Expansi Politikus Pusat Bertaruh Di Daerah
Jumat, 24 November 2017 | 22 Hari yang lalu

Oleh : Teguh Safari (Masyarakat Sumedang)

PILKADA serentak yang telah digelar sejak Desember 2015 lalu banyak memberikan catatan baru dalam politik dan demokrasi di Indonesia. Salah satunya, pilkada serentak ini jadi ajang pertaruhan para politikus pusat yang memilih untuk bertarung di daerah alias maju sebagai calon gubernur atau calon bupati dan wali kota.

Politikus pusat adalah mereka yang tengah nangkring di kursi empuk DPR RI atau DPD. Sementara politikus lokal yaitu mereka yang duduk di kursi DPRD I atau II. Fenomena politikus pusat untuk turun dan bertarung di daerah sebenarnya bukanlah fenomena baru.

Sebelumnya sudah dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama. Pria yang akrab dipanggil Ahok ini rela meninggalkan kursi DPR untuk bertarung di Pilkada DKI Jakarta 2012 lalu untuk dipasangkan dengan Joko Widodo (Jokowi). Ahok masuk ke DPR sebagai politikus Golkar. Dirinya maju bertarung di pilkada sebagai politikus Gerindra, sampai akhirnya kudu bernasib tragis karena lidah tak bertulangnya ( terkait soal surat Al Maidah)

Lalu ada Ganjar Pranowo, politikus PDIP yang kini menjadi gubernur Jawa Tengah. Sebelumnya pria beruban ini menjabat sebagai Ketua Komisi II DPR RI. Di kalangan Senayan, Ganjar terkenal sebagai politikus muda yang cerdas, pandai bergaul dan berintegritas. Pria murah senyum ini konsisten urusan partai. Dia maju sebagai politikus dari PDIP sebagai partai asalnya.

Kemudian ada juga juga Abdullah Azwar Anas, anggota DPR RI dari Fraksi PKB. Dia turun bertarung di Pilkada Kabupaten Banyuwangi tahun 2010 lalu dan menang. Serupa dengan Ahok, Anas juga maju menjadi Bupati Banyuwangi tidak melalui kendaraan partai yang membesarkan namanya.

Politikus pusat lain yang turun gunung untuk bertarung di pilkada adalah Olly Dondokambey. Politikus PDIP yang menjadi Ketua Komisi XI (Keuangan) DPR maju sebagai calon gubernur Sulawesi Utara. Dalam perebutan orang nomer satu Sulawesi Utara itu, Olly juga bersaing dengan politikus pusat lainnya, yakni Maya Rumantir. Mantan artis penyanyi yang sempat digosipkan dekat dengan Pangeran Cendana, Hutomo Mandala Putra ini adalah anggota DPD dari Sulawesi Utara, tempat di mana dia maju untuk jadi gubernur.

Lalu, kaitannya dengan bahasan penulis kali ini tentunya tak lepas dengan akan digelarnya Pilkada Kabupaten Sumedang 2018 mendatang. Sudah menjadi rahasia umum, Dony Ahmad Munir, yang saat ini menjadi anggota DPR RI dari fraksi PPP tengah getol kunjung sana, kunjung sini dalam upayanya mendapatkan dukungan agar bisa maju memperebutkan kursi empuk Sumedang satu dan menang. Meski banyak pihak yang menyayangkan atas niatan politikus yang dibesarkan dari keluarga NU ini, nyatanya tak menyurutkan langkahnya untuk tetap ikut bertarung pada Pilkada mendatang. Kita lihat saja, apakah langkah catur politiknya kali ini bisa men-sekakmat lawan-lawannya. Atau malah sebaliknya, pria berkumis ini sendiri yang akan disekak mat untuk ketiga kalinya.

 

Motif dan Pembuktian

Meski bukan hal baru politikus pusat bertarung di daerah. Namun pertarungan kali ini berbeda dengan sebelumnya. Pada pertarungan sebelumnya, para politikus pusat ketika kalah tidak kehilangan segalanya karena mereka masih bisa balik lagi ke pusat. Sedang, role of the game kali ini, taruhannya lebih besar. Jika kalah bertaruh, mereka tidak bisa lagi langsung kembali ke pusat. Berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) para anggota DPR, DPD yang bertarung di pilkada serentak harus melepaskan jabatannya. Jika kalah mereka harus berusaha lagi untuk bisa masuk ke Senayan.

Putusan MK ini dibuat bersamaan dengan putusannya soal pencabutan bagi keluarga petahana untuk maju. Namun ternyata pertaruhan lebih besar ini rupanya tidak membuat para politikus pusat itu ciut dan mengurungkan niatnya untuk bertarung di Pilkada. Sebut saja, Saan Mustopa pada waktu akan bertarung memperebutkan kursi Bupati Karawang beberapa waktu lalu, dengan tegas mengatakan bahwa dirinya rela dan siap melepaskan jabatannya di DPR (dalam sebuah wawancara TV nasional).

Patut diakui, para politikus pusat yang bertaruh di daerah sejauh ini menunjukkan kontribusi positif. Mereka rata-rata menang dan mampu melakukan perubahan. Ahok misalnya, membuat Jakarta jauh lebih transparan dan banyak melakukan terobosan. Ganjar pun demikian. Sebagai gubernur dia lebih dekat dengan warganya, mau turun tangan ke lapangan dan kini sedang fokus memperbaiki jalan di Jawa Tengah serta mendorong inisiatif warganya untuk memulai melakukan aksi demi perubahan lebih baik. 

Tidak ketinggalan pula dengan Abdullah Azwar Anas yang telah mulai mampu membuat Banyuwangi sebagai salah satu destinasi wisata andalan di Indonesia. Semua yang dilakukannya didasarkan pada upaya ke arah wisata yang menjaga alam. Lalu bagaimana dengan Dony jika ditakdirkan menahkodai kapal yang bernama Sumedang. Bisakah dia membawa kapal yang sebagian banyak pihak melihat akan karam ini selamat sampai tujuan serta memberikan rasa aman, nyaman kepada para penumpang yang ada didalamnya? (Baca : Masyarakat). Tentunya menarik kita tunggu...

Meski begitu, penulis senantiasa berharap, para politikus pusat yang turun bertarung ke daerah bisa memberikan perubahan dan kontribusi besar untuk kemajuan daerahnya masing-masing jika menang. Aamiin..!!!

(Teguh Safari)