Jangan Hanya Berburu Kursi Empuk
Selasa, 28 November 2017 | 18 Hari yang lalu

Oleh : Elang Maulana (Masyarakat Sumedang)

SEBANYAK 171 daerah provinsi dan kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerahnya (Pilkada) serentak pada tanggal 27 Juni 2018 mendatang. Satu diantara daerah tersebut adalah Kabupaten Sumedang.

Digadang-gadang pada pemilihan orang nomor satu Sumedang kali ini relatif berimbang. Tidak ada satu figur pun yang dianggap bakal sanggup menang dengan mudah.

Tak heran, kalau sebagian besar masyarakat termasuk aktifis tak ada yang berani memastikan siapa yang akan mampu menduduki kursi empuk Sumedang satu. Lain halnya dengan Pilkada sebelumnya, jauh-jauh hari hampir seluruh kalangan sudah bisa memastikan H Endang Sukandar (almarhum) bakal jadi bupati.

Tapi, bicara pemimpin, tentunya semua pihak menginginkan pimpinan yang kuat dan berkarakter, jujur serta adil. Bukan pemimpin yang hanya berburu kursi empuk semata.

Seperti diungkapkan Takamori, salah seorang negarawan terkemuka Jepang pada abad ke-19, pemimpin yang kuat tak bisa hanya bermodal kepintaran, karena jika itu yang menjadi dasar kepemimpinan, maka yang didapat hanyalah ”kekuasaan yang beralaskan uang”.

Selanjutnya Kazuo Inamori, salah satu guru manajemen terkemuka abad ini menunjukkan, kunci keberhasilan pemimpin sesungguhnya terletak pada attitude, karakter atau watak. Setelah watak, baru keberanian (courage) dan kemampuan (ability). Jika yang dicari adalah pemimpin yang berwatak (noble character), maka yang akan didapat lebih dari sekadar uang, yakni martabat.

Untuk itu penulis berharap pada pihak-pihak yang bakal mencalonkan diri pada Pilkada mendatang, jika terpilih, dapat menggunakan kekuasaan sesuai porsinya dan jangan menjadikan kekuasaan sebagai satu-satunya cara untuk  memimpin. Jika seorang pemimpin memiliki komitmen tinggi, maka akan sangat efektif karena bisa menjadi contoh bagi bawahannya.

Peru diinggat, perjalanan karir seseorang dalam sebuah kursi kekuasaan, hampir sama dengan tagline batas antar-kota yang selalu kita lihat ketika sedang melakukan perjalanan ke luar kota. Setiap memasuki kabupaten/kota/provinsi  lain selalu ada kata-kata “selamat datang dan selamat jalan”. Bagi seorang pemimpin yang haus jabatan kata tersebut menjadi kata yang menyakitkan, karena sejatinya orang yang sedang menduduki jabatan tersebut tidak mau pergi. Karena merasa kursi itu empuk untuk menunjang indek kebahagiaan hidupnya.

Mengutip pendapat Bambang WS, bahwa perjalanan kursi jabatan pimpinan adalah siklus hidup para pemimpin. Mau tidak mau harus dihadapi, satu datang dan satu pergi, dengan harapan yang menggantikannya membawa inspirasi baru, suasana baru, lebih energik, lebih muda,  lebih terdidik  dan lebih siap menghadapi tantangan di era perubahan yang sangat cepat.

Dalam menghadapi ritme perubahan yang tidak dapat diprediksi dalam era ekonomi global yang tidak pemaaf. Tak jarang kita disuguhi banyak pemimpin yang tidak mau atau tidak berani mengucapkan selamat jalan dan terima kasih.  Dia baru mau pergi jika ada kursi selamat datang  yang baru dan  lebih terhormat, lebih besar, lebih enak dan lebih tinggi.

Ironisnya lagi, mereka bukannya malu melainkan bangga ketika tidak ada satupun kader yang ia rasa bisa menggantikannya. Inilah sebenarnya sebagai tanda-tanda kegagalan seseorang dalam memimpin, karena tidak mampu melakukan program regenerasi. Seolah-olah berat menyerahkan tongkat estafet kepada pemimpin baru. Padahal manifestasi dari ucapan selamat jalan dan selamat datang merupakan bagian dari penyerahan tongkat estafet kaderisasi sebagai salah satu pilar kuat untuk menghasilkan organisasi yang kuat dan sehat.

Pemimpin yang terlatih terlihat dari keterampilan, disiplin, dan pengetahuan yang ada padanya bukan hanya untuk mengubah pendapatan tim/golongannya saja. Akan tetapi bagaimana supaya budaya bersemangat dan sukses dalam pribadi tiap-tiap masyarakat yang dipimpinnya dapat bertumbuh dan berkembang terus.

Para pemimpin yang terlatih memiliki visi yang jelas, keyakinan, dan nilai-nilai  yang membentang di hadapan mereka untuk modal mereka memimpin dan mempengaruhi. Gunakanlah kekuasaan sesuai porsinya dan jangan menjadikan kekuasaan sebagai satu-satunya cara untuk memimpin. Semoga para pemburu kursi kekuasaan sukses dalam memimpin dan sukses dalam suksesi kepemimpinan.

 

 

 

 

(Elang Maulana )