Jika Pertemuan Puncak Itu Terjadi
Jumat, 16 Februari 2018 | 8 Bulan yang lalu

            PENJAJAGAN sedang dilakukan.  Kim Yo Jong, adik dari pemimpin muda yang berkuasa di Korea Utara, menjadi utusan resmi Korea Utara untuk menyampaikan undangan kepada Presiden Korea Selatan Moon Jae-In agar bertandang ke Korea Utara.  Bukan tanpa alasan kalau Presiden Korea Utara Kim Jong Un mengutus adiknya, yang juga anggota Majelis Rakyat Tertinggi Korea Utara, untuk menghadiri Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang.  Rakyat Korea Selatan memandang Presiden Korea Utara itu sebagai seorang diktator yang bengis. Perawakannya juga pendek dan gemuk. Benar-benar seorang nmanusia yang tidak menarik. Kim Jong Un ingin menampilkan citra yang lain dari Korea Utara yang pembangkang itu, baik di mata rakyat Korea Selatan maupun masyarakat dunia pada umumnya. Kim Jong Un mengharapkan agar negerinya dinilai sebagai negeri yang lembut dan ramah, bukan negara yang sangar sebagaimana tergambar selama ini. Presiden Korea Utara itu juga mengharaapkan agar negerinya dinilai sebagai negara yang demokratis, dan bukan negara diktator sebagaimana dicitrakan selama ini oleh masyarat dunia.

            Berbeda dengan kakaknya yang tampilannya sungguh tidak menarik, selain digambarkan sebagai diktator yang bengis, Kim Yo Jong adalah seorang perempuan yang cantik, langsing dan modis. Ia seorang yang ramah, dan mudah menebar senyum. Kehadirannya di Korea Selatan mampu mengubah citra Korea Utara yang bengis dan kejam itu. Media massa Korea Selatan menggambarkan sosok Kim Yo Jong itu bak seorang dewi dari surga. Seluruh masyarakat Korea Selatan pun begitu terpengaruh oleh gambaran media tentang sosok dan penampilannya. Diplomasi kecantikan dan keramahan yang dibawa Kim Yo Jong sebagai utusan resmi Presiden Korea Utara, berhasil secara sempurna. Presiden Korea Selatan Moon Jae-In bersama istrinya bahkan tak sungkan mengajak adik perempuan Presiden Korea Utara itu untuk menonton pertunjukan konser. Dan Kim Yo Jong pun tampak menikmati pertunjukan itu.

            Undangan resmi yang diserahkan Kim Yo Jong kepada Moon Ja-In adalah undangan resmi dari Presiden Korea Utara Kim Jong Un kepada Presiden Korea Selatan Moon Jae-In untuk berkunjung ke Korea Utara, sebagai kunjungan balasan atas kunjungan Korea Utara menghadiri Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang. Dikesankan bahwa Presiden Korea Selatan  Moon Jae-In secara prinsip menerima undangan itu. Artinya, pada saat yang baik nanti, Presiden Korea Selatan akan berkunjung ke Korea Utara sebagai balasan atas kunjungan Korea Utara ke Korea Selatan. Masyarakat dunia tentu berharap agar Presiden Korea Selatan, atau setidak-tidaknya delegasi resmi dari Korea Selatan, bersedia datang ke Korea Utara. Peristiwa itu bisa menjadi peristiwa yang sangat berpengarauh terhadap sejarah dunia.

            Jika Presiden Korea Selatan Moon Jae-In jadi berkunjung dan berdialog dengan pemimpin yang berkuasa di Korea Utara, maka pertemuan itu dapatlah dikatakan sebagai Pertemuan Puncak yang ketiga antara kedua negara sejak mengalami perang dingin akibat perpecahan pada tahun 1950. Pada tahun 2000, Presiden Kim Jong Il bertemu dengan Presiden Kim Dae Yung di Pyong Yang. Pada tahun 2007, Kim Jong Il bertemu di Pyong Yang dengan pemimpin Korea Utara  Roh Moo-hyun. Kedua pertemuan antara kedua pemimpin negara itu tentu saja membicarakan kemungkinan reunifikasi antarkedua negara. Apabila pertemuan yang ketiga, yang penjajagannya kini sedang diintensifkan itu jadi berlangung, maka permusuhan antara kedua negara itu dapat dihentikan. Penduduk Korea Selatan dan penduduk Korea Utara berasal dari satu bangsa yang sama, yaitu bangsa Korea. Akibat perpecahan yang terjadi pada tahun 1950, penduduk dari satu bangsa itu terpaksa terpecah pula. Bangsa Korea yang sebelumnya satu, terpaksa terbelah menjadi dua, yaitu bangsa Korea Selatan dan Bangsa Korea Utara. Perpecahan itu mungkin telah menyebabkan tercerai-berainya pula sebuah keluarga yang semula utuh bersatu. Pertemuan puncak antara Korea Selatan dan Korea Utara akan menjadi awal dari terciptanya perdamaian di Semenanjung Korea.***

Dr. Yayat Hendayana, dosen progarm sarjana dan pascasarjana Unpas.

 

 

           

 

(YAYAT HENDAYANA)