Kontradiktif
Sabtu, 05 Mei 2018 | 4 Bulan yang lalu

Oleh Agil Nanggala

(Mahasiswa Departemen Pendidikan Kewarganegaraan FPIPS UPI)

 

 

Miris

Jagad dunia sosial politik Indonesia kembali dihebohkan dengan tertangkapnya kepala daerah di wilayah Jawa Barat, pada Rabu 11 April 2018 di kediamannya, karena kasus korupsi. Ini menambah catatan kelam penyelenggaraan pemerintahan republik Indonesia yang masih jauh dari kata bersih dan baik.  Berdalih ini hanya sebuah kriminalisasi, dan upaya menghancurkan harga diri. Pejabat pubik hanya sibuk membela urusannya sendiri, jika sudah berurusan dengan aparat penegak dalam negeri.

Sebuah keadaan yang jauh dari kata memuaskan, karena pejabat publik harusnya memberi suri tauladan yang baik, bukan memperlihatkan perilaku yang membuat sakit. Akhlak bangsa menjadi taruhan utama karena mereka mencontoh para pemimpinnya.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terkenal dengan kearifan lokalnya, terkenal dengan kebudayaan luhur bangsanya. Masihkan kita sanggup untuk mengkhianati bangsa kita. Perilaku korupsi rasanya sudah menjadi penyakit yang akut dalam diri pemangku kebijakan dalam negeri. Jenuh rasanya masyarakat disuguhkan oleh berita ini. Ironi. Alih-alih menunjukkan semangat perubahan negeri, mereka hanya menunjukkan pesimisme dalam menjaga amanah dan permintaan hati nurani.

Sifat manusia yang terkenal tidak puas, dan ingin memiliki segalanya, membuat idealisme mereka pada saat pertarungan memperebutkan jabatan hilang. Idiom penguasa yang “memperbesar haknya, memperkecil kewajibannya”, sejatinya bisa ditahan oleh good will atau niat baik mereka dalam mewujudkan kesejahteraan umum bagi masyarakat.

Malu jika terus menjadi benalu, penguasa negeri, harus melihat ke bawah, masih banyak masyarakat Indonesia yang hidupnya jauh dari kesejahteraan. Mereka yang sudah terpenuhi kebutuhannya oleh fasilitas yang diberikan oleh negeri, harusnya bersyukur, dan berniat memar dalam membahagiakan masyarakarnya. Inilah sifat pahlawan, pejabat yang baik adalah mereka yang mau menggunakan kekuasaannya, hanya demi kebahagiaan dan kesejahteraan masyarakatnya.

 

Kontradiktif

Tanggung jawab besar diemban oleh para pendidik bangsa. Mereka diamanahkan oleh konstitusi negeri, untuk mencetak kader bangsa yang bertakwa, cerdas, dan mandiri. Dengan keadaan yang seadanya, mereka terus berusaha memberikan optimisme bagi muridnya, akan kejayaan Indonesia suatu saat nanti. Sebuah pekerjaan mulia, namun sayangnya masih belum terperhatikan semuanya oleh penguasa negera.

Idiom “Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru”, memang menjadi semangat pendidik negeri untuk terus mengabdi, tanpa mengharapkan imbalan yang lebih. Mereka terus mendidik anak negeri, untuk melihat muridnya sukses kelak suatu saat. Inilah sifat terpuji, yang harus dicontoh oleh semua penguasa negeri.

Sebuah keadaan yang kontradiktif. Bukan untuk membandingkan, tetapi untuk bersama kita renungkan. Penguasa negeri sibuk memperkaya diri hingga korupsi, pendidik negeri sibuk mencerdaskan muridnya hingga menjadi harapan negeri. Betapa beratnya beban para pendidik negeri, mereka beri tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan keadaan yang seadanya. Inilah realita. Karena luasnya Indonesia, pemerataan pendidikan masih menjadi tanggung jawab bersama.

Bila kita rangkum menurut CNN Student Indonesia, ada beberapa permasalahan yang bisa teridentifikasi dalam dunia pendidikan kita, seperti rendahnya kualitas sarana fisik, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya prestasi siswa, rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan, rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan, dan mahalnya biaya pendidikan.

Permasalahan tersebut memang klasik, mengingat sudah 72 tahun Indonesia merdeka, pembangunan dari segala aspek kehidupan masih menjadi faktor utama, dan menjadikan negara Indonesia masih berpredikat sebagai negara berkembang. Dengan keadaan inilah guru harus bertahan dalam menjaga asanya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Mereka diharuskan untuk kreatif dan inovatif dalam mengatasi segala hambatan dalam kegiatan pembejaran, dan dituntut untuk bertahan hidup agar tidak hilang dari peradaban.

 

Bersinergi

Idealnya terjadi keterpaduan antara pemangku kebijakan dan pendidik negeri, bukan untuk kebaikan pribadi atau golongan, tetapi untuk kebaikan negeri. Indonesia memiliki impian yaitu terciptanya generasi Emas Indonesia Tahun 2045. Dengan rasionalisasi bonus demografi, maka keuntungan tersebut jika tidak diolah secara profesional, akan menjadi terbengkalai. Untuk itulah semangat gotong royong penting dalam usaha mewujudkan keuntungan tersebut.

Sebagai negara besar sudah saatnya Indonesia berinvestasi dengan generasi mudanya, yang saat ini masih menjadi peserta didik baik dalam sunia sekolah maupun perguruan tinggi. Dengan dibentuknya mereka menjadi insan yang cerdas dan pancasilais, sudah pasti akan terjadinya perubahan muka bangsa Indonesia yang baik ke depannya.

Pemangku kebijakan dan pendidik negeri adalah dua hal yang paling mereka soroti, karena dua sosok tersebut selalu menghiasi layar televisi, dan keseharian para pemuda dan pemudi negeri. Untuk itulah mereka harus memberikan contoh yang terbaik, dan memang arah mereka untuk mengabdi adalah demi kebaikan Indonesia sebagai ibu pertiwi. ***

(Agil Nanggala)