelah siswa mengerti dan bisa menjumlahkan banyak lidi yang digambarkan maka program keempat adalah
a)    Merubah bentuk soal dari bentuk lidi yang digambarkan kedalam bentuk angka-angka.
b)    Menjumlahkan angka-angka yang sudah dirubah dengan benar

e.    Program mengerjakan soal penjumlahan dengan bantuan gambar batang lidi langsung disamping soal
Selanjutnya setelah siswa dapat merubah bentuk soal dari bentuk lidi yang digambarkan maka program berikutnya yang dirumuskan kedalam indikator adalah siswa dapat menjumlah bilangan dengan bantuan lidi yang langsung dibuatnya di samping soal agar ia tidak susah untuk mengerjakan latihan yang diberikan. Ia merasa leluasa membuat batang lidi disamping soal sehngga ia tidak mencoret meja dan bagian belakang buku latihan. Latihan yang dikerjakan diperiksa sebagai reward diberikan tos dengan bertepuk sebelah tangan antara guru dan murid.

f.    Program menjumlahkan soal matematika dengan bantuan batang lidi diketas buram.
Langkah yang ditempuh untuk program berikutnya siswa sudah dibawa kedalam berfikir abstrak. Ia tidak lagi menggunakan bantuan dengan membuat gambar pagar berbentuk lidi. Inikator yang dirumuskan adalah Siswa dapat menjumlah dengan jumlah maksimal 10 tanpa bantuan lidi hanya digambarkan.pada kertas buram . Siswa diberikan satu lembar kertas HVS bekas yang masih kosong halaman belakangnya. Dengan tujuan secara perlahan membiasakan anak berfikir abstrak dalam mengerjakan soalnya. Juga untuk menjaga kerapihan kerja serta tidak membingungkan anak dalam menyelesaikan soal yang diberikan. Setelah latihan dikerjakan guru bersama murid kembali memeriksa hasil pekerjaan tersebut kadang kesalahan bisa ditemukan tidak saja dalam menjumlahkan angka tapi juga dalam menuliskan angka. Angka 5 sering ditulis terbalik angka tujuh sering dituls miring. Guru akan memeriksa kesalahan-kesalahan yang terjadi untuk  dibetulkan bersama. Setelah pekerjaan tidak ada lagi yang salah baru diberi nilai sepuluh. Jadi jangan mengira nilai sepuluh yang diperoleh anak didapatnya satu kali jalan.

g.    Program menjumlah tanpa bantuan lidi yang digambarkan
Pada dasarnya program ini cara pengerjaan soal yang diberikan tidak jauh berbeda dengan cara sebelumnya hanya saja bentuk program yang dirumuskan kedalam  indikator berbunyi siswa dapat menerjakan soal penjumlahan dengan hasil maksimal 10 tanpa menggunakan kertas buram. Pada program ini pelajaran sudah berbentuk abstrak siswa diminta menjawab soal tanpa bantuan kertas buram. Tapi kadang-kadang ia menggunakan jemarinya sebagai alat bantu. Berarti ia sudah bisa mengaplikasikancara mengerjakan soal kepada dirinya sendiri. Guru tidak melarang yang penting ia sudah mengerti dengan maksud soal dan bisa menjawab dengar benar tanpa bantuan kertas buram. Guru tetap memeriksa hasil kerja siswa dan mengkonvirmasikan jawaban yang salah dan benar.

PELAKSANAAN DAN HASIL YANG DICAPAI
A.    Pelaksanaan Program
1.    Program  Mengenalkan konsep angka 1-10 dengan lidi
Setelah  Identifikasi dilakukan diketahui siswa mengalami kesulitan dalam pelajaran matematika. Hasil  diperoleh dilanjutkan dengan melakukan asesmen untuk memperoleh informasi lebih lanjut  yang akan digunakan untuk membuat pertimbangan dan program yang sesuai dengan kemampuan siswa. Sejalan dengan menentukan keputusan yang akan diberikan kepada  siswa. Dari Asesmen yang dilakukan diketahui  siswa baru bisa menuliskan angka satu sampai sepuluh namun ia belum mengetahui arti dari angka yang dituliskannya. Bersarkan program yang sudah dibuat pelaksanaan program berlangsung dari dasar untuk memahami konsep bilangan. Guru menjelaskan  konsep bilangan 1-10 dengan menggunakan lidi. Guru dan siswa sama-sama menghitung banyak lidi. Guru lalu membuat garis lurus di buku latihan siswa. Garis lurus tersebut kami beri nama pagar. Guru dan siswa sama-sama menghitung banyak garis lurus yang menyerupai lidi yang digambarkan bersama-sama. Hal ini berlangsung  berulang-ulang beberapa kali pertemuan.. Setelah menghitung banyak lidi siswa mencari lambang bilangan sesuai dengan banyak lidi yang disusun oleh guru. Guru tidak bosan menanyakan lambang bilangan  yang ditulis. Siswa juga menunjukan lambang bilangan yang ditanyakan guru serta menjodohkan jumlah garis yang menyerupai lidi tersebut dengan angka-angka yang telah dipersiapkan. Hal ini terus berlansung sampai siswa mengerti dengan konsep bilangan.

Hal ini dimaksudkan agar siswa paham dengan banyak benda sesuai dengan angka yang disebutnya.
Selanjutnya siswa diberi latihan sebagai umpan balik dari tingkat ketercapaian siswa. Siswa belum akan mendapat nilai sepuluh sebelum semua soal-soal yang dberikan belum betul semua. Guru nantinya memeriksa latihan siswadan memberi nilai sebagai bukti verifikasi. Berkas pekerjaan   siswa akan dikumpulkan dalam satu map file. Dimana setiap siswa memiliki satu map file  yang diletakkan dalam kelas  disusun secara rapi.
Pelaksanaan program ini dilakukan setiap hari dalam  seminggu hal ini tidak begitu susah dilaksanakan karena pembelajaran di SLB sudah berjalan secara tematik.  

2.    Program  menulis angka 1-10 dengan media lidi
    Pelaksanaan program menulis angka 1-10 dengan media lidi  merupakan kelanjutan dari program sebelumnya hal ini terus berkesinambungan siswa diminta menuliskan banyak lidi yang disediakan. Ini dilakukan secara berulang-ulang sampai siswa yakin dengan jumlah banyak lidi yang ditanyakan. Setelah itu guru kembali membuat garis lurus seperti lidi guru membimbing siswa menuliskan jumlah lidi yang dibuatnya. Siswa menuliskan banyak  lidi sesuai lidi yang digambarkan. Setelah itu guru memberikan latihan setiap soal yang dibuat diperiksa apabila ada kesalahan siswa diminta untuk menghitung kembali lidi-lidi yang digambarkan sampai semuannya betul. Guru selalu memberi nilai 10 dan siswa akan bahagia apabila mendapat angka “sepuluh gadang” dari gurunya. Makanya guru selalu menyuruh siswa memperbaiki kesalahan dalam mengerjakan soal sampai semuanya betul dan mendapat nilai “ sepuluh gadang “ yang  dikerjakan dalam buku latihan.

3.    Program mengubah bentuk angka kedalam bentuk  lidi yang digambarkan
Program ini kebalikan dari program sebelumnya siswa melakukan kegiatan mengubah angka kedalam bentuk garis lurus atau lidi. Guru membuatkan kartu angka dan ditempelkan bersama pada buku latihan. Setelah itu siswa mengubah bentuk bilangan yang tertulis pada kartu kedalam bentuk lidi yang digambarkan.. Sebagai pengingat bagi siswa guru selalu menuliskan lambang blangan 1-10 diatas buku latihan siswa..Baru  setelah itu guru memeriksa pekerjaan siswa untuk memberikan verifikasi kepada jawaban yang sudah dikerjakan. Apabila ada yang salah diadakan perbaikan bersama dengan memberi penjelasan lagi. Baru setelah itu siswa membenarkan pekerjaannya sehingga nilai sepuluh diperoleh siswa.

4.    Program  mengubah soal berbentuk gambar batang lidi kedalam angka
Program ini merupakan peralihan dari pelajaran yang kongkrit ke yang abstrak.  Dari bentuk batang lidi dipindahkan kedalam bentuk angka. Tapi siswa tetap menghitung lidi-lidi yang dibuat untuk mengetahui hasil dari soal-soal yang diberikan. Cara menghitungnya tetap dengan cara yang sama dengan memberi titik dibagian bawah disetiap lidi yang dihitungnya. Siswa diminta untuk tampil kedepan mengerjakan soal dibawah bimbingan guru. Setelah bisa mengerjakan latihan tersebut siswa mengerjakan soal  pada buku latihan dan diperiksa untuk diverifikasi. Apabila ada kesalahan siswa diminta untuk memperbaikinya.

5.    Program mengerjakan soal penjumlahan dengan bantuan gambar batang lidi langsung disamping soal
Pada program ini diberikan bentuk latihan soal yang merupakan aplikasi dari batang lidi dan angka. Pembiasaan membilang tersebut selalu diiringi dengan banyak benda yang akan dihitungnya. Siswa dibimbing menjumlahkan banyak lidi yang digambarkan menyerupai pagar-pagar. Soal yang diberikan dikerjakan siswa dengan  membuat gambar lidi-lidi langsung di  samping soal yang diberikan. Setelah soal abstrak menjadi kongkrit siswa menghitung lidi-lidi yang digambarkan disamping soal.. Siswa diberikan kesempatan menjawab soal yang diberikan di papan tulis agar ia tidak jenuh menghadapi buku latihannya. Setelah itu baru diberikan latihan yang dibuatnya pada buku latihan . Pekerjaan tetap diperiksa dengan membawanya kehadapan guru sehingga guru bisa mengoreksi secara langsung bersama siswa dan siswa lebih mengetahui letak kesalhannya.

6.    Program menjumlahkan soal matematika dengan bantuan batang lidi diketas buram.
Pelaksanaan program ini  dengan menghilangkan gambar lidi secara berangsur-angsur. Siswa tidak lagi membuat garis lurus menyerupai lidi dibuku latihannya tapi sudah di buat terpisah pada kertas buram. Setiap soal yang dikerjakan di kerjakan terlebih dahulu perhitungannya dikertas lain baru hasil yang didapat disalinkan ke buku latihan. Mulanya terjadi kekeliruan kadang salah menyalinkan nilai yang diperoleh. Akhirnya di anjurkan untuk membuat pagar yang agak besar supaya tidak salah dalam menghitung. Guru menyediakan kertas bekas print yang halaman belakangnya masih kosong sebagai buram untuk mencari jawaban dari soal yang diberikan. Siswa kembali diberi latihan setelah diberi penjelasan untuk memantapkan pelajaran menjumlah. Guru tetap membimbing siswa mengerjakan soal belum sepnuhnya bisa dilepaskan. Pekerjaan yang sudah selesai diperiksa secara langsung agar siswa mengetahui letak kekeliruannya setelah semua soal diperbaiki berkali-kali dan semua betul baru diber nilai sepuluh.

7.    Program menjumlah tanpa bantuan lidi yang digambarkan
Pada program ini merupakan tahap akhir dari menjumlah bilangan dengan hasil maksimal sepuluh. Siswa dengan bimbingan guru mengerjakan soal-soal penjumlahan bilangan dengan hasil maksimal sepuluh. Pembelajaran terus diberikan secara berkesinambungan hingga  bisa mengerjakan soal bentuk bersusun ke bawah dengan jumlah maksimal tetap sepuluh.Siswa tetap mengerjakan soal sampai betul baru dikonvirmasi untuk mendapat nilai sepuluh dan siswa membawa nilai ” sepuluh gadang.”
Sebagai reward  guru memberikan PIN yang ditempelkan  pada bajunya. PIN ini ditempelkan kepada siswa yang sudah bisa yang dipasangkan secara bergantian dengan temannya. Guru memberikan tos dan tetap memotivasi bahwa masih banyak yang akan dipelajari dalam pelajaran matematika.

B. Hasil Program
Dari program yang telah dilaksanakan dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa melalui Program Praktek Belajar Berkesinambungan   maka diperolehlah hasil sebagai berikut:
a.    Meningkatnya minat belajar matematika siswa ia tidak lagi merasa bosan dan kadang membawa pekerjaannya yang belum selesai keruang tunggu wali murid untuk memperlihatkan bahwa ia bisa.
b.    Terkumpulnya data siswa mulai dari Identifikasi, asesmen dan pelaksanaan program individual siswa.
c.    Meningkatnya kemampuan mengenal konsep bilangan siswa.
d.    Diperolehnya kemampuan dasar untuk belajar matematika dalam menjumlah.

Dari program Praktek Belajar Berkesinambungan. Di banding dengan teman sebaya yang taraf kemampuan kecerdasannya sama siswa tunagrahita yang melaksanakan Program Praktek Belajar Berkesinambungan  lebih cepat mengerjan soal-soal dan jumlah yang betul juga lebih banyak dari pada temannya yang tidak mendapat perlakuan praktek belajar secara berkesinambungan.
Siswa.menunjukan  perkembangan yang siginifikan. Ia sudah bisa mengerjakan soal yang diberikan. Siswa dapat mengerjakan soal dalam jumlah yang lebih banyak karena guru akan menambah soal yang akan dikerjakan setiap siswa selesai mengerjakan soal sebelunya.Siswa tidak lagi meminta kertas buram setiap soal diberikan kepadanya. Ia sudah bisa menggunakan jemarinya sebagai alat bantu yang dulunya sangat membingungkannya

SIMPULAN
Berbagai upaya perlu dilakukan dalam meningkatkan kemampuan matematika di sebuah sekolah, baik bagi siswa normal maupun siswa yang berkebutuhan khusus. Kemampuan siswa  dalam matematika tidak semuanya berbentuk abstrak semua bisa dikongkritkan sebelum anak benar-benar mengerti dengan konsep pembelajaran.Matematika sangat diperlukan dalam kegiatan sehari-hari yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan. Dengan belajar yang berkesinambungan pelajaran yang diberikan bisa dilanjutkan dengan cara yang sama sehingga tidak membingungkan siswa. Matematika bisa dipraktekan dan dimasukan kedalam pelajaran tematik yang tidak akan menggaggu program pembelajaran yang lainnya. Praktek Belajar Berkesinambungan   mengedepankan kemampuan kognitif yang bisa dilatihkan secara terus menerus dan berkelanjutan selama pembelajaran berlangsung. Sampai hal tersebut menjadi sebuah kondisi permanen  yang membanggakan karena menjumlah  merupakan kemampuan dasar yang harus dimilik siswa untuk bekal hidupnya dikemudian hari. Dengan matematika pikiran dapat bergerak dan tercerahkan. Sedangkan dengan kemampuan bermatematika siswa tidak mudah dibodohi.
Program Praktek belajar berkesinambungan sudah dijalankan di SLB Negeri 1 Padang. Program ini telah memberikan manfaat yang baik bagi peningkatan belajar penjumlahan bagi siswa Tunagrahita. Program Berkesinambungan  Belajar Matematika di SLBN I Padang yang telah dirumuskan tersebut mengenalkan konsep angka 1-10 dengan lidi. Menulis angka 1-10 dengan lidi. Mengubah bentuk angka kedalam bentuk  lidi yang digambarkan. Mengubah soal berbentuk gambar batang lidi kedalam angka. Mengerjakan soal penjumlahan dengan bantuan gambar batang lidi langsung disamping soal. Menjumlahkan soal matematika dengan bantuan batang lidi dikertas. Menjumlah tanpa bantuan lidi yang digambarkan.
Adanya program tersebut praktek belajar berkesinambungan dapat dijalankan dengan lancar dan optimal. Dari program-program tersebut memberikan hasil yang jelas seperti (1) meningkatnya minat dan kemampuan baca matematika sswa, (2) Siswa dapat mengerjakan soal yang awalnya memerlukan bantuan sampai bisa bekerja secara mandiri yang dapat meningkatkan rasa percaya diri dan rasa puas dari orang tua.

SARAN
1.    Untuk pendidik di sekolah, lebih memperhatikan dan menciptakan program yang dapat menumbuhkan minat belajar matematika siswa
2.    Untuk orang tua, untuk menyamakan cara dengan guru dalam membimbng anaknya dirumah
3.    Untuk sekolah, menciptakan program-program yang menarik dan inovatif dalam meningkatkan kemampuan siswa.

DAFTAR PUSTAKA
Dalais, Mursal. 2007. KiatMengajarMatematika di SekolahDasar. Padang: UNP Press Padang.
Djhannsapt. 2011. “Operasi Dasar Matematika”. (online), (http://blog.student.uny.ac.id) diakses tanggal 16 November 2013).
Eliyawati, dkk.2005. Kemampuan Berhitung. Bandung: UPI Bandung.
E.T. Ruseffendi. 1979. Pengajaran Matematika Modern: Untuk Orang TuaMurid, Guru dan SPG. Bandung: Tarsito.
Moh.Amin. 1995. Ortopedagogikcanakctunagrahita.Depdikbud.
Sudjana, N dan Rivai, A.1992. Media Pengajaran. Bandung : CV. Sinar Bakti Bandung.
Sudono.2000. Kemampuanberhitunganaktamankanak-kanakdan media balokcuisenaire. Bandung. UPI Bandung.
Tombokan, Runtukahu.1996. Pengajaranvmatematika bagi anak berkesulitan belajar. Depdikbud dikti proyek tenaga guru.
Wantah, Maria J. 2007. Pengembangan Kemandirian Anak Tunagrahita Mampu Latih. Jakarta: Depdiknas.

 

(Lifya)