Mau Melanjutkan ke SMK
Senin, 30 April 2018 | 4 Bulan yang lalu

Oleh Kurjono

kurjono@upi.edu

 

Beberapa minggu yang lalu, pendidikan formal tingkat SMP telah menyelesaikan UNBK.  Ujian Nasional Berbasis Komputer inilah sebagai the last exam bagi siswa SMP yang selanjutnya mereka akan menjadi alumni sekolah tersebut. Kondisi ini tentu akan membuat orang tua sibuk dengan persiapan melanjutkan sekolah anaknya. Sibuk mencari pilihan sekolah lanjutan tingkat menengah atas dan juga sibuk mempersipkan dananya. Mau melanjutkan ke manakah anaknya, SMA atau kah ke SMK? Mau bekerja ataukah melanjutkan ke tingkat sarjana?

Sekadar urun pemikiran dalam mengatasi masalah tersebut, memang pemecahannya sangat kompleks.  Tidak sekadar bagi anak yang akan melanjutkan, tetapi juga bagi orang tua serta harapan anak setelah menyelesaikan sekolah tersebut. Masyarakat masih banyak yang belum memahami sekolah lanjutan ini, dalam persepsi mereka yang penting sekolah. Tidak pernah berpikir apakah outputnya dari sekolah tersebut.

            Untuk melanjutkan sekolah ke SMA, sekurang-kurangnya calon peserta didik harus memiliki pandangan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, biasanya ke perguruan tinggi. Karena lulusan  SMA lebih banyak dibekali dengan teori maka sebenarnya mereka tidak memiliki keahlian di bidang tertentu.  Pendidikan SMA sangat akademik, bukan vokasi seperti SMK.  Di jenjang yang lebih tinggi seiring dengan waktu, lanjutan mereka di perguruan tinggi mereka akan menemukan keilmuan yang tepat serta aksiologinya dalam kehidupan bermasyarakat, mereka bila lulus akan mendapat gelar sarjana.  Lain halnya siswa yang melanjutkan ke SMK.  Pendidikan SMK dikenal sebagai pendidikan vokasi karena lebih banyak aspek praktikum daripada teori pada bidang yang dipilihnya.  Kelak lulusan SMK harus memiliki kesiapan keahlian yang ditekuninya.  Namun demikian hal itu tidak cukup.  Siswa harus memiliki nilai-nilai kewirausahaan tinggi, sebagai bekal kelak bila mereka bekerja.  Oleh karena pihak sekolah terutama peran guru tidak hanya berlatih menerapkan keahlian dan keterampilan, namun juga membina sikap mental kelak bila lulusan tersebut bekerja.  Selama ini kesiapan kerja lulusan SMK hanya ditinjau dari aspek penguasaan pengetahuan keterampilan, aspek lainnya belum terindetifikasi.  Oleh karena itu peran guru dalam menginternalisasi nilai-nilai kewirausahaan dan pendidikan etos siswa sangat penting.

           Dalam dunia kerja, pembekalan pengetahuan dan keterampilan saja memang tidak cukup, perlu dukungan nilai-nilai kewirausahaan terutama kreativitas dan keinovasian serta etos kerja. Hal ini karena nilai-nilai kewirausahaan akan menjadi bagian penting bagi siswa dalam meniti kariernya kelak. Sering kita melihat anak yang baru masuk kerja, beberapa bulan tidak betah. Kemudian keluar dan mencari peluang lowongan pekerjaan lain. Hal ini menunjukkan sikap mental serta etos kerja yang rapuh sehingga berdampak pada lemahnya percaya diri, optimis menghadapi masa depan, kreativitas keinovasian dan kepemimpinan. Dukungan etos kerja akan melengkapi anak tidak hanya betah dalam bekerja namun akan membekali kariernya kelak serta aktualisasi dalam kepemimpinannya apabila memegang jabatan tertentu.

            Kondisi empirik saat ini berkaitan dengan lulusan SMK, yang justru sebagai penyumbang  pengangguran terbesar, dan sebaliknya lulusan SMA justru lebih banyak yang terserap memasuki dunia kerja (Hendarman, 2018). Hal ini sangat ironis dengan tujuan awal pendidikan sekolah di SMK.  Oleh karena itu perlu ada revitalisasi atau mengkaji kembali  pendidikan SMK agar meningkatkan kepercayaan sebagai lembaga sekolah yang mempersiapkan untuk bekerja.  Timbul pertanyaan mengapa hal ini bisa terjadi?  Bberapa hal yang harus dianalisis adalah: pertama bagi pemangku pendidikan yaitu SMK memegang peran penting selain transfromasi pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki siswa juga harus menata pembelajaran kewirausahaan jangan berorientasi kognitif tetapi harus menumbuhkan sikap dan motivasi berwirausaha. Motivasi berwirausaha bagi siswa SMK tidak hanya mendalami pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki tetapi siswa harus belajar mencari peluang untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki di masyarakat.  Oleh karena itu pembelajaran kewirausahaan harus diubah dari belajar berdagang  (selama ini siswa belajar dagang) ke berbagai usaha lain yang sesuai dengan pengetahuan dan keterampilannya.   Pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya selama belajar dapat diimplementasikan dalam bentuk usaha jasa, dagang atau manufaktur.  Selain itu lembaga sekolah SMK harus dan wajib melaksanakan link and macth melalui kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Aspek link and macth inilah yang sering terlupakan. Seolah-olah sekolah merasa bebas setelah siswa nya menjadi alumni.  Pemangku kepentingan pendidikan seperti sekolah dan Pemda harus menyadari bahwa sekolah ibarat proses produksi dan harus mampu memasarkan hasil produksinya. Semakin baik daya serap lulusan semakin baik pangsa pasar sekolah SMK tersebut. Oleh karena itu bagi para orang tua harus bertanya sejauhmana daya serap lulusan SMK tersebut memasuki dunia kerja. Sejauh mana peran ujikom terhadap daya serap lulusannya dalam bekerja. Standar ujikom merupakan standar kuantitatif sebagai hasil belajar siswa untuk bisa bersaing dengan yang lain berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilannya.

Kedua peran keluarga juga tidak kalah penting untuk menentukan pilihan sekolah.  Beberapa hal yang perlu dicermati dari lingkungan keluarga adalah minat anak dan kebiasaan sehari-hari. Sebenarnya orang tua yang paling mengetahui minat anaknya. Oleh karena itu sebaiknya diskusikan dengan baik dan matang apabila anak mau melanjutkan ke SMK. Ada rumpun rekayasa, keuangan dan bisnis, pertanian, pariwisata, dan lain-lain. Selanjutnya  orang tua harus  memotivasi anak yang memilih SMK agar mampu menerapkan keahliannya kelak, artinya motivasi anak didorong bukan hanya dari sekolah tetapi juga dari lingkungan keluarga. Salah satu cara misalnya seorang ayah sering berdiskusi dengan anaknya tentang pengetahuan dan keterampilan serta penerapannya. Selain memotivasi anak, orang tua juga harus memberi contoh teladan dengan semangat kerja atau etos kerja dalam keluarga. Jadikanlah semangat kerja dalam keluarga melalui contoh-contoh hidup hemat, produktif, kerja sama, toleransi, gotong royong, optimis. Contoh-contoh itu penting dalam keluarga, karena nanti anaknya  akan memilih figur orang tua dalam semangat kerja.

            Harapan dalam melanjutkan sekolah terutama ke SMK adalah anak tidak menganggur serta hidup sejahtera. Peran dari lingkungan keluarga dan sekolah tidak boleh dilupakan, memotivasi berwirausaha, menginternalisasi nilai-nilai kewirausahaan dan pendidikan etos kerja adalah langkah-langkah tepat agar lulusan benar-benar siap memasuki dunia kerja. Tudingan yang selama ini lulusan SMK sebagai penyumbang pengangguran dapat dibantah secara empirik.  Semoga ….

(Kurjono)