Paslon Padil Karsoma dan Acep Maman Raih Nomor Urut 1
Kamis, 15 Februari 2018 | 3 Bulan yang lalu | Di baca sebanyak 166 kali
Padil Karsoma dan Acep Maman meraih nomor urut 1 dalam hasil sidang pleno terbuka KPUD Purwakarta

PURWAKARTA, medikomonline – Pasangan calon (Paslon) bupati dan wakil bupati Purwakarta Padil Karsoma dan Acep Maman meraih nomor urut 1 dalam hasil sidang pleno terbuka KPUD Purwakarta di Gedung Sigrong Purwakarta, Selasa (13/2/2018).

Hal ini mendapat banyak simpati dari tokoh politisi Purwakarta setelah penetapan nomor urut bagi Paslon bupati dan wakil bupati Purwakarta Padil Karsoma dan Acep Maman.

Kali ini datang dari Dr  H Andrie Chaerul MSc PhD,  pemerhati politik dan juga mantan birokrat Purwakarta tentang nomor urut yang telah diraih oleh pasangan Padil Karsoma dan Acep Maman. Menurut Andrie, nomor urut tidak berarti apa-apa karena hanya sekedar angka. “Yang lebih penting sekarang bagaimana mampu menggiring ketertarikan masyarakat dengan menyodorkan program-program unggulan dalam beberapa sektor yang menjadi urusan wajib pemerintah daerah," katanya.

Andrie berpendapat, pasangan Padil Karsoma dan Acep Maman memiliki peluang yang cukup besar untuk memenangkan pertarungan kalau mereka mampu menyakinkan masyarakat bahwa pasangan  mereka bisa berbuat yang lebih baik dibandingkan pemerintahan sebelumnya.

“Masing - masing memiliki kekuatan dan kelemahan, tapi diantara ke 3  pasangan, Padil memiliki keunggulan dalam hal pengalaman di dunia birokrasi yang menurut saya menjadi modal awal yang baik untuk Paslon Padil Karsoma - Acep Maman,” tambah Andrie.

Tapi kata Andrie, tentu Padil tidak cukup hanya menjual kelebihan pengalaman di birokrasi saja untuk menjadi pemenang. Pasangan ini harus mampu menawarkan prioritas yang bermanfaat untuk masyarakat banyak dengan mengedepankan urusan-urusan wajib pemerintah daerah.

“Karena masyarakat Purwakarta yang heterogen, Padil-Acep juga harus mampu mengomunikasikan program-prorgam unggulannnya dengan bahasa yang sederhana sehingga mampu dicerna oleh masayarakat awam. Saya titip kepada siapun yang memenangkan pertarungan. Pertama, managemen kepegawaian harus ditata ulang, terutama dengan yang berkaitan dangan penetapan orang supaya The right man on the right place," tegas Andrie.

Promosi jabatan harus lebih adil. “Mendahulukan orang dekat sah-sah saja sepanjang kapasitas dan kapabilitasnya menunjang. Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat) harus diberi porsi yang sesuai dengan kewenangannya. Jangan sampai namanya ada, tapi perannya tidak ada. Dengan memperdayakan Baperjakat, tugas kepala daerah untuk mengelola kepegawaian akan terbantum,” tambah Andrie.

Lanjutnya, kedua adalah manajemen anggaran. Kepala daerah terpilih harus berani mengoreksi ketidaktepatan pengelolaan anggaran sebelumnya. Imformasi bahwa ADD masih tinggal 4 (Empat) bulan, Tunjangan Kinerja ASN tahun lalu hanya dibayar 10 (Sepuluh Bulan), proyek 2017 sampai sekarang belum dibayar adalah indikator adanya mismanajemen anggaran.

“Jadi kepala daerah terpilih nanti harus "Setia" kepada RPJP, RPJM, Program Kerja Tahunan yang dibuatnya sendiri. Jangan sampai terjadi ada program/kegiatan yang tidak ada di rencana pembangunan, tapi muncul di APBD,” ujar Anrie mengingatkan.

“Ketiga, dalam sektor pendidikan saya melihat ada beberapa kebijakan yang didasari oleh Peratuaran Bupati (Perbup)  yang perlu ditinjau ulang,” ujarnya. Ada beberapa kebijakan yang tidak berjalan efektif seperti Masuk Pulang Sekolah, Pakaian Seragam, Program Vokasional tampaknya perlu dikaji lagi.

“Kalau menurut saya, daripada bulak balik membuat Perbup, lebih baik Perda Pendidikan direvisi supaya legislatif dapan menjalakan peran pengawasannya lebih optimal,” sebutnya.

“Dan yang terakhir adalah perlunya menghidupkan kembali dewan pendidikan. Lembaga ini akan sangat membantu kepala daerah dalam membuat kebijakan dalam sektor pendidikan. Saya tidak tahu apakah di Purwakarta masih ada dewan pendidkan atau tidak ada,” terang Andrie.

“Akhirnya saya berharap semoga kontestasi bisa berjalan kondusif, masyarakat bisa melaksanakan pilihannya tanpa intimidasi. Saya berharap lahir pemimpin baru di Purwakarta agar Purwakarta bisa menjadi Purwakarta Istimewa menurut orang lain, jangan menurut diri sendiri,” pungkas Andrie Chaerul

(Penulis: Daup H-Dadang N/Editor: Mbayak Ginting)