Digitalisasi Prostitusi
Senin, 19 November 2018 | 21 Hari yang lalu

Oleh Dadan Supardan

(Wartawan Medikom)

 

Tak akan lekang ditelan zaman. Begitulah bisnis prostitusi. Alih alih punah, prostitusi malah kian menjadi-jadi. Perkembangannya pun menakjubkan: beradaptasi mengikuti kondisi zaman. Maka tak mengherankan apabila pola digital dijalankan para pelaku prostitusi. Di era dunia maya kini, berseliweran praktik bisnis prostitusi versi online. Transaksi birahi diklik lewat media ponsel, laptop, ataupun komputer.

Kejadian di Kota Bogor, Rabu 17 Okteber 2018 malam merupakan salah satu contoh nyata. Saat itu Wali  Kota Bogor Bima Arya bersama tim gabungan menggrebek praktik mesum di Apartemen Bogor Valley. Alhasil, tim gabungan menangkap dua remaja berpakaian seksi berstatus pelajar dan menemukan satu box alat kotrasepsi serta narkoba.

Kepada Bima, seorang remaja seksi itu mengaku, tarif kencan yang dipasang Rp750 ribu untuk sekali main atau short time. Bima sendiri sudah lama menerima informasi keberadaan praktik prostitusi online di gedung apartemen tersebut.

Pesatnya perkembangan teknologi telah memudahkan banyak hal dalam kehidupan. Termasuk dalam melaksanakan transaksi bisnis prostitusi via online. Para pelaku lebih leluasa menjajakan diri. Dengan demikian akan mudah menjerat pelanggan. Lewat media sosial, penawaran bisa lebih luas dan menembus batas. Para pelanggan pun lebih mudah mengakses. Sementara para PSK tak perlu lagi menyebar di jalanan, panti pijat, atau rumah-rumah bordil.

  Oleh karena itu, tak sedikit dari para penjaja syahwat yang memilih bersolo karier dalam menjalankan profesinya. Alasanya lebih menguntungkan karena tidak perlu ada mucikari yang memotong pendapatan. Masalah tempat pun tak menjadi hambatan. Bisa aman dan nyaman dilakukan di apartemen atau di tempat kosan. Maka kian maraklah prostitusi terselubung melalui internet di tengah-tegah semangat penutupan lokalisasi.

  Untuk memberantasnya, tentu bukan perkara enteng. Tidak cukup hanya dengan memblokir akun prostitusi. Kalaupun diblokir, para pelaku akan dengan mudah dan cepat membuat akun baru.

  Namun walaupun sulit diberangus, bukan berarti bisnis esek-esek ini harus dibiarkan. Akan tetapi tetap pelu terus diupayakan pencegahan dan penanggulangannya. Setidaknya diminimalisasi. Pemberantasannya pun memerlukan keterlibatan banyak pihak. Bukan hanya tanggung jawab penegak hukum dan Kominfo. Melainkan seluruh stakeholder terkait.

  Salah satu caranya, mengedukasi masyarakat dengan memberikan pemahaman tentang adanya potensi bahaya di media sosial, seperti bisnis PSK. Selain itu, penanganan secara hukum mesti ditegakkan. Para penyedia jasa layanan PSK via online harus ditangkap dan diproses secara hukum. Diharapkan akan ada efek jera.

  Selain itu, yang paling mendasar mesti dibangun sejak dini pendidikan karakter, sikap mental, dan nilai-nilai keagamaan di dalam keluarga dan sekolah. Tujuannya agar kuat dan mampu bertahan tatkala diterpa cobaan masalah kemiskinan. Sebab, kemiskinan kerap dijadikan kambing hitam tatkala seseorang menerjuni lorong gelap dunia PSK. Bahkan sebaliknya, ia harus mampu bangkit dengan semangat dan kerja keras. Ketika berlebih pun akan jauh dari sikap, sifat, dan gaya hedonisme. Lantaran, dorongan ingin hidup bermewah-mewah dapat menjerumuskan perempuan pada dunia prostitusi. ***

(Dadan Supardan)