Duo DM Bakal Fokus Pemulihan Kondisi Sungai Citarum
Rabu, 03 Januari 2018 | 3 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 93 kali
Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi

BANDUNG, Medikomonline.com - Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi masih enggan berbicara ihwal posisi calon gubernur atau calon wakil gubernur Jabar yang akan diembannya pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jabar mendatang. Dedi lebih memilih fokus berbicara tentang isu lingkungan di Jabar.

Target jangka pendek, diakui Dedi, sudah ia tetapkan bersama pasangannya Deddy Mizwar di Pilgub Jabar mendatang. “Target tersebut berupa pemulihan kondisi Sungai Citarum yang hari ini mendapat gelar Sungai Terkotor di Dunia,” kata Dedi di Hotel Aston, Bandung pada Jumat, (29/12/2017) lalu.

“Kita tidak membicarakan posisi cagub atau cawagub. Kita fokus bekerja melakukan pembenahan. Diantaranya, target jangka pendek adalah membersihkan Sungai Citarum,” kata Dedi.

Langkah awal dalam rangka upaya membersihkan sungai terpanjang di Jabar itu sudah dilakukan di Purwakarta. Dalam kapasitas salah satu kader terbaik Nahdhatul Ulama itu sebagai Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi melakukan pembersihan Danau Jatiluhur. Upaya ini tertuang melalui program ‘Zero KJA’ yang sudah dilaksanakan sejak awal Tahun 2017.

Zero KJA (Keramba Jaring Apung-red) sendiri dilaksanakan atas perintah Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam kunjungannya ke danau buatan terbesar di Indonesia tersebut pada akhir tahun 2014 silam. “Kita baru bisa membersihkan Danau Jatiluhur atas kerjasama dengan otoritas setempat. Di Pemprov, nanti kita punya kewenangan langsung. Sungai Citarum menjadi sungai pertama yang kita bersihkan, agar airnya bersih, sesuai dengan karakter orang Sunda,” katanya.

 

Pola kerja berbasis kultur

Secara teknis, pria yang lekat dengan peci hitam khas Proklamator RI tersebut juga sudah memiliki cara khusus. Ia akan menjadikan masyarakat adat sebagai tenaga terampil untuk membersihkan Sungai Citarum.

“Selama ini normalisasi sungai selalu berbasis proyek. Seharusnya, itu berbasis kultur. Caranya, kita angkat masyarakat adat di sepanjang Sungai Citarum itu sebagai Tenaga Harian Lepas (THL). Mereka digaji oleh Pemprov untuk merawat Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum,” ungkapnya.

 

Orientasi Wisata Sungai Citarum

Output yang diharapkan dari program ini selain Sungai Citarum bersih adalah geliat Wisata Sungai Citarum. Hal ini secara otomatis akan menciptakan nilai tambah bagi daerah yang dialiri oleh sungai tersebut.

“Anak-anak masyarakat kampung adat itu kita ajarkan pengelolaan pariwisata. Sehingga, mereka memiliki benefit secara jangka panjang. Ini bisa menaikkan nilai tambah secara ekonomi bagi warga sekitar,” pungkasnya.

 

(Penulis: Daup Herlambang/Editor: Mbayak Ginting)