Minggu Budaya GBKP Bandung Timur Tampilkan Pasutri Berpakain Pengantin Adat Karo
Senin, 23 Oktober 2017 | 5 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 577 kali
Pelaksanaan Minggu Budaya GBKP Runggun Bandung Timur, Minggu (22/10/2017) menampilkan pasangan suami istri (Pasutri) berpakaian pengantin adat Karo. (foto: mbayak ginting/medikomonline)

BANDUNG, Medikomonline.com – GBKP Runggun Bandung Timur menyelenggarakan Minggu Budaya pada acara Kebaktian Minggu, 22/10/2017 di Gereja GBKP Bandung Timur, Jalan Kawaluyaan No. 10 Bandung.  Ketika iringan Pendeta, Penatua dan para Pasutri memasuki ruang ibadah, mereka disambut para penari Karo dengan diiringi lagu GBKP Simalem.

Pendeta, Penatua dan para Pasutri yang juga ikut menari di tengah-tengah jemat membuat suasana sukacita. Sedangkan pakaian pengantin adat Karo yang didominasi warna merah juga menambah pesona para Pasutri.   

Khusus dalam Minggu Budaya kali ini, jemaat laki-laki memaki sarung dan mengenakan uis beka buluh di pundaknya. Untuk jemaat wanita, mereka mengenakan kebaya dan uis nipes di bahu kanan.

Seksi Budaya GBKP Runggun Bandung Timur Pt. Budiman Karo-Karo Purba kepada Medikomonline.com menjelaskan, dalam pelaksanaan Minggu Budaya kali ini menampilkan pasangan suami istri (Pasutri) berpakaian pengantin adat Karo. “Ada 15 Pasutri yang mengenakan pakaian pengantin adat Karo. Dari 15 pasang ini, satu pasang Pasutri berpakaian adat lengkap atau yang biasa disebut rose emas,” ujar Budiman.

Lanjut Budiman, penampilan para Pasutri berpakaian pengantin adat Karo ini dimaksudkan untuk melestarikan budaya Karo dan juga memperkenalkan budaya Karo kepada generasi muda Karo yang lahir dan besar di Tanah Parhyangan ini.

“Penampilan para Pasutri ini juga akan dinilai oleh Tim GBKP Runggun Bandung Timur. Ada tiga juara yang akan diberi penghargaan,” kata Budiman lagi.

Dari hasil penilaian Tim Runggun GBKP Bandung Timur, Sekretaris GBKP Runggun Bandung Timur Pt. Efendi Bangun mengumumkan para juara Pasutri berpakaian pengantin adat Karo. Juara I diraih oleh pasangan Peristiwa Sembiring Gurukinayan , Juara II pasangan Nanam Sembiring Milala, dan Juara III pasangan Tomas Tarigan Tambak.

Dalam khotbah Minggu Budaya GBKP Runggun Bandung Timur, Pendeta Ephenetus Tarigan MTh mengatakan, gereja sangat menghargai nilai-nilai tradisional budaya Karo. “Kebiasaan orang Karo itu senang berkumpul sehingga persekutuan keluarga dinamakan Perpulungen Jabu-jabu. Orang Karo juga terbiasa bermusyawarah (runggu-Karo) dalam kehidupan sehari-hari sehingga kelompok masyarakat dalam gereja disebut Runggun Gereja,” ujar Ephenetus menjelaskan bahwa banyak konsep hidup orang Karo diadopsi dalam gereja GBKP.

Oleh karena itu kata Ephenetus, Gereja GBKP juga bertanggung jawab memelihara nilai-nilai tradisi budaya Karo sebagai anugrah Tuhan. Banyak nilai tradisi budaya Karo yang menerapkan ajaran kasih dalam konsep ajaran hidup masyarakat Karo, yaitu Merga Silima Tutur Siwaluh Rakut Sitelu. Dalam Merga Silima Tutur Siwaluh Rakut Sitelu, masyarakat Karo diajarkan untuk Mehamat Erkalimbubu (hormat pada Kalimbubu), Metenget Ersenina (peduli dan memperhatikan Senina), dan Metami Eranak Beru (menyayangi Anak Beru).

Dalam penutup Kebaktian Minggu, Ephenetus mengajak para jemaat agar pada saat menjadi Kalimbubu maka akan menyayangi Anak Beru-nya, pada saat menjadi Senina akan memperhatikan Senina-nya, pada saat menjadi Anak Beru akan menghormati Kalimbubu-nya.

Setelah Kebaktian Minggu Budaya selesai, para jemaat diberi makanan khas Karo, yaitu kue Cimpa Unung-Unung yang berisi campuran gular merah dan kelapa. Rasa manis Cimpa Unung-Unung yang dinikmati para jemaat menambah rasa cinta dan memelihara budaya Karo.

(Penulis: Mbayak Ginting)