Era Industri 4.0: Bonus atau Beban Demografi
Selasa, 25 Desember 2018 | 2 Bulan yang lalu

Oleh Nur Asifin

(Mahasiswa PKn Fakulitas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, UPI Bandung)

 

Suatu hal yang pasti bahwa era baru kehidupan telah datang. Revolusi industri 4.0 telah hadir di tengah-tengah masyarakat tanpa kita bisa menolaknya. Hal ini telah diantisipasi oleh pemerintah dengan mencanangkan program Indonesia Emas 2045, dengan dasar bahwa Indonesia akan mengalami puncak bonus demografi di mana penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun) memiliki proporsi yang tinggi dalam evolusi kependudukan pada kurun waktu 2030-2035.

Namun, benarkah hal tersebut akan menjadi bonus demografi? Atau justru sebaliknya menjadi beban demografi, ketika penduduk usia produktif tersebut tidak memiliki kemampuan untuk bersaing di era industri 4.0. Hal ini dapat ditentukan oleh 3 aspek yaitu: kemampuan daya adaptasi, skill yang dimiliki, serta daya dukung pendidikan.

Daya adaptasi

Daya adaptasi, perubahan tak bisa kita tolak tetapi dapat kita sikapi. Hadirnya teknologi berbasis online tidak dapat kita hindari, hal ini menimbulkan reaksi yang beragam di masyarakat. Penolakan perubahan dari sistem konvensional menjadi sistem elektronik menjadi indikator lemahnya daya adaptasi dari masyarakat. Ketakutan akan adanya perubahan akan menjadi faktor penghambat majunya suatu bangsa. Sehingga perlu adanya pembekalan terhadap generasi milenial dalam menyikapi adanya sebuah perubahan. 

Generasi milenial yang nantinya menjadi penopang kehidupan bangsa perlu memiliki daya adaptasi yang tinggi. Apakah milenial menganggap era 4.0 sebagai tantangan atau justru sebaliknya sebagai rintangan? Pola pikir dalam menghadapi datangnya perubahan menjadi dasar yang penting dalam bersaing di era industri 4.0 nantinya. Kemampuan beradaptasi dengan teknologi menjadi kunci keberhasilan milenial untuk bertahan dalam persaingan yang sudah menembus batas global.

Skill untuk bersaing di era 4.0

Era industri 4.0 tidak hanya berbicara kemajuan teknologi, tetapi jauh dari itu telah mengubah kompetisi persaingan dengan mengaburkan batas-batas perbedaan. Siapa yang memiliki kompetensi akan mampu bertahan dan menguasai global. Perusahaan raksasa dunia seperti‘Google’ dan ‘Ernst and Young’ bahkan telah mengesampingkan gelar dan lulusan dengan lebih mempertimbangkan kemampuan untuk menerima karyawannya. Hal ini membuktikan bahwa generasi milenial Indonesia nantinya perlu memiliki kemampuan yang lebih untuk dapat bersaing menghadpi tuntutan yang ada.

Kemampuan yang perlu dimilki generasi milenial dalam menghadapi persaingan era 4.0 adalah dengan keterampilan literasi. Penguatan literasi yang dimaksudkan yaitu untuk meningkatkan keterampilan yang difokuskan pada 1) literasi digital, 2) literasi teknologi, 3) literasi manusia. Tiga keterampilan tersebut akan menjadi keterampilan yang sangat dibutuhkan di masa depan atau di era industri 4.0. Namun, tidak kalah penting dari keterampilan tersebut adalah kemampuan diri dalam menjaga identitas bangsa. Kemajuan bukan berarti mengubah segalanya. Identitas sebagai bangsa timur yang ramah serta bermoral adalah nilai jual dimiliki bangsa Indonesia. Maka dari itu penting adanya upaya penguatan identitas bangsa yang dilakukan pemerintah dalam mengimbangi kemajuan teknologi yang terjadi.

Daya dukung pendidikan

Meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) paling efektif  yaitu melalui pendidikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2017 justru menunjukkan pengangguran tertinggi disumbangkan oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yaitu sebesar 9,27%, Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 7,03%, Diploma III (D3) sebesar 6,35%, dan universitas 4,98% .

Penyebab tingginya kontribusi pendidikan kejuruan terhadap angka pengangguran adalah rendahnya kemampan soft skill yang dimiliki oleh lulusan SMK. Hal ini mengartikan bahwa hard skill saja tidak cukup untuk bersaing dalam dunia kerja. Kemampuan pendorong inilah yang sering dikesampingkan dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Pendidikan kita perlu mengubah pola pikir generasi milenial untuk dapat bersaing di era industri  4.0. Bahwa persaingan di era 4.0 tidak hanya berbicara kemampuan di bidang sains dan teknologi. Penguasaan ilmu sosial dan humaniora harus ditempatkan pada posisi sejajar berdampingan dengan ilmu saintek. Bahkan penguatan moral kebangsaan haruslah menjiwai dalam proses pelaksanan pembelajaran di sekolah. Dalam mencapai tujuan tersebut perlulah melakukan revitalisasi dunia pendidikan di Indonesia. Revitalisasi tersebut mencakup pada empat elemen yaitu: elemen sistem pembelajaran, elemen satuan pendidikan, elemen peserta didik, serta elemen pendidik dan tenaga kependidikan.

Lebih lanjut peran perguruan tinggi haruslah benar-benar menjadi tempat pencetak tenaga profesional dengan meningkatkan kualitas serta daya saing lulusannya. Dengan daya dukung maksimal dari sektor pendidikan diharapkan terciptanya generasi milenial yang mampu bersaing secara global dalam era saat ini.

“Menjadi tua bukan berarti menjadi dewasa", hal ini lah yang akan dihadapi oleh Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Bertambah jumlah penduduk adalah hal yang akan terjadi, tetapi bertambah kualitas penduduk adalah sebuah pilihan. Pilihan bersama yang menjadi tanggung jawab baik pihak pemerintah, swasta, maupun masyarakat untuk saling bersinergis dalam menghadapi tantangan era industri 4.0 dan menuju Indonesia Emas 2045.

Sumber rujukan:

Aoun, J.E. (2017). Robot-Proof: Higher Education In The Age Of Artificial Intelligence. US: MIT Press.

https://www.bappenas.go.id/files/5413/9148/4109/Proyeksi_Penduduk_Indonesia_2010-2035.pdf

Https://Www.Bps.Go.Id/

Orasi Ilmiah Professor bidang Ilmu Pendidikan Kejuruan. Era Industri 4.0: Tantangan Dan Peluang Perkembangan Pendidikan Kejuruan Indonesia. Universitas Negeri Makassar Tanggal 14 Maret 2018

 

(Nur Asifin)