Memilih dengan Hati
Minggu, 11 Februari 2018 | 10 Bulan yang lalu

Oleh Dadan Supardan

(Wartawan Medikom)

Untuk urusan Pilkada Serentak 2018 kini, khususnya Pilgub Jabar, saya secara pribadi cenderung dingin. Tidak terlalu antusias turut larut dalam hirukpikuk dukung mendukung. Tak berhasrat untuk menerakan satu huruf pun pada status media sosial sebagai tanda dukungan kepada salah satu pasangan calon (paslon).

Akan tetapi, walaupun dengan diam, menikmati “perang” simpati antarpara pendukung di media sosial. Mungkin inilah salah satu tontotan menarik yang dimaksudkan dengan “wisata politik” oleh KPU Jawa Barat. Itu pun tak berkepanjangan. Cuma sekilas. Lantaran cepat jemu.

Dulu juga sama. Saya ngga mau repot menilik-nilik figur mana yang paling ideal. Baik untuk anggota legislatif, bupati, gubernur, maupun presiden. Saya cukup memercayakan kepada partai politik (parpol) yang diyakini bersih dan amanah. Siapa yang dicalonkan parpol tersebut, itulah yang dicoblos tanpa kegamangan secuil pun. Begitu besarnya kepercayaan pada proses penjaringan dan penetapan paslon yang dilakukan oleh parpol.

Namun belakangan terkoreksi. Sikap ngga mau repot bukan pilihan yang bagus. Sebab, tak sedikit kader parpol yang diyakini amanah tersebut malah menggasak uang rakyat. Ya, segasak-gasaknya. Dari level daerah hingga nasional. Pascamenggenggam kekuasaan, sikap rakus menghinggapi kepalanya. Otaknya cuma tertuju bagaimana mengoyak APBD ataupun APBN. Jadi, bisa dikatakan kecele memercayai parpol yang satu ini.

Tentu semua itu merupakan karakter individu si oknum kader parpol. Toh tidak semua kader bertabiat buruk saat mendapat kesempatan menduduki kursi kekuasaan. Hanya saja setidaknya untuk saat ini jurus menentukan pilihan berbasis parpol akan ditanggalkan.

Pilihan harus benar-benar jatuh ke figur yang merakyat. Begitulah kata hati menggema. Ihwal merakyat, sekilas saja terjawab. Bukankah semua calon juga sangat-sangat merakyat? Tengok saja sekarang. Mereka kerap mentandangi kaum marginal. Para pedagang dan pembeli di pasar yang kebingungan dengan “perangkap” harga disambangi. Kaum duafa ditengok dan disantuni.

Mereka juga akan sigap membantu saat ada warga tertimpa bencana. Ucapan mereka tak lepas dari menyejahterakan masyarakat. Bahkan pendidikan gratis lantang disuarakan. Beruntung ngga ada yang keceplosan akan juga menjernihkan Sungai Citarum.

Anehnya, apa yang dilakukan mereka tak sedikit pun menggugah rasa. Hati ini menghakimi: semua itu semu belaka. Apa yang diperbuat tak paralel dengan aura yang ditangkap. Itu kata hati saya. Dan sangat bisa berbeda dengan faktanya.

Kalau polah para paslon sudah tidak lagi menggugah, bagaimana akan melangkah? Tadinya, berharap banyak akan muncul paslon perorangan. Saya menunggu ada kekuatan publik yang mampu menampilkan figur alternatif.  Sifatnya hanya menunggu lantaran tidak memiliki kecakapan untuk menggerakkan.

Bisa dibayangkan cantiknya. Ada pasangan calon yang didengung-dengungkan dan dijunjung masyarakat. Padahal tak terbersit sedikit pun bagi si paslon untuk turut berkontestasi dalam pilkada serentak. Ia hadir karena dikehendaki rakyat secara alami. Rakyat tanpa dikomando siapapun dengan kesadaran penuh bergerak dengan sendirinya. Rakyat membangun kekuatan dengan swadaya karena melihat ada mutiara yang harus ditampilkan. Benar-benar figur kharismatik. Merakyat dalam arti yang sesungguhnya. Manakala jadi pemimpin akan total mengabdikan diri untuk kepentingan rakyat.

Tak perlu orang yang ahli dalam pembangunan infrastruktur. Tak mesti jago dalam bidang ekonomi. Tak harus piawai dari segi hukum, sosial dan juga politik. Akan tetapi mampu mensinergikan dan mengoptimalkan para ahli dari berbagai bidang menjadi satu kesatuan sebagai kekuatan penopang pembangunan.

Sayangnya, figur yang ditunggu tak kunjung datang menjelang waktu akhir pendaftaran. Artinya, harus memilih pasangan calon yang ada dengan hati pada saatnya di bilik suara nanti. Walaupun posisinya berada di luar hati, tetap harus dipilih salah satu pasangan calon.

Memilih dengan hati barangkali selemah-lemahnya cara dalam berdemokrasi. Mudah-mudahan hati ini tak terlalu salah jatuh. Dari sekian paslon yang ada satu paslon akan dicoblos nanti. Setidaknya berdasarkan keyakinan dalam diri: paslon yang paling tidak akan mendekati praktik korupsi. ***

(Dadan Supardan)