Yusril Gali Kuburan PBB di Pileg 2019
Kamis, 15 November 2018 | 25 Hari yang lalu | Di baca sebanyak 119 kali
Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra.

JAKARTA, Medikomonline.com – Manuver politik yang dilakukan Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra sebagai lawyer pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin diprediksi bakal menggerus perolehan suara PBB pada Pileg 2019 mendatang.

Pasalnya, sejak awal hanya PBB yang belum menentukan pilihan koalisi dengan dua kubu pasangan capres-cawapres, meskipun sebagai partai Islam PBB mendukung keputusan ijtima ulama.

"Secara psikologis manuver yang dilakukan Yusril justru akan merugikan partai, bahkan diprediksi tidak lolos PT 4 persen. Artinya, PBB dianggap tidak konsisten memperjuangkan ijtima ulama. Ibaratnya PBB sedang menggali kuburannya sendiri," ujar pengamat politik Rusmin Effendy saat dihubungi Medikomonline di Jakarta, Selasa (13/11/18).

Menurut Rusmin, politik zig zag yang dilakukan Yusril justru berdampak  terhadap integritas PBB dalam meraih dukungan dan simpati umat Islam. Kondisi ini sangat merugikan caleg PBB meraih dukungan konstituen.

"Selama ini, publik sudah menaruh harapan dan perhatian terhadap PBB sebagai partai Islam yang diharapkan mampu memperjuangkan aspirasi umat Islam. Kenyataanya, manuver politik yang dilakukan Yusril sama sekali tidak taktis dan berpotensi melahirkan konflik internal partai," katanya.

Dia menjelaskan, PBB sebagai reinkarnasi Masyumi sejatinya masih memiliki basis dukungan emosional karena Masyumi adalah partai Islam yang mampu meraih dukungan signifikan pada Pemilu 1955.

"Persoalannya, sejak berdiri hingga saat ini, PBB terus dilanda konflik internal, tidak pernah melakukan konsolidasi dan menata manajemen partai secara modern, sehingga dua kali pemilu gagal memenuhi persyaratan PT. Inilah yang harus dibenahi agar PBB mampu memiliki magnet dan daya juang," imbuhnya.

Menjawab serangan Yusril bahwa Prabowo tidak memiliki track record terhadap Islam, Rusmin menjelaskan, serangan Yusril itu justru pukulan balik bagi dirinya sendiri. Ibarat pepatah, senjata makan tuannya.

"Kalau logikanya di balik, apakah kiprah dan perjuangan Yusril terhadap umat Islam. Bagaimana integritas dan track record Yusril yang mengecam calon petahanan dengan kata-kata "Presiden Goblok" kemudian menjilat ludahnya sendiri," tegas dia.

Rusmin menyarankan, sebaiknya Yusril tidak perlu mengumbar dan melakukan black campaing terhadap Prabowo.

"Jika petahana jujur dan fairnes silakan bersaing secara sehat, buktikan saja. Pilkada DKI sudah membuktikan betapa kuatnya Ahok, akhirnya tumbang. Saya optimistis, petahana akan tumbang dan senasib dengan Ahok," katanya.

Menyinggung soal arah politik PBB dalam menghadapi dua kubu di Pilpres, Rusmin menjelaskan, sejak awal pembentukan koalisi, sikap politik PBB bermain di wilayah abu-abu dan masih bermanuver menentukan pilihan.

Artinya, sudah terlihat sepak terjang dan lobby-lobby PBB untuk mendapatkan pengakuan dari dua kubu, tapi tidak ada yang peduli dan meragukan keberadaan PBB.

"Yusril sendiri pernah mengatakan PBB tidak diajak bergabung ke koalisi Prabowo. Alasan itulah yang dipahami sehingga Yusril berselanjar dan bermanuver mencari gerbong politik agar eksistensi PBB tetap diakui, sehingga mengambil sikap pragmagtisme," tambahnya.

Sebagai reaksi dari sikap politik yang dimainkan Yusril, lanjut dia, barulah Dewan Syuro PBB menentukan pilihan politik mendung pasangan Prabowo-Sandi. Kemudian Yusril mengemas bahasa sebagai lawyer petahana.

"Inilah yang disebut politik last minute sebagai jawaban ambivalensi PBB selama ini agar tidak ditinggal dalam pusaran permainan politik Pilpres 2019," katanya.

Rusmin menyarankan PBB melakukan revitalisasi, reevaluasi dan rekonsolidasi internal partai dan tetap fokus agar bisa lolos PT Pileg 2019.

"Tanpa melakukan tiga hal tersebut bukan tidak mungkin PBB kembali menjadi partai gurem yang tidak diperhitungkan dalam konstelasi politik nasional. Jangan sampai manuver dan ambisi politik Yusril mengejar kekuasaan justru menggali kuburannya sendiri," ujarnya.

(Penulis: Dun/Editor: Mbayak Ginting)