Siswa SMP di Kabupaten Sumedang Terancam Dieksploitasi dan Diintervensi Geng
Senin, 20 Maret 2017 | 8 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 202 kali
Kabid Dikmen - Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang DR Dian

SUMEDANG. Medikomonline.com – Belakangan ini di Kabupaten Sumedang berhembus kabar yang sangat merugikan dunia pendidikan. Menurut kabar yang tidak jelas sumbernya tersebut, anak- anak yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Sumedang saat ini terancam dintervensi oleh organisasi di luar dunia pendidikan.

    Bahkan diduga para siswa seusia SMP ini menjadi target ekploitasi oleh kelompok pengamen jalanan serta sekelompok yang mengatasnamakan salah satu geng tertentu. Dugaan intervensi ini dalam bentuk beragam. Ada yang disuruh untuk mencari uang dengan mengamen di waktu jam belajar, atau dipaksa untuk mengikuti kegiatan salah satu geng tertentu. Bahkan menurut informasi hal semacam ini telah terjadi terhadap anak-anak siswa SMP yang berada di wilayah Situraja, Darmaraja, dan SMP yang berdomisili di daerah Kota Sumedang.

    DR Dian selaku Kabid Dikmen di Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang mengakui adanya kabar-kabar dimaksud. Dirinya mengatakan telah mendapatkan informasi terkait dugaan eksploitasi terhadap siswa siswa SMP di Sumedang. Menurutnya, hal ini baru sebatas informasi sehingga pihaknya belum bisa mengambil kesimpulan banar atau tidaknya dugaan tersebut.

    Namun untuk menindaklanjuti informasi terkait dugaan itu Dian mengatakan telah mengirimkan surat edaran terhadap sekolah sekolah tingkat SMP se Kabupaten Sumedang. Intinya memberikan saran kepada pihak sekolah untuk melakukan koordinasi dengan para wali murid dan Pemerintah setempat untuk mewaspadai terjadinya intervensi serta eksploitasi terhadap siswa SMP sebagaimana sesuai kabar yang beredar.

    “Sebenarnya belum secara pasti untuk dapat dikatakan telah terjadinya eksploitasi anak. Hanya memang untuk langkah antisipasi, ada kecendrungan munculnya beberapa intervensi lingkungan terhadap dinamika perkembangan anak dalam bentuk dugaan eksploitasi anak dari kelompok pengamen jalanan dengan memerankan anak (siswa SMP) untuk mengamen guna mendapatkan uang tertentu untuk keuntungan si eksploitor. Kami telah mengirimkan surat edaran terhadap sekolah sekolah untuk mewaspadai terkait isu yang beredar dimaksud,” kata Dian ketika berbincang dengan Medikom di ruang kerjanya, Rabu (15/03).

    Berdasarkan informasi pula, jelas Dian, selain dugaan eksploitasi anak oleh sekelompok pengamen jalanan, muncul pula dugaan intervensi yang muncul dari organisasi di luar dunia pendidikan yang cenderung organisasi ekstrem dengan berbagai label seperti punk atau geng lainnya. ”Jelas munculnya informasi ini perlu perhatian khusus pihak yang berkompeten khususnya para wali murid dan pihak sekolah untuk melakukan antisipasi terhadap pengaruh intervensi tersebut terhadap putra putrinya. Karena bagaimanapun anak-anak SMP notabene usianya belum pada tahapan memilih, akan tetapi masih berada dalam tahap pembinaan. Sehingga diperlukan langkah antisipatif dari pihak sekolah terutama para wali murid,” ujarnya.

    Khusus Terkait dugaan eksploitasi siswa SMP oleh kelompok yang mengatasnamakan pengamen jalanan, Dian menjelaskan, sekalipun dugaan eksploitasi ini hanya baru sebatas informasi belum berbentuk pengaduan atau surat resmi, tetap pihaknya akan melakukan koordinasi dengan pihak sekolah dan Sat Pol PP untuk melakukan kroscek.

    ”Dinas pendidikan, sekolah dan pemerintah melalui Sat Pol PP harus berperan dengan melakukan swiping terhadap anak-anak sekolah yang melakukan aktivitas di luar dunia pendidikan ketika masih dalam jam belajar. Dan ditekankan kepada pihak sekolah untuk berkoordinasi dengan Pemerintah setempat untuk mengontrol anak-anak ketika masih dalam jam belajar, atau sesudahnya. Hal ini tidak lain guna menciptakan kualitas anak nantinya,” pungkasnya.

(Penulis: Teguh)