DIGITALISASI SASTRA SUNDA
Sabtu, 04 Februari 2017 | 11 Bulan yang lalu

Oleh Tatang Sumarsono

Staf Khusus Bidang Budaya Rektor Unpas

 

ANGKA 53 ribu tentulah relatif. Bisa disebut sedikit, bisa pula dikatakan banyak. Itulah jumlah karangan yang ditulis dalam bahasa Sunda dalam kurun waktu setengah abad. Demikian dikatakan Dadan Sutisna, Ketua Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PP-SS), terkait dengan milad ke-50, akhir Maret lalu.

Jumlah di atas, meliputi karangan yang dimuat pada berbagai media massa, baik dalam bentuk prosa dan puisi, maupun esey yang mengupas tentang karya sastra Sunda. Ditulis oleh 1.635 pengarang laki-laki, dan 496 pengarang perempuan.

Kalaulah dibandingkan dengan sastra daerah lain di Nusantara, jumlah di atas boleh disebut banyak. Namun kalau diukur dengan populasi orang Sunda, yang konon jumlahnya di atas 30 juta, tentulah amat sedikit.

PP-SS berdiri tahun 1966, dimotori oleh para pengarang Sunda. Kegiatannya meliputi diskusi dan pelatihan, menyelenggarakan lomba mengarang fiksi, pemberian anugrah sastra, dan penerbitan buku. Untuk kurun waktu empat tahun terakhir ini, bertambah lagi dengan dokumentasi melalui proses digitalisasi.

Tentu hal itu merupakan upaya yang sangat berarti. Selama ini, karya sastra Sunda umumnya tersebar pada media massa yang umumnya berupa majalah. Upaya pendokumentasian kita selama ini masih minim, sehingga akan sulit kalau kita melacak keberadaan sebuah karya.

Digitalisasi yang dikerjakan PP-SS diunggah ke dunia maya, sehingga dengan mudah dapat diunduh. Meskipun demikian, upaya pencetakan dalam bentuk akan tetap dilakukan, paling tidak sebatas print-out. Yang sudah dikerjakan PP-SS baru satu jilid, yang itu pun tebalnya sekitar seribu halaman. Menurut keterangan Dadan, pekerjaan tersebut baru mencapai sepuluh persen dari data yang sudah terkumpul.

Titik awal pertumbuhan sastra Sunda sudah lebih dari lima abad lalu. Pada awalnya hanyalah berupa sastra lisan, di antaranya carita pantun dan dongeng. Lalu masuklah ke zaman sastra tulis, dan kini sastra digital.

Belum ada penelitian yang komprehensif, berapa persen pembaca karya sastra Sunda saat ini. Namun di sisi lain ada indikasi bahwa penggunaan bahasa Sunda sekarang sudah menurun, karena orang Sunda mulai banyak yang menggunakan bahasa Indonesia dalam kegiatan ber4komunikasinya, termasuk di lingkungan keluarga. Tapi di lain pihak, kini tumbuh pula upaya-upaya untuk memposisikan bahasa Sunda dalam komunikasi, di antaranya melalui perda di tingkat provinsi, serta tingkat kabupaten dan kota.

Meskipun penggunaan bahasa Sunda diindikasikan menurun, namun mereka yang terpanggil untuk menulis dalam bahasa Sunda, khususnya dalam bentuk fiksi, dari tahun ke tahun tidak pernah terhenti. Regenerasi pengarang Sunda tidak pernah terputus, dan mereka masih bisa bersilaturahmi atau bertukar pikiran dalam sebuah diskusi. Pengarang generasi Ajip Rosidi, misalnya, yang usianya hampir mencapai kepala delapan, sangat mungkin duduk bersama dengan Diki Namawi yang baru berumur 20 taunan.

Motivasi mereka dalam menekuni sastra Sunda tentulah bukan karena aspek finansial, melainkan lebih ditekankan pada kecintaan dan dedikasi. Menurut catatan Etti RS, Ketua PP-SS periode lalu, dari 496 pengarang Sunda wanita, hanya dua oranhg sajanyang betul-betul menekuni kepengarangan sebagai profesi, yaitu Pipiet Senja dan Sukaesih Sastrini. Meskipun umumnya pengarang Sunda hanya menulis sambilan, namun tidak berarti karya yang dilahirkannya asal-asalan, sebab banyak pula yang bernilai tinggi, yang diantaranya kini sudah mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa asing.

Meningkatnya kualitas karya sastra Sunda terkait pula dengan upaya pemberian anugrah sastra, misalnya yang dilakukan Yayasan Rancage, Paguyuban Pasundan, LBSS, PP-SS, dan majalah Mangle. Bahkan, pada perkembangan berikutnya, Rancage tidak hanya diberikan kepada pengarang Sunda saja, melainkan juga pengarang sastra daerah lainnya, di antaranya Jawa dan Bali.

Jika dilihat dari kurun waktu selama ini, puncak pertumbuhan sastra Sunda berlangsung antara 1950-an hingga 1970-an. Pada masa itu, banyak bermunculan media massa berbahasa Sunda, meskipun tidak menyatakan dirinya sebagai majalah sastra. Menurut penelitian Abdullah Mustappa yang banyak berkecimpung dalam dunia sastra Sunda, umumnya pengarang Sunda berasal dari kalangan guru. Hal tersebut tentu asa pengaruhnya dalam penyebaran majalah, karena yang namanya guru dalam tugas sehari-harinya terkait dengan sekolah.

Pernah dilontarkan Saini KM, budayawan yang juga guru besar di pendidikan seni, tema yang ditulis oleh pengarang Sunda umumnya hanya berkutat pada persoalan dapur, sumur, dan kasur. Namun, apa yang diluhat Saini tersebut lebih tekesan sebagai “empu” yang melihat dari awang-awang.

Pada kenyatannya tidaklah demikian, sebab pada perkembangan sastra Sunda babak berikutnya, khususnya setelah memasuki milenium ketiga, pergulatan sastrawan Sunda dalam memilih tema untuk karyanya sumakin intens. Demikian menurut pengamatan Cecep Burdansyah, Pimred Tribun Jabar yang kini terpilih menjadi Ketua PP-SS, setelah Dadan lengser.

Buktinya, pada kehidupan sastra Sunda terdapat Godi Suwarna yang sebagai sastrawan di garda depan mampu menawarkan corak lain. Dengan bermodalkan puisi Sunda, Godi mampu menembus jagat internasional. Dia sering membacakan puisi-puisi Sundanya di Eropa, Australia, dan Jepang.

Dalam pengamatan Dadan Sutisna, tidak terputusnya regenerasi pengarang Sunda disebabkan beberapa hal. Satu hal yang patut dicatat, beberapa perguruan tinggi di Jawa Barat ada yang membuka jurusan bahasa dan sastra Sunda, atau paling tidak menyelenggarakan mata kuliah budaya Sunda.

Berttitik tolak dari beberapa pemikiran di atas, sastra Sunda masih mampu melangkah optimis, serta memberikan sumbangsih terbaiknya bagi kehidupan budaya nasional Indonesia.

Semoga saja.***

 

 

 

(Tatang Sumarsono)