Cendani Bukanlah Milea
Minggu, 10 Maret 2019 | 13 Hari yang lalu

Oleh Dadan Suparadan

(Wartawan Koran Medikom)

Sama-sama siswi SMA, namun Cendani bukanlah Milea. Ngga jauh beda dalam perkara cinta. Cendani juga merasakan debar-debar asmara masa remaja. Akan tetapi tidaklah untuk diumbar sesuka hati. Ada batas norma yang perlu ditampilkan agar gaya cinta “serampangan” remaja tidak dijadikan model para generasi muda.

Ada juga cinta yang lain pada diri Cendani. Siswi SMAN 1 Kota Sukabumi ini sangat akrab dan mencintai dunia baca dan tulis. Alhasil gadis bernama lengkap Cendani Pualam Koswarahemadiputri ini mampu menorehkan prestasi yang membanggakan dalam dunia literasi. Ia sukses menerbitkan dua karya buku terbarunya dalam bentuk novel dan kumpulan cerpen.

Selain dua karya yang telah manarik ratusan ribu pembaca tersebut, saat ini Cendani juga tengah menyusun empat buku baru. Dari keempat karya itu, dua sudah dicetak dengan judul: “Time Lapse Selang Waktu” dan “Psychopath”. Sebuah buku gaul yang banyak diminati para remaja.

Berbicara budaya baca bagi kalangan pelajar mengingatkan kita pada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat dipegang oleh Anies Baswedan. Saat menjabat Mendikbud, pria kelahiran 7 Mei 1969 yang kini menjadi Gubernur DKI Jakarta ini membuat kebijakan agar siswa membiasakan membaca. Setidaknya 15 menit sebelum memulai kegiatan belajar mengajar (KBM).

Kewajiban membaca merupakan salah satu langkah dalam menerapkan program Penumbuhan Budi Pekerti (PBP). Jenis buku yang dibaca bebas. Asalkan pantas dan disukai oleh siswa sesuai dengan tingkatannya.

Diharapkan, bisa menumbuhkembangkan potensi utuh para siswa dan budaya membaca di Indonesia bisa berkembang ke depannya. Sebab, ada fakta yang mengkhawatirkan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan data The United Nation of Education, Social, and Cultural (Unesco) Tahun 2012 menyebutkan, hanya 1:1000 jumlah warga masyarakat yang memiliki minat baca. Jadi, dari 1.000 orang penduduk Indonesia, hanya satu yang memiliki minat baca.

Bila dibandingkan dengan Negara lain sangat membentang perbedaannya. Di Amerika Serikat (AS), setiap warganya membaca minimal tujuh buku setahun. Masyarakat Jepang, dalam setahun sedikitnya membaca tiga hingga empat judul buku baru. Sementara, warga Malaysia, paling sedikit tiga orang membaca satu buku.

Kebijakan lain Anies yang telah meresmikan Taman Benyamin Sueb akhir 2018 itu, adalah program pemberian bantuan bagi penulis. Tujuannya, untuk memajukan dunia literasi atau sastra Indonesia. Dalam hal ini, para penulis diberikan semacam beasiswa agar produktif berkarya.

Bagi penulis juga akan diberi kemudahan untuk menerjemahkan karyanya ke dalam bahasa asing. Dengan demikian, sastra Indonesia makin dikenal dunia. Sebab, banyak buku Indonesia baik fiksi maupun nonfiksi, yang layak dibaca dunia.

Mudah-mudahan dengan adanya semangat para pejabat mengapresiasi dunia literasi dapat melahirkan Cendani Cendani baru di kalangan pelajar. ***

(Dadan Supardan)