KEWIRAUSAHAAN SEBAGAI ALTERNATIF MENUJU KESEJAHTERAAN BANGSA
Minggu, 08 April 2018 | 4 Bulan yang lalu

Oleh Kurjono

Dewasa ini jumlah pengangguran di Kota Bandung pada 2016 termasuk kategori tinggi yakni  mencapai 117.532 jiwa. Angka ini setara dengan 9,02 persen dari jumlah angkatan kerja sebanyak 1,19 juta, jumlah pengangguran ini tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, meskipun demikian para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah terus berupaya menciptakan lapangan kerja bagi semua masyarakat Kota Bandung. (Nuruddin, 2017). Meskipun demikian jumlah ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Sejak 2013 sampai 2016 jumlah pengangguran Kota Bandung berkisar 10,8 persen. Tahun 2017 turun menjadi 107.000 pengangguran atau sekitar 9,02 persen (Marsana,2017). Menurunkan jumlah pengangguran ini salah satunya adalah dengan menciptakan lapangan kerja terutama bagi lulusan SMK. Untuk mengisi lapangan kerja diperlukan kompetensi.  Oleh karena itu meningkatkan kualitas pembelajaran di SMK sangat penting dan mendesak, mengingat mereka adalah lulusan SMK yang siap bekerja sehingga akan mengurangi jumlah pengangguran yang pada gilirannya akan mengurangi permasalahan sosial lainnya. Lain halnya dengan lulusan SMA. Secara teoritik lulusan SMA harus melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, namun kenyataanya masyarakat masih banyak yang belum paham akademik untuk SMA. Akhirnya tak bisa dibantah lagi lulusan SMA pun menjadi  penyumbang terbesar pengangguran. Dengan demikian pengangguran dilihat dari sisi lulusan sekolah menengah tingkat atas yaitu SMA dan SMK

            Secara teoritik. Ward menyatakan bahwa (1988:1) yang menyatakan’ bahwa untuk perbaikan masyarakat diperlukan pendidikan’.  Meningkatkan sumber daya insani yang berkualitas dapat tercapai  pengembangan intelektualnya melalui  pendidikan serta penguasaan keterampilan yang memadai. Pendapat tersebut menunjukkan pentingnya peran pendidikan untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa.  Masyarakat  dewasa memandang pendidikan  hanya dipahami sebagai pendidikan formal yaitu yang diselenggarakan dalam konteks persekolahan, sehingga semuanya bertumpu pada guru.  Padahal konsep tripusat pendidikan sudah lama didengungkan.  Pendidikan informal yaitu lingkungan keluarga, pendidikan formal yaitu persekolahan dan pendidikan nonformal yang diselenggarakan di lingkungan masyarakat.  Masing-masing jenis pendidikan tersebut memiliki karakteristik tersendiri baik dilihat dari kurikulumnya, proses pembelajarannya maupun pendidiknya.  Selanjutnya apakah hasil dari pendidikan? Sebenarnya pendidikan adalah suatu proses produksi yang melibatkan masukan (peserta didik), pengelola (pendidik) serta aspek-aspek lainnya. Seringkali kita mendengar prosesi wisuda, dimana lulusan memperoleh ijasah.  Nah dalam ijasah itulah ada salah satu aspek hasil pendidikan yang diukur secara kuantitatif maupun kualitatif.  Kadang-kadang orang awam akan menyimpulkan bahwa semakin baik nilai yang diperoleh dalam ijasah akan semakin mudah memperoleh pekerjaan.  Inilah paham hasil belajar sebagai aspek kognitif.  Mereka lupa bahwa hasil belajar bukan hanya aspek kognitif yang diukur secara kuantitatif, namunada aspek afektif yang berhubunngan dengan sikap dan aspek konatif yang berhubungan dengan psikomotor atau perilaku.

            Secara kognitif kompetensi sebagai hasil belajar yang diukur secara kuantitatif masih banyak faktor yang mempengaruhinya, seperti akreditasi sekolah atau PT ybs, sistem evaluasi yang digunakan (PAP atau PAN), sehingga kita pun harus hati-hati karena kualifikasi seseorang yang lulus dari sekolah tersebut apakah sudah memenuhi standard yang dibutuhkan? Ujungnya adalah budaya mutu pendidikan sehingga ketika digunakan tes standard banyak peserta yang tidak lolos. Dewasa ini masyarakat pun memahami kualitas pendidikan persekolahan, sehingga banyak cara yang dilakukan seperti privat, bimbingan belajar atau pengayaan lainnya, dengan harapan mereka bisa lolos dalam tes. Akhirnya kualitas pembelajarn secara kognitif lambat laun mensejajarkan dengan standar yang dibutuhkan.

Timbul pertanyaan mengapa kualitas pendidikan sekarang pun sudah meningkat namun pengangguran masih tetap bahkan cenderung meningkat.  Hal ini perlu dijawab secara meta kognitif, apa yang salah dengan pendidikan? Ketika analisis meruncing kepada aspek hasil belajar secara kognitif, ternyata ada yang dilupakan, apakah itu? Yang dilupakan adalah nilai-nilai pembelajaran.  Melalui nilai-nilai pembelajaran seseorang akan terinternalisasi dalam sikap atau afektif.  Sikap adalah kecenderungan seseorang terhadap objek yang dihadapinya berkaitan dengan suka dan tidak suka, setuju dan tidak setuju. Semakin positif sikap seseorang maka semakin tinggi aspek perilaku.  Ternyata ada dua aspek yang perlu dicermati yaitu sikap terhadap mata pelajaran/disiplin yang ditekuni ilmu serta sikap moral.  Meningkatkan sikap terhadap disiplin ilmu atau mata pelajaran yang ditekuni maka akan melahirkan kecintaan untuk selalu memperdalam keilmuan yang dipelajari. Semakin tinggi kecintaan terhadap ilmu yang dipelajari maka semakin meningkat kompetensi yang dimiliki. Sedangkan dalam aspek kecintan terhadap moral akan berdampak kepada kemampuan seseorang dalam mengimplementasikan keilmuan di lapangan. Peserta didik akan dipandu oleh moral, etika untuk mengimplementasikan keilmuannya di masyarakat, seperti apakah itu? Yaitu etos kerja meliputi kedisiplinan, produktivitas, hemat, gotong royong, kerja keras, orientasi ke depan.

Meskipun sekarang di SMA  sudah ada pelajaran kewirausahaan (di SMK sudah lama berjalan) para pendidik harus memahami bahwa pelajaran tersebut bukan semata-mata aspek kognitif.  Guru atau pendidik harus menanamkan jiwa kewirausahan meskipun memang sulit secara metode, media atau kurikulum. Aspek pengetahuan dan keterampilan inilah dibangun oleh mata pelajaran yang diterima, artinya ada peran kurikulum.  Evaluasi pun dilakukan, termasuk dilaksanakannya UJIKOM. Khusus di SMK yang mempersiapkan untuk bekerja, pengetahuan dan keterampilan pun yang dibangun melalui teori dan praktik.  Oleh karena itu diharapkan kompetensi sebagai hasil belajar pun meningkat. Sebagaimana kita ketahui bahwa pengetahuan dan keterampilan adalah bekal berwirausaha.  Secara umum pengetahuan dan keterampilan dapat dikelompokkan dalam  tiga bidang yaitu bidang jasa, dagang dan manufaktur. Ketiga bidang usaha ini diajarkan di tingkat SMK.  Pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari peserta didik harus dicintai olehnya baik pendalaman materi maupun kemampuan mengimplementasikannya dalam kehidupan masyarakat. Kemampuan mengiplementasikan dalam kehidupan masyarakat inilah sebagai kemampuan paling sulit, karena tidak semua lulusan mampu mengiplementasikannya.  Karena itu pendidik harus menegaskan pada peserta didik agar senantiasa mampu menguasai pengetahuan dan ketarmpilan yang dipelajari serta mengimplentasikan dalam kehidupan di lapangan.

Banyak cara yang dilakukan untuk menanamkan jiwa berwirausaha pada peserta didik.  Di sekolah melalui mata pelajaran kewirausahaan, dapat juga dilakukan secara hiden curriculum, yaitu melalui nilai-nilai yang ada dalam mata pelajaran tersebut.  Melalui kurikulum 2013 cara tersebut sudah baik karena ada kompetensi inti KI 1, KI2, KI3 dan KI4.. Belajar adalah proses akal di mana orang mengembangkan kemampuan untuk bertindak secara berbeda, yang terdiri dari mengetahui, melakukan, dan memahami situasi. Melalui pembelajaran, orang membangun makna melalui pengalaman kontekstual dan menciptakan realitas baru,  kewirausahaan dan pembelajaran konstruktivistik pada dasarnya, proses perilaku dan sosial. Istilah pembelajaran kewirausahaan dengan demikian berarti belajar untuk mengenali dan bertindak atas peluang, dan berinteraksi sosial untuk memulai, mengatur dan mengelola usaha.  Melalui pembelajaran akan diperoleh pengetahuan dan keterampilan.

Pengetahuan dan keterampilan inilah sebagai langkah awal dalam berwirausaha, kemudian disusul dengan aspek mental. Pengetahuan dan keterampilan adalah modal dasar untuk sukses berwirausaha (Suryana 2006), tanpa pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki akan sangat sulit bidang usaha yang akan ditempuhnya. Sedangkan aspek mental sangat berkaitan dengan nilai-nilai kewirausahaan untuk tegar, tahan banting serta keyakinan diri sendiri agar dapat bertahan kuat ketika  menjadi seorang wirausahawan. Aspek kesiapan mental sangat dibutuhkan sebagai  perjuangan besar untuk meraih kesuksesan. Untuk mempersiapkan aspek mental diperlukan internalisasi nilai-nilai berwirausaha seperti  percaya pada kemampuan diri, berani mengambil resiko, berorientasi tugas, kemandirian, kepemimpinan, kreatif inovatif serta  selalu mencari peluang usaha. Aspek mental yang lain adalah pentingnya etos kerja.

  Melalui pengetahuan dan proses belajar yang terus menerus maka kompetensi seseorang pun akan meningkat. Setelah meningkatnya kompetensi, kemampuan pun harus ditingkatkan menjadi mandiri. Tingkat kemandirian peserta didik inilah akan mencapai tingkat tertinggi ketika  dia menjadi pimpinan.  Hal ini sesuai dengan pendapat Ciputra (dalam Direktorat Kelembagaan Dikti, 2009) menyatakan: ”Mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu jangan hanya diajarkan bagaimana bisa bekerja dengan baik, tetapi dipacu untuk bisa menjadi pemilik dari usaha-usaha sesuai latar belakang ilmu mereka.  Pernyataan tersebut menunjukkan pentingnya belajar untuk mandiri. Untuk bisa mandiri, maka pendidikan harus dijalankan dengan kreatif. Pendidikan kewirausahaan harusnya membekali mahasiswa untuk mandiri dan tidak berorientasi menjadi pencari kerja ketika yang bersangkutan menyelesaikan studinya. Hal ini melengkapi pernyataan  Bob Sadino (di Jakarta, 18 Nopember 2008) sebagai dampak dari sistem pendidikan Indonesia yang kebanyakan masih menggunakan prinsip belajar untuk tahu, bukan untuk melakukan sesuatu.

Sebagaimana kita ketahui bahwa sangat penting bagi pendidik untuk membelajarkan kreativitas kepada peserta didik.  Hal ini sesuai dengan definisi kewirausahaaan, bahwa Enterpreneurship adalah suatu proses kreativitas dan inovasi yang mempunyai resiko tinggi untuk menghasilkan nilai tambah bagi produk yang bermanfaat bagi masyarakat dan mendatangkan kemakmuran bagi wirausahawan. Kewirausahaan merupakan kemampuan melihat dan menilai peluang bisnis serta kemampuan mengoptimalkan sumberdaya dan mengambil tindakan dan risiko dalam rangka mesukseskan bisnisnya. Berdasar definisi ini kewirausahaan itu dapat dipelajari oleh setiap individu yang mempunyai keinginan, dan tidak hanya didominasi individu yang berbakat saja. Karena itu Kewirausahaan merupakan pilihan yang tepat bagi individu yang tertantang untuk menciptakan kerja, bukan mencari kerja.

Memperhatikan kondisi di atas, pembekalan dan penanaman jiwa entrepreneur pada mahasiswa diharapkan dapat memotivasi mahasiswa untuk melakukan kegiatan kewirausahaan. Pengalaman yang diperoleh di bangku kuliah ini diharapkan dapat dilanjutkan setelah lulus, sehingga muncullah wirausahawan baru yang berhasil menciptakan kerja, sekaligus menyerap tenaga kerja. Menurut Hendarwan: ”Pendidikan dan pelatihan kewirausahaan ini merupakan langkah serius dari pemerintah untuk mengatasi pengangguran terdidik yang terus bertambah jumlahnya”. Ciputra (dalam Direktorat Kelembagaan Dikti, 2009) menegaskan ”pendidikan kewirausahaan bisa memberi dampak yang baik bagi masa depan Indonesia, seperti yang terjadi di Singapura. Namun kuncinya, pendidikan harus dijalankan dengan kreatif”.

            Selanjutnya pembelajaran kewirausahaan dapat juga dilakukan pada sektor informal.  Dalam hal ini orang tua menjadi pendidik pertama dalam kehidupan anak. Selain mengajarkan etika, dalam keluar pun diajarkan keterampilan dasar.  Dan yang tidak kalah pentingnya adalah membelajarkan etos kerja. Menurut Nicolaou dan Shane, (2010:12) menyatakan bahwa niat untuk menjadi wirausaha dipindahkan ke dalam keluarga: "Kami menemukan bahwa niat untuk menjadi wiraswasta di masa depan dapat diwariskan.  Hasil penelitian Nicolaou menunjukan bahwa dalam keluarga terjadi proses transformasi pengetahuan dan keterampilan untuk berwirausaha. Aspek pengasuhan sejak kecil serta pembinaan etos kerja dalam keluarga juga tidak kalah penting sebagai faktor membangun motivasi berwirausaha.  Anak yang hidup dalam lingkungan pendidikan kelluarga yang ideal menjadi faktor penting dalam menumbuhkan jiwa wirausaha.  Demikian juga ketika dilengkapi dengan pendidikan sekolah dan pendidikan masyarakat maka bekal kewirausahaan bagi anak akan meningkat. Demikian juga dengan pengasuhan  baik dari guru mapun orang tua ketika membina sikap mentalnya sehingga motivasi berwirausaha pun meningkat. Peningkatan motivasi ini akan melengkapi kompetensi yang dimiliki peserta didik.  Harapannya mereka akan mampu bersaing dalam dunia kerja, terutama mampu menciptakan lapangan kerja. Dengan demikian dalam tataran kebangsaan motivasi berwirausaha akan menciptakan generasi pembangun negara. Kewirausahaan merupakan persoalan penting di dalam perekonomian suatu bangsa yang sedang membangun. Kemajuan atau kemuduran ekonomi suatu bangsa ditentukan oleh keberadaan dan peranan dari kelompok entrepreneur ini. Melalui kewirausahaan akan memunculkan banyak manfaat pada masyarakat. Menurut Alma (2008) manfaat tersebut antara lain menambah daya tampung tenaga kerja, sehingga dapat mengurangi pengangguran.

Mewujudkan generasi mandiri dengan berwirausaha memang tidak mudah. Banyak faktor psikologis yang membentuk sikap negatif masyarakat, sehingga mereka kurang berminat terhadap profesi wirausaha, antara lain sifat agresif, exspansif, bersaing, egois, tidak jujur, kikir, sumber penghasilan tidak stabil, kurang terhormat, pekerjaan rendah, dan sebagainya. Pandangan tersebut dianut sebagian banyak orang yang belum paham, sehingga mereka tidak tertarik. Mereka tidak menginginkan anak-anaknya menekuni bidang ini, sehingga berusaha mengalihkan perhatian anak untuk menjadi pegawai negeri, atau buruh. Apalagi bila anaknya sudah lulus perguruan tinggi. Mereka berkata: ”Untuk apa sekolah tinggi, jika hanya mau menjadi pedagang atau semacamnya?”. Landasan filosofis inilah yang menyebabkan banyak orang tidak termotivasi terjun ke dunia bisnis.

Namun pada sebagian lain memandang bahwa profesi wirausaha cukup menjanjikan  masa depan. Hal ini didorong oleh kondisi persaingan di antara pencari kerja yang semakin ketat, bahkan menjadi buruh pun terasa sulit. Lowongan pekerjaan mulai terasa sempit. Kelompok yang kedua ini memandang wirausahawan adalah seorang inovator, sebagai individu yang mempunyai naluri untuk melihat peluang-peluang, mempunyai semangat, kemampuan dan pikiran untuk menaklukan cara berpikir lamban dan malas. Banyak di antaranya yang lebih melihat profesi wirausaha sebagai individu yang mempunyai peluang besar dalam hal memberi manfaat pada orang lain. Lambannya menyikapi pentingnya kewirausahaan ini, menyebabkan kita tertinggal jauh dari negara tetangga lain yang sudah lebih dulu menerapkan kewirausahaan. Mereka dapat mengembangkan bisnis besar-besaran mulai dari industri hulu sampai ke industri hilir, meliputi usaha jasa, perbankan, perdagangan besar (grosir), perdagangan eceran besar (departement store, swalayan), eceran kecil (retail), eksportir, importir, dan berbagai bentuk usaha lainnya dalam berbagai jenis komoditi.

Dari berbagai uraian di atas maka perlu kiranya bagi semua yang terlibat dalam kewirausahaan membenahi diri, mempersiapkan generasi yang akan datang dengan penuh tantangan sehingga harapan-harapan generasi masa depan yang cerah dapat tercapai.  Beberapa langkah yang harus ditempuh diantaranya:

  • Bagi guru, peningkatan kualitas pembelajaran baik dari sisi keilmuan maupun aspek moral.Secara keilmuan bagi guru tingkatkanlah bidang pedagogik dan penguasaan keilmuan dan secara moral mampu menanamkan jiwa wirausaha kepada peserta didiknya. Hal ini dapat dilakukan melalui bimtek, up grade keilmuan, perlombaan karya ilmiah guru ddan sebagainya
  • Bagi para pemangku kepentingan baik pemerintah daerah dan pusat agar senantiasa menggalakan budaya wirausaha, terutama di tingkat persekolah melalui kegiatan-kegiatan pekan kreativitas siswa, perlombaan-perlombaan karya ilmiah serta produk-produk inovatif.

Kehidupan memang selalu ada tantangan, apalagi menghadapi masa depan yang menjanjikan.Diperlukan perjuangan. Memperjuangkan kesejahteraan bangsa harus dibangun oleh individu-individu yang kreatif dan inovatif.Melalui kewirausahaan, proses pembelajaran, penanaman jiwa wirausaha yang kreatif dan inovatif serta menanamkan motivasi berwirausaha secara bertahap diharapkan dapat mencapai tujuan bangsa yaitu masyarakat adil dan makmur.Semoga

Dr Kurjono, M.Pd adalah staf Pengajar di Program Studi Pendidikan Akuntansi pada Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis, Lektor kepala. Pakar Pendidikan Kewirausahaan serta peduli dalam meningkatkan kewirausahaan mahasiswa. Menjadi Staff ahli dalam Pekan Kreativitas Mahasiswa baik tingkat Prodi maupun Universitas. Sampai saat Ini penulis adalah Ketua Umum Aliansi Profesi Pendidik Akuntansi Indonesia (Aprodiksi)

(Kurjono)