Bruce Lee & Kang Emil
Senin, 27 Maret 2017 | 1 Tahun yang lalu

Oleh Dadan Supardan

(Wartawan Medikom)

 

Dijamin banyak yang kagum. Lantaran Bruce Lee adalah aktor bela diri legendaris asal Hong Kong. Master kungfu kelahiran 27 November 1940, ini memopulerkan film-film kungfu ke seluruh dunia. Ia meninggal pada 20 Juli 1973 di usia 32 tahun.

   Bruce Lee orang hebat. Di balik kecil postur tubuhnya, ada kekuatan fisik dan otot. Selain itu keberaniannya luar biasa. Makanya dia tak akan takut pada siapa pun. Nyalinya besar. Bruce Lee tak pernah gentar berhadapan dengan musuh berpostur besar dan banyak sekalipun.

   Ada satu hal yang menarik dari Sang Dragon. Yaitu ujarannya. Bruce Lee pernah berujar: “Aku tak pernah takut pada siapa pun. Aku tak takut dengan jurus apa pun, perguruan mana pun. Cuma satu yang aku takutkan. Aku takut sama orang yang berlatih 1 jurus kemudian dia terus berlatih berulang-ulang jurus tersebut selama 1.000 kali. Sebaliknya aku sama sekali tak takut pada orang yang berlatih 1.000 jurus tetapi dia cuma berlatih satu kali tiap-tiap jurusnya.”

   Lalu apa kaitannya dengan Kang Emil? Ridwal Kamil Wali Kota Bandung yang diusung Partai Gerindra tempo lalu.

   Dalam konteks pemilihan gubernur, substansi ujaran Bruce Lee takut pada orang yang berlatih 1 jurus selama 1.000 kali bermakna fokus, serius, konsekuen, total, berkesinambungan, tekun, dan keteguhan dalam melakukan suatu hal.

   Maksudnya, banyak orang yang berharap Kang Emil total membangun Bandung. Arti total di sini setidaknya sesuai undang-undang: diberikan kesempatan dua periode untuk menjabat kepala daerah.

   Sama halnya dengan Bruce Lee, Kang Emil orang hebat. Luar biasa. Selama tiga tahun Kang Emil memimpin, Kota Bandung sudah benyak meraih prestasi. Sebut saja pestasi terdekat adalah penghargaan dari Frontier Consulting Grup. Kota Bandung meraih penghargaan sekaligus, yakni sebagai Kota Terbaik dari kategori Pariwisata, Investasi, Infrastruktur, dan Ekonomi.

   Ombudsman juga menilai 90 persen SKPD di Kota Bandung berapor hijau. Ada banyak perubahan dalam hal pelayanan publik di Kota Bandung, lantaran sebelumnya sebagian besar memiliki rapor merah.

   Pun begitu dengan akuntabilitas kerja Kota Bandung berada di posisi ranking satu. Lalu Kota Cerdas, Kota Smart City juga sudah lekat dengan Kota Bandung. Selain itu, Piala Adipura diraih kembali secara berturut-turut dalam dua tahun terakhir. Padahal sudah 17 tahun anugerah lingkungan tingkat nasional itu “lenyap”.

   Belum lagi berdasarkan survei, 88,8 persen warga menyatakan kinerja Pemerintah dan DPRD Kota Bandung juga sesuai ekspektasi masyarakat. Jadi membangun Bandung bukan sekadar membuat taman. Lihat saja, hingga kini setidaknya ada 225 penghargaan diraih Kota Bandung.

   Oleh karena itu, bisa dibayangkan akan bagaimana Kota Bandung jadinya apabila dikomandoi oleh Kang Emil selama dua periode. Total, fokus, teguh, dan berkesinambungan. Setelah itu, dukungan penuh akan melimpah manakala Kang Emil melangkah ke Pilgub.

   Akan tetapi ini pilkada. Bukan kungfu. Jadi, tak perlu berlatih satu jurus sebanyak seribu kali. Yang namanya politik berlaku hukum: kesempatan tak akan datang dua kali. Syahwat politik tak mengenal kata menunggu. Begitu ada peluang ya disikat. Bahkan kesempatan akan dicari dan digali.

   Kang Emil juga bukan Bruce Lee. Ia berhak penuh menentukan sikap politiknya. Makanya, deklarasi pun digelar di Monumen Bandung Lautan Api, Lapangan Tegallega, Kota Bandung, Minggu (19/3/2017). Kang Emil menerima sokongan Partai NasDem menjadi kandidat calon gubernur (Cagub) Jabar 2018-2023.

   Ia pun menyadari sikap politiknya itu akan menuai pro dan kontra. Namun terkait syahwat politik ia menampik. Buktinya, ia tidak meninggalkan Bandung saat peluang mengikuti Pilgub DKI terbuka beberapa waktu lalu. Yang jelas kilah Kang Emil: “Tahun 2018, saya menggenapkan tugas sebagai wali kota selama 5 tahun. Selesai on time.”

   Sekali lagi, apapun sikap dan pilihannya menjadi hak penuh Kang Emil. Begitupun bagi sebagian masyarakat yang kontra adalah haknya juga. Makanya wajar saja jika ada yang menyatakan: “Saya akan jadi pembenci Akang sekarang', 'maaf saya unfollow', 'bye kang RK' dkk. ***

(Dadan Supardan)